Itu Kamu

Itu Kamu
Eps 114...


__ADS_3

Farel sampai di kantor setelah berpamitan dengan Ranty, Farel pun langsung masuk ke dalam kantor dan berjalan menuju lift khusus. Seperti biasa Monik yang menunggu kedatangan Farel pun datang dengan membawakan kopi dan kali ini Monik membawahkan dua gelas kopi untuk Farel dan Rico, karena Rico sudah mulai curiga kepada dirinya


"Kak Farel, Eh maaf pak Farel selamat pagi. Ini seperti biasa kopi kesukaan pak Farel. Oh iya yang ini aku nitip untuk pak Rico sekalian." Ucap Monik sambil memberikan kantong yang berisi dua gelas kopi.


"Makasih ya." Ucap Farel sambil masuk ke dalam lift.


"Sama-sama pak, oh iya pak nanti jam makan siang akan aku bawakan kopi lagi ya." Ucap Monik kepada Farel.


Farel hanya menganggukkan kepalanya sebelum pintu lift tertutup.


Setelah pintu lift tertutup raut wajah Monik pun berubah. Desta yang berbeda tak jauh dari Monik pun menghampirinya.


"Apa semua sudah kamu siapkan?." Tanya Monik.


"Sudah siap semua dan sudah aku kirimkan ke email mu. Nik apa kamu masih berharap bisa bersama Farel?." Tanya Desta


"Aku gak berharap bersama dia lagi. Aku cuma gak suka apa yang aku inginkan menjadi milik orang lain kalau aku gak bisa memilikinya orang lain juga gak boleh memilikinya. Akan aku buat mereka berpisah dan akan aku racuni pikiran kak Farel dengan menuruti semua perkataan ku." Ucap Monik.


"Cukup Monik. Aku mohon aku gak ingin kamu seperti ini. Masih banyak yang menyukai mu dan menyayangi mu, seperti aku." Ucap Desta.


"Sudah cukup aku gak mau mendengarkan ucapan mu lagi." Ucap Monik lalu pergi meninggalkan Desta.


**********


Siang itu Ranty sudah berada di sebuah rumah makan yang menjual makanan kesukaan Farel, Ranty membeli beberapa lauk dan dua bungkus nasi yang akan dia makan bersama Farel. Setelah selesai membeli Ranty pun menuju kantor Farel untuk makan siang bersama.


Saat hendak masuk ke dalam lift Ranty mendengar percakapan beberapa anak magang yang membicarakan Monik dengan Farel, hal itu membuat Ranty mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift. Ranty berjalan mendekati anak-anak magang itu untuk mendengarkan pembicaraannya.


"Si Monik itu gila ya, dari tadi nempel terus sama pak Farel, padahal kerjaan dia gak ada hubungannya dengan kerjaan pak Farel itukan jauh beda." Ucap anak magang A.


"Iya ya, pak Farel kok juga kelihatan aneh kenapa nurut saja apa yang di ucapkan Monik, padahal setahu ku pak Farel itu bisa membedakan antara pekerjaan dengan urusan yang lain dan kata orang kantor pak Farel termasuk orang yang tegas dalam pekerjaannya, tetapi kenapa tiba-tiba bisa seperti itu terhadap Monik ya? apa jangan-jangan Monik pakek guna-guna." Ucap anak magang B.

__ADS_1


"Hus jangan ngomong sembarangan deh." Ucap anak magang A.


"Ada omongan juga kalau Monik dan pak Farel dulu ada hubungan dan mereka sempat akan bertunangan sebelum pak Farel bertemu dengan pelakor." Ucap anak magang B.


"Sudah ah, gak usah membicarakan urusan orang lain sebelum kita tahu itu benar atau tidak jangan sebarkan gosip yang gak benar juga, bisa-bisa kita gak akan mendapatkan nilai tetapi malah di usir dari kantor ini" Ucap anak magang A.


"Iya ya! ya sudah kita lanjut kerja saja yuk." Ucap anak magang B.


Setelah pembicaraan itu mereka pun langsung pergi, sedangkan Ranty hanya berdiri terdiam mendengar pembicaraan kedua anak magang itu. Perasaannya mulai gelisah dan tidak menentu, apa yang dia pikirkan terhadap Monik kalau Monik hanya berbohong adalah benar. Ranty pun dengan cepat menuju kantor Farel ingin memastikan apa yang baru saja dia dengar.


Setelah Ranty sampai ke lantai tujuh Ranty dengan cepat menuju ruangan Farel untuk menanyakan dan memastikannya. Saat itu Ranty juga berpapasan dengan Rico, Ranty hanya berjalan tanpa memperdulikan Rico yang sedang menyapanya, Ranty tetap berjalan menuju ruangan Farel dengan wajah terlihat penuh tanya. Rico pun langsung mengikutinya karena perasaannya tidak enak saat melihat Ranty seperti itu.


Di dalam ruangan kerja Farel, Monik dan Farel sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati kopi dan kue yang di bawa oleh Monik. Farel sangat menikmati kopi itu, perlahan-lahan Monik berbicara kepada Farel untuk mempengaruhi Farel agar menuruti ucapannya. Farel yang mulai terpengaruh dengan itu hanya menganggukkan kepalanya, hal itu yang membuat Monik senang karena rencana yang dia buat perlahan-lahan berhasil.


"Gak sia-sia aku menambah dosis obatnya. Hari ini kamu bakalan marah besar sama istri mu dan akan aku buat kalian menderita. Ha... ha...ha...." Ucap dan tawa dalam hati Monik.


Monik mulai menggeser duduknya mendekati Farel, saat itu Farel yang masih bisa mengontrol pikirannya menyadarinya, Farel pun menjauh dari Monik untuk menghindarinya. Monik pun mulai mencari cara dia mengeluarkan hpnya untuk memberitahukan beberapa foto yang sudah dia siapkan.


"Kak aku mau kasih tahu kakak sesuatu hal yang bagus deh sini lihat." Ucap Monik sambil memperlihatkan Hpnya.


"Beraninya kamu." Ucap Monik.


"Kenapa gak berani kalau aku melihat suami ku berbuat hal yang memalukan di dalam ruang kerjanya, aku sudah menduga kalau kamu hanya berpura-pura move on dan gak benar-benar berubah, sekarang aku tanya apa yang kamu berikan kepada mas Farel hingga dia seperti ini." Ucap Ranty.


"Ranty sudah ini bukan seperti apa yang kamu lihat aku bisa jelaskan kok." Ucap Farel gugup dan bingung.


Ranty tak menghiraukan Farel, dia tetap berjalan mendekati Ranty dan bertanya lagi. "Aku tanya sekali lagi apa yang kamu berikan kepada suami ku." Ucap Ranty pelan.


"Itu rahasia, yang jelas sesuatu yang gak bisa kamu berikan untuk kak Farel." Bisik Monik.


Ranty pun semakin emosi, hal itu membuat Monik semakin senang. Saat Ranty hendak memegang tangan Monik tiba-tiba Monik berpura-pura terjatuh agar mendapatkan simpati dari Farel dan Farel akan menyalakan istrinya.

__ADS_1


"Aduh dok sakit kan? memang apa salah ku? dokter Ranty menapar dan mendorong ku." Ucap Monik berpura-pura kesakitan dan sedikit.


"Kamu ya!". Ucap Ranty yang gak menyangka melihat tingkah Monik.


"Cukup Nik, aku sudah gak bisa bersabar lagi dengan kebohongan mu itu. Sekali lagi aku tanya apa yang kamu berikan kepada mas Farel." Ucap Ranty sambil memegang lengan Monik.


Monik yang berpura-pura menunjukkan wajah kesakitan dan sedih agar terlihat seperti orang yang teraniaya di hadapan Farel akhirnya mulai berbuah hasil. Farel yang dari tadi Dian dan kebingungan akhirnya mulai bertindak.


"Cukup." Teriak Farel.


Farel berjalan menghampiri mereka berdua, dia langsung membantu Monik yang terjatuh untuk berdiri dan menjauhkan dia dari Ranty agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


"Kamu kenapa hari ini? semuanya bisa kita bicarakan baik-baik kan?." Tanya Farel kepada Ranty.


"Kenapa mas lebih membela Monik dari pada aku istri mu." Ucap Ranty.


"Sudah cukup aku gak mau mendengarkan kamu berbicara." Ucap Farel.


"Kamu gak apa Nik?." Tanya Farel kepada Monik.


"Gak apa kak tapi kaki ku kayaknya terkilir deh." Ucap Monik manja.


"Aku antar kamu ke bawah." Ucap Farel berjalan meninggalkan ruangan untuk mengantarkan Monik.


"Tunggu mas, kita belum selesai." Ucap Ranty.


"Aku sudah bilang kan aku gak mau mendengarkan penjelasan mu untuk saat ini."


"Jadi kamu lebih memilih mengantarkan Monik dari pada mendengarkan penjelasan ku." Ucap Ranty pelan menahan tangisnya.


Farel tidak menghiraukan ucapan Ranty lalu pergi meninggalkan Ranty yang terdiam di ruang kerjanya.

__ADS_1


TERIMA KASIH


TUNGGU KELANJUTANNYA


__ADS_2