
Saat di depan pintu lift Farel tiba-tiba teringat kalau kunci mobilnya tertinggal di atas meja kerjanya.
"Sayang, kita kembali ke ruangan ku dulu yuk." Ucap Farel sambil mencari kunci di kantong jas dan celananya.
"Memang ada apa mas? ada yang ketinggalan ya?." Tanya Ranty.
"Iya, sepertinya kunci mobil ketinggalan di meja deh." Jawab Farel.
"Aku tunggu di sini saja mas ambil sendiri ya, malas jalan balik ke sana." Jawab Ranty.
"Ya sudah kami tunggu di sini saja jangan kemana-mana ingat kalau ada apa-apa langsung teriak panggil aku." Ucap Farel.
"Siap pak bos." Jawab Ranty.
Farel pun langsung berlari meninggalkan Ranty untuk mengambil kunci mobilnya yang tertinggal. Kesempatan itu lah yang langsung di manfaatkan oleh Monik dan saat itu keadaan pun mendukung sangat sepi. Monik pun berjalan hampir Ranty menarik tangannya menuju ruangan yang di mana tempat tangga darurat berada. Ranty pun terkejut ada orang yang menarik tangannya dengan kencang dan membawanya ke ruangan itu.
"Apa yang kamu lakukan?." Tanya Ranty sambil melepas tangannya tanpa melihat wajah orang yang menarik.
"Yang jelas aku ingin melenyapkan mu." Jawab Monik.
Ranty terkejut mendengar suara itu, dia tidak menyangka kalau Monik berada di kantor. Ranty berusaha tenang agar Monik tidak mengetahui bahwa dirinya tegang saat itu.
"Kamu!." Ucap Ranty terkejut.
__ADS_1
"Iya ini aku. Ha... ha... ha...."
"Lama gak bertemu, sekarang aku gak akan main-main lagi, akan aku akhiri permainan semua." Ucap Monik.
Monik perlahan mendekati Ranty sambil mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam sakunya. Ranty yang melihat berusaha tenang agar bisa menghindari apabila Monik menggunakan pisau itu.
"Monik, jangan lakukan ini, ingat konsekuensi dan akibatnya kalau kamu melakukan hal ini." Ucap Ranty.
"Aku sudah gak peduli dengan konsekuensi dan akibatnya paling juga aku di penjara. Yang penting aku bisa puas melihat kamu atau Farel menderita. Ha... ha... ha...." Ucap Monik.
"Benar-benar sudah sakit ni anak." Batin Ranty.
Ranty tetap berhati-hati dia juga menjaga jarak dengan Monik. Tiba-tiba monik dengan cepat berjalan maju menghampiri Ranty dengan membawa pisau untuk menusukkannya. Tapi dengan cepat Ranty dapat menangkis pisau itu dengan tas yang di bawa olehnya, sehingga yang terkena tusukan Monik adalah tas miliknya. Monik pun tidak menyerah dia mencoba menyerang Ranty lagi tetapi karena monik berdiri tepat di pinggir anak tangga membuat keseimbangan berdirinya oleng yang membuatnya terjatuh, saat akan terjatuh Monik menarik tangan Ranty yang berada di depannya yang membuat mereka berdua terjatuh bersama.
Farel pun kembali ke tempat istrinya yang sedang menunggu dirinya, saat dia kembali Farel tidak melihat keberadaan Ranty, Farel pun mulai cemas, dia mencari di sekitar tempat itu tetapi tidak menemukannya. Tiba-tiba Farel mendengarkan suara teriakan dan sesuatu terjatuh. Farel pun mencari sumber suara itu, Farel pun langsung menuju ruangan yang tak jauh dari lift, Farel langsung masuk dan melihat Ranty dan Monik yang sama-sama tergeletak di lantai. Farel pun dengan cepat menghampiri istrinya.
"Sayang kamu gak apa?." Tanya Farel cemas.
"Aku gak apa mas, coba kamu lihat Monik seperti nya dia tertusuk pisau yang dia bawa sendiri." Ucap Ranty yang masih bisa menghawatirkan orang lain.
"Sudah jangan pedulikan dia, sekarang apa yang kami rasa sakit?." Tanya Farel khawatir.
"Perut ku." Jawab Ranty yang dari tadi memegang perutnya.
__ADS_1
"Sudah kita langsung ke rumah sakit sekarang saja, kamu gak usah pedulikan dia, nanti akan aku suruh orang untuk mengurusnya." Ucap Farel langsung menggendong Ranty meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan monik.
Farel keluar dari ruang itu dengan cepat dan saat dia keluar ada beberapa pegawai yang sedang menunggu lift dan Farel pun langsung menyuruh pegawai-pegawai tersebut untuk menolong Monik. Karena pintu lift sudah terbuka Farel pun langsung masuk ke dalam.
"Apa masih sakit sayang?." Tanya Farel dengan wajah yang penuh air matanya.
"Iya mas." Ucap Ranty sambil memeluk erat di gendongan Farel.
Farel melihat bayangan mereka di pintu lift. Farel melihat ada yang noda merah di dress yang di pakai oleh Ranty, Farel melihat tangannya juga yang berlumuran darah saat mengendong. Hal itu yang membuat nya terkejut, Farel berusaha tetap tenang agar Ranty juga tidak ikut merasa panik.
"Sayang kamu masih bisa bertahan?." Tanya Farel.
Ranty menjawabnya dengan kedipan mata dan anggukan kepala karena rasa sakit di perutnya mulai terasa sangat sakit membuatnya sulit berkata-kata.
Setelah pintu lift terbuka Farel pun buru-buru lari keluar. Banyak orang yang melihat kejadian saat Farel mengendong istri, beberapa orang dan pegawai banyak yang bertanya apa yang terjadi tetapi semua pertanyaan itu tidak di hiraukan oleh Farel. Saat Farel akan menuju resepsionis dan meminta untuk dipanggilkan supir kantor dan disiapkan mobil. ,Untung nya saat itu Farel melihat mobil Billy yang baru saja datang, Farel pun segera berlari sambil menggendong Ranty menuju mobil Billy yang sedang berhenti tepat di depan lobi kantor. Billy dan Anton yang baru saja keluar dari dalam mobil terkejut melihat Farel yang menggendong Ranty dalam keadaan seperti itu masuk ke dalam mobil.
"Apa yang terjadi Rel?." Tanya Billy khawatir.
"Nanti saja aku menjelaskannya mas, sekarang aku pinjam mobil mu dulu untuk ke rumah sakit, oh iya Anton tolong kamu ke lantai tujuh di ruang tangga darurat Monik ada di sana." Ucap Farel masuk ke dalam mobil.
Setelah masuk ke dalam mobil Farel langsung menyuruh supir untuk melaju mobil itu ke rumah sakit milik keluarga.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA.