Itu Kamu

Itu Kamu
Eps 70...


__ADS_3

Acara lamaran pun selesai dengan sukses walau awalnya ada masalah yang mengakibatkan tangan Farel terluka. Monik yang merasa kesal karena rencana untuk membatalkan acara lamaran Farel tidak berhasil, Monik pun langsung mengeluarkan hpnya dan memberikan pesan WA kepada orang suruhannya.


Pesan singkat


"Pekerjaan mu tidak berhasil, selesaikan dulu baru aku kirimkan sisa uangnya." Monik.


"Siap bos, maaf kalau pekerjaan ku tidak berhasil." Suruhan.


Monik yang sedang berbalas pesan terkejut karena tiba-tiba ibu Sisil menepuk pundaknya.


"Ya ampun mama ngagetin saja." Ucap Monik memegang dadanya.


"Kamu sedang apa? Masalah ini bukan kamu yang melakukannya kan Nik?." Tanya ibu Sisil.


"Kalau iya kenapa?." Tanya Monik balik.


"Kamu jangan berbuat yang aneh - aneh Monik, kita bisa cari cara yang aman, kalau seperti ini! Kamu bisa....." Ucap Ibu Sisil terhenti.


"Tenang saja, mama gak usah kawatir biar Monik saja mama tinggal dukung Monik saja." Ucap Monik yang memotong ucapan ibu Sisil.


"Ya sudah kalau itu mau mu ingat hati - hati." Ucap Ibu Sisil.


Sambil memeluk ibu Sisil. "Ya gitu dong. Monik sayang mama." Ucap Monik.


"Ayo kita beri ucapan selamat sama mereka, kamu mau beri ucapan selamat gak kepada mereka?." Tanya ibu Sisil.


"Tentu dong ma, ayo ajak papa." Ucap Monik.

__ADS_1


Mereka pun berjalan menghampiri Farel dan Ranty yang sedang bersalaman dengan beberapa tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka. Monik dan keluarganya pun ikut memberikan selamat.


Saat hendak bersalaman dengan Farel, Monik melihat tangan Farel yang terluka dengan kawatir Monik langsung memegang tangan dan bertanya kepada Farel.


"Kenapa tangan kakak, pasti ini gara-gara dokter Ranty." Ucap Monik.


"Kamu bicara apa sih Nik." Ucap Pak Agam.


"Gak apa kok Om, ini tadi aku gak sengaja terkena kaca makanya acaranya di undur sebentar." Ucap Farel.


"Kalau kakak lamaran dan menikah dengan ku gak akan terjadi hal seperti ini, dokter Ranty itu wanita pembikin sial." Ucap Monik sambil menatap tajam Ranty.


Farel yang tidak terima dengan ucapan Monik langsung menggenggam tangan Monik tanpa mempedulikan tangannya yang sakit hingga mengeluarkan darah. Monik yang tangannya di genggam pun merasa kesakitan.


"Aduh kak sakit. Kakak terlalu keras menggenggam tangan ku." Ucap Monik meringis.


"Sudah mas aku gak apa kok, lihat tangan mu berdarah lagi." Ucap Ranty yang melepaskan genggaman tangan Farel dari tangannya Monik.


Farel pun langsung melepaskan genggamannya tetapi pandangan matanya tetap menatap Monik dengan tatapan marah.


"Maaf Om Agam, saya minta tolong katakan kepada anak Om untuk menjaga mulut dan ucapannya itu, kalau tidak saya tidak akan segan - segan membuatnya tidak bisa berbicara." Ucap Farel marah.


"Beraninya kamu." Ucap Ibu Sisil.


"Kenapa tidak tante. Kalau saya tidak memandang Om Agam sebagai saudara jauh papa pasti sudah menghancurkan apa yang anda punya." Ucap Farel pergi meninggalkan mereka sambil menggandeng tangan Ranty.


"Kamu urus semua tamu dan bilang kepada papa, mama, mas Billy dan keluarga Ranty kalau kami akan ke rumah sakit. Dan kamu Anton aku minta kamu cari siapa pelakunya dan beri hukuman yang setimpal dengan apa yang diap perbuat dan aku gak akan pernah memaafkan perbuatannya siapapun pelakunya karena dia hampir mencelakai calon istri ku." Ucap Farel sambil menatap tajam Monik.

__ADS_1


Monik yang merasa kesal dan takut dengan perkataan Farel hanya diam, dirinya takut ketahuan dengan rencana yang dia lakukan untuk membatalkan acara lamaran Farel.


Tanpa berganti pakai Farel dan Ranty langsung menuju rumah sakit untuk mengobati tangan Farel yang sudah tampak parah. Ranty mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit tempat Ranty bekerja karena Farel ingin Ranty yang mengobatinya.


"Mas kita ke rumah sakit itu saja kan lebih dekat." Ucap Ranty.


"Gak aku maunya kamu yang mengobati ku." Jawab Farel.


"Ya sudah, kalau itu keinginan mu. Apa gak apa kalau kita pergi dari acara lamaran kita nanti kalau ada yang mencari gimana?." Tanya Ranty.


"Tenang saja ada Rico dan Anton disana, mas Billy juga sudah tahu kalau kita ke rumah sakit pasti mereka akan menjelaskan kenapa kita pergi." Jawab Farel.


Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit milik keluarga Farel dan tempat kerja Ranty. Ranty langsung membawa Farel keruang kerja miliknya. Untung saat itu tidak ada dokter yang jaga. Ranty langsung merawat luka Farel dengan hati - hati, cekatan dan teliti Ranty menjahitll dan membalut luka Farel.


"Sudah, mas harus hati - hati agar lukanya cepat sembuh, jangan sampai terkena air tiga hari lagi perannya aku ganti dan jangan menggunakan tangan kanan untuk aktifitas yang berat." Ucap Ranty.


"Terus kalau aku makan, menulis, menyetir mobil gimana?." Tanya Farel manja.


"Untuk sementara makan pakek tangan kiri dulu, pekerjaan kantor minta tolong mas Rico untuk menghendel semua, kalau menyetir mobil minta supir kantor saja yang mengantarkan kemana-mana, kalau gak sibuk aku akan mengantar mas Farel." Ucap Ranty tegas.


"Tapi...." Ucap Farel terhenti.


"Gak pakek tapi - tapi kali ini mas Farel harus nurut. Saya dokter dan anda pasien saya." Ucap Ranty yang memotong ucapan Farel.


Farel hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya.


TERIMA KASIH

__ADS_1


TUNGGU KELANJUTANNYA


__ADS_2