Itu Kamu

Itu Kamu
TEKAD!


__ADS_3


Sampai pagi mataku tak kunjung terpejam.


Kubasuh wajahku, lalu kutatap bayangan diriku dalam cermin.


Pikiranku kosong, beribu pertanyaan berada di kepalaku.


Sangat terasa dalam benakku kemelut ini menghantui.


Disatu sisi aku mengkhawatirkan orang tuaku dan disisi lainnya aku memikirkan Ria.


Malas rasanya berangkat sekolah hari ini, mungkin jika tidak mengejar nilai aku sudah mengurung diri dikamar.


Kuraih ranselku dan merapikan seragamku.


Menyiap kan hati kalau-kalau harus menyaksikan lagi hal buruk seperti semalam.


Saat berjalan menuju meja makan jantungku berdebar sangat cepat.


Berdoa dalam hati agar semua baik-baik saja.


Ternyata ayah sudah berada di meja makan lengkap dengan koran di tangannya , sedangkan bunda membantu si mbok menata meja makan.


Melihat kehadiranku bunda langsung meberikan morning kiss padaku.


Bunda terlihat biasa saja, ayah pun sama.


Aku sedikit bersyukur atas itu, karna jika tingkah laku kedua orangtua ku berbeda ( tidak seperti biasanya) aku tak tahu harus mengambil tindakan seperti apa.


Setelah memakan suapan terakhir ku, ku tatap ayahku yang tak menyentuh makanannya sama sekali.


Hanya menikmati kopi dan rokoknya.


Aku menebak ayah hari ini akan berangkat bekerja lebih awal, karna beliau sudah lengkap dengan setelannya.


Sekilas aku bisa melihat wajah ayah yang menatap bunda dengan sendu dibalik korannya .


Tak butuh waktu lama bagi ayah untuk menyadari tatapanku , dilipatnya koran yang sedari tadi dibacanya kemudian menghampiriku hanya untuk menepuk bahuku.


Berlalu masuk ke dalam kamar nya.


Setelah berpamitan kepada orang rumah ,aku pergi.


Namun kusempatkan melirik ke arah Bunda yang tergesa-gesa menyusul ayah ke kamar.


Tak mengantarku sampai depan pintu seperti hari-hari sebelumnya.


Dari situ aku yakin ayah dan bunda menyembunyikan sesuatu dariku.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


"Viren... Vi, Viren... " seru Dito


"Apaan? " sautku


" Mikirin apaan sih? sampe mendadak tunga rungu" ejeknya


Kubalas dengan tinjuan di lengannya, Dito pura-pura kesakitan. Bercanda seperti ini memang sudah biasa bagi kami.

__ADS_1


" Jangan keras-keras sakit bang" kelakar nya


"Masuk kelas duluan ya, nanti pulang skul tak traktir mi ayam " kataku padanya.


Tentunya Dito langsung sumringah mendegar hal yang gratisan.


Sampai dikelas Bram langsung menyambutku.


Aku dan Bram teman satu kelas, sedangkan Satya dan Dito dikelas yang berbeda.


" Catatan Fisika yang tadi dong, pinjam catatan dong" pinta Bram


"Aku aja ngga nyatet haha" jawabku


" Pinjam ketua kelas aja ntar disalin bareng yuh, Vi? " sarannya


Langsung kuhampiri Putri, ketua kelas kami.


Dan karna Putri baik hati , ia tak senggan meminjamkan catatannya pada anak badung seperti kami.


Alhasil sepulang sekolah nanti aku harus menyalin catatan tersebut bersama Bram dirumahnya.


"Ngemi ayam dulu baru kerumahmu, Bram.


Aku te rlanjur janjiin si kibo makan mi ayam "


(kibo adalah panggilan lain dari Dito)


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Suasana dirumah memang sepi, tapi kali ini terasa lebih sepi dari sebelumnya.


Membenamkan wajahku cukup lama dalam bantal.


Cerita Bram tentang Ria tadi membuatku cukup lega karna bukan hanya aku yang diabaikan nya, seminggu ini pun Ria mengabaikan Bram juga.


Tapi pembicaraan tersebut juga mengingat kanku akan suara lelaki yang mengangkat ponsel Ria di awal dini hari kemarin .


Siapa lelaki itu?


Apa Ria seorang pemain handal?


Dan berpikir buruk lainnya tentang Ria.


Namun otakku seperti menolak semua pikiran burukku tentangnya, dan menepis jauh-jauh hal itu.


Ku buka ponselku, ada notifikasi pesan .


Irina


hari ini 15:35


Sayang, aku kerumah ya. Aku barusan jalan sama temen, terus lihat brownis kesukaan kamu, jadi aku beliin, makanan manis kan bikin semangat belajar loh. Boleh kan kerumah?


Kulihat jam, 16:14


Pesan itu sudah hampir sejam lalu.


Membaca pesan isi perhatian padaku, rasa iba akan Irina membuat aku semakin terbebani.

__ADS_1


Aku memutuskan menelopon Irina dan mengajaknya bertemu .


Ku bulatkan tekadku untuk mengakhiri hubungan tanpa cinta ini dengannya.


Aku tak mau menyakitinya terlalu dalam.


Kami bertemu di taman dekat Rumah Irina.


Aku tak mau merepotkannya untuk jauh-jauh datang kerumahku, dan aku tak kerumahnya karna memang aku tak ingin mengenal Irina lebih jauh.


Irina sudah menungguku dibangku taman, membawa brownis untukku.


Irina tampil cantik dekan balutan terusan berwarna pink, berkucir kuda yang tertata rapi dan riasan natural yang membuatnya bagaikan barbie hidup.


Bagaimana bisa aku tak mencintai gadis secantik dan selembut Irina.


Baiklah , katakanlah bahwa aku bodoh.


Gigi putih bersih Irina mempercantik wajahnya kala ia tersenyum , membuat para lelaki tersihir utuk tak berhenti menatapnya.


Irina sangat ceria bertemu denganku, tanpa basa-basi ia langsung menyodorkan browniesnya padaku.


Aku balas tersenyum padanya dan mengambil kotak brownis tersebut.


Aku menyuruhnya kembali duduk, dan berjongkok didepannya, menggenggam kedua tangannya.


" Aku minta maaf. " kataku


"Untuk? " tanyanya heran


"Hmm gini, menurutku kamu cewek termanis dan tercantik yang pernah aku kenal. "


"Terus? "


" Hmm, aku udah berusaha buat sayang sama kamu tapi... "


" Tunggu, tunggu. Aku gamau denger ini, aku gamau! " ujarnya, mata Irina mulai berair.


Dia melepas genggaman tanganku dan berdiri membelakangiku.


" Aku tau, Vi. Sebanyak apa usahaku kamu ga akan sayang kan sama aku? " Suara Irina bergetar, meski Irina membelakangiku aku tau bahwa Irina berusaha keras menahan air matanya.


" Sekarang kamu mau bicara tentang perpisahan kan? " isakan dalam suara Irina semakin jelas.


Aku menyentuh pundaknya, membalik tubuh Irina ke supaya menghadapku.


Irina menggingit bibirnya, menahan isakannya.


Air mata pun jatuh membasahi pipi gadis didepanki ini , dengam lembuy ku usap air mata itu.


"Semakin lama hubungan kita, semakin lama pula aku bakal nyakitin kamu. Dan kamu ngga layak buat aku sakitin Na. Kamu cantik kamu baik. Aku selalu merasa bersalah setiap kamu ngelakuin segala hal yang menurut kamu bakal bikin aku seneng. Aku terbebani Na. " kataku jujur


Irina tak bisa lagi membendung tangisnya, Irina menutup mulutnya alih-alih meredam isakan itu .


"Tapi aku gamau pisah.. gamau, Vi. Aku tau, Vi kamu suka kan sama cewek yang sama Bram di kedai eskrim waktu itu ? "


Aku tercengang dengan jawaban Irina.


Tak menyangka Irina bisa mengetahui perasaan yang ingin ku simpan rapat-rapat ini.

__ADS_1


\#**BERSAMBUNG**\#


__ADS_2