
Di dalam kamar mandi Ranty sedang duduk terdiam, dia hanya bisa memandangi tiga hasil tas pack yang baru saja selesai dia gunakan, antara senang, gembira, sedih, takut dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya itu. Perasaannya campur aduk, kegelisahan mulai dia rasakan kerena ketidak percayaan nya dengan ketiga hasil tas pack tersebut, hasil itu memperlihatkan tanda positif bahwa dirinya sedang hamil, Ranty menyadari kalau ada kesalahan karena menurut yang dia tahu kalau kehamilan dirinya kali ini pasti ada yang salah pada dirinya atau dari alat tas pack itu.
Sedangkan di luar Ayana dan ibu Tika yang sedang menunggu merasa khawatir karena Ranty yang berada di dalam kamar mandi tidak kunjung keluar. Ayana pun langsung berjalan menuju depan kamar mandi mencoba memanggil dan mengetuk pintu kamar mandi tetapi tidak ada tanggapan dari Ranty yang berbeda di dalam. Ibu Tika yang melihat dan mengetahui hal itu pun ikut khawatir dia menghampiri Ayana yang berada di depan kamar mandi dan ikut mencoba memanggil dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Tok... tok... tok...." Bunyi pintu di ketuk.
"Ran... Ranty... kamu gak apa-apa kan?." Panggil dan tanya Ayana.
Ibu Tika pun mencoba ikut mencoba memanggil menantunya tersebut yang berada di dalam kamar mandi.
"Ranty sayang kamu gak kenapa-napa kan? mama gak akan marah kalau memang hasilnya negatif, mama tidak memaksa mu kok." Ucap ibu Tika dari balik pintu kamar mandi.
Ranty yang berbeda di dalam kamar mandi pun mendengar ucapan mertua nya. Ada perasaan lega karena dia mendapatkan sebuah keluarga yang mau menerima nya walau saat ini dia dalam keadaan yang mengecewakan menurut pandangan dari dirinya. Setelah mendengar ucapan mertuanya itu Ranty pun menjawab pertanyaan dari ibu Tika.
"Ranty gak kenapa-napa kok ma, habis merapikan ini semua Ranty akan keluar." Ucap Ranty sambil menahan tangisannya.
Ibu Tika dan Ayana yang mendengar suara Ranty pun merasa lega. Tak lama Ranty pun keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya terlihat tegang, matanya terlihat sembab dan sedikit pucat. Ayana dan ibu Tika yang melihat langsung menghampirinya tanpa bertanya mereka berdua meminta Ranty untuk duduk sebelum memberitahukan tentang hasilnya tersebut.
"Apa pun hasilnya kita syukuri saja, mama dan papa gak menuntut mu untuk memilikinya, kalau pun itu ada dan tidak ada untuk mama dan papa tidak jadi masalah kamu tetap anak mama dan menantu mama." Ucap ibu Tika sambil mengusap kepalanya Ranty.
"Iya Ran, apa pun hasilnya kami semua akan mendukung mu. Farel pun pasti juga akan selalu mendukung mu." Ucap Ayana yang ikut menguatkan Ranty.
__ADS_1
Ranty menarik nafas panjang sebelum memberitahukan hal tesnya tersebut.
"Ini hasilnya ma, mbak." Ucap Ranty sambil menunjukkan tiga tas pack yang sama-sama menunjukkan hasil positif.
"Alhamdulillah." Ucap ibu Tika dan Ayana senang.
"Sebetulnya aku masih ragu dengan hasil tersebut ma, karena menurut dokter Dian dan hasil pemeriksaan beberapa dokter kandungan yang lain mengatakan kemungkinan untuk aku hamil saat ini masih terlalu cepat dan hal itu tidak mungkin. Walau aku bukan dokter kandungan aku sedikit paham dan mengerti masalah ini ma, mbak. Kandungan atau rahim ku masih belum sepenuhnya sembuh apa lagi ini masih empat bulan setelah kejadian itu. jujur aku takut akan mengecewakan kalian apa lagi mas Farel." Ucap Ranty sedih.
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu sayang? Mama gak suka kamu putus asa dan tidak meyakini ini semua. Itu semua prediksi dokter kalau Allah sudah mengatakan atau berkehendak bahwa saat ini kamu sedang hamil gimana? mama gak suka anak mama seperti ini." Ucap ibu Tika dengan tegas.
"Tapi ma...." Ucap Ranty.
Ayana pun langsung memotong Ranty saat ingin berbicara. "Gini saja, kalau kamu memang tidak yakin dengan hasil dari ketiga tes pack ini besok kamu harus menemui dokter Diana untuk memeriksakan dan memastikan apa benar kamu hamil atau tidak dan hasilnya itu akan pasti menjawab pertanyaan kita semua." Ucap Ayana.
**********
Hari pun sudah mulai larut, beberapa tamu pun mulai pulang seperti Rico dan Anton, mereka berdua langsung berpamitan kepada pak Hermawan.
"Kami pamit pulang dulu pak." Ucap Rico.
"Iya kalian pulang dulu saja kasih anak dan istri kalian. Aku minta tolong kamu handle kerjaan Farel dulu, sepertinya keadaan dia masih belum bisa untuk di ajak fokus bekerja." Ucap Pak Hermawan.
__ADS_1
"Baik pak." Jawab Rico.
"Nanti biar Billy yang menghubungi kalian kalau ada apa-apa." Ucap pak Hermawan kepada Rico dan Anton.
Setelah berpamitan mereka berdua beserta anak dan istrinya pun pulang.
Di dalam kamar, Farel yang dari tadi meminta tolong kakaknya untuk menanyakan keadaan Ranty pun terdiam langsung, karena di saat itu tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah Ranty ke dalam kamar. Billy yang mengetahui kalau Ranty masuk kedalam kamar, dia pun langsung berpamitan pergi kepada mereka berdua.
"Aku keluar dulu." Ucap Billy sambil berjalan keluar meninggalkan Farel di sedang berbaring.
Saat berjalan dan berpapasan dengan Ranty di depan pintu Billy pun menepuk pundak adik iparnya lalu berucap.
"Kamu jelaskan semua sama anak manja itu biar gak bikin repot semua orang." Ucap Billy yang langsung keluar kamar tanpa menunggu jawaban dari Ranty.
Setelah Billy keluar dari kamar, Ranty langsung berjalan menuju arah Farel dia pun memeriksa keadaan suaminya saat itu. Karena di rasa Farel sudah mulai membaik infus pun di lepas dari tangan Farel. Setelah selesai semua Ranty pun duduk tepat di sebelah Farel. Mereka berdua hanya diam tanpa berbicara, ada perasaan takut antara mereka, Farel takut akan bertanya dan Ranty takut untuk memberitahukan apa yang terjadi. Karena ketakutan dan kekalutan itu membuat mereka sama-sama saling memanggil.
"Sayang. Mas." Panggil Farel dan Ranty bersamaan.
Karena keadaan itu membuat mereka canggung dan sama-sama tersenyum serta tertawa yang membuat suasana yang awalnya tegang sedikit mencair. Farel pun tersenyum dan mengelus kepala Ranty, yang membuat Ranty semakin tenang.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA.