
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, Farel dan Ranty sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke sekolah Rafi dan Yoga untuk menjemput mereka pulang sekolah. Tak lama mobil mereka sampai di sekolah Rafi dan Yoga, setelah mobil mereka berhenti, Ranty langsung keluar dari dalam mobil lalu menghampiri Rafi dan Yoga yang sudah menunggu di tempat penjemputan.
"Bunda." Ucap Rafi.
"Tante, kok bukan bunda yang jemput." Ucap Yoga heran.
"Iya hari ini tante yang jemput ya, tadi tante juga sudah menghubungi bunda Yoga, kalau tante dan Om yang akan menjemput kalian." Jawab Ranty.
"Lho bukannya baru nanti malam bunda dan Papa datang." Ucap Rafi.
"Ya sebetulnya sih rencananya begitu karena papa mu ada panggilan tugas yang gak bisa di tunda dan di tinggalkan ya akhirnya bunda dan Papa pulang deh. Memang Rafi gak senang kalau bunda dan Papa pulang lebih cepat?." Tanya Ranty.
"Senang dong bun, jadi nanti malam aku bisa bobok bareng bunda. Boleh kan bun?." Tanya Rafi.
"Boleh dong, ayo kita masuk ke dalam mobil kasihan papa mu menunggu kita di sana." Jawab Ranty lalu berjalan bertiga menuju ke tempat mobil mereka di parkir.
Setelah mereka semua masuk kedalam mobil, mobil pun langsung berjalan menuju butik milik ibu Cici. Ranty, Rafi dan Yoga duduk di belakang sedangkan Farel duduk di depan bersama supir. Selama perjalanan mereka saling bercanda dan menceritakan kegiatan apa saja yang mereka lakukan dini hari itu. Tak terasa mereka pun sampai ke butik milik ibu Cici membuat Rafi dan Yoga heran.
"Lho bun kita gak langsung pulang ke rumah pakdhe?." Tanya Rafi.
"Kita ke butik oma dulu ya. Bunda sama papa mau lihat baju." Jawab Ranty.
"OK bun, tapi...." Ucap Rafi terhenti karena di potong oleh Yoga.
"Kita lapar tante." Ucap Yoga yang memotong ucapan Rafi.
"Nanti Om belikan kalian Pizza gimana?." Tanya Farel."
"Mau sih Pa, tapi kita mau maka soto cak har, budhe tadi mau mengajak kita makan di sana sepulang sekolah." Jawab Rafi.
"Ya sudah gini saja sehabis kita dari butik Oma kita langsung makan ke sana untuk Pizzanya buat mengganjal perut saja biar gak lapar. Ok." Ucap Ranty memberi solusi.
"OK bun." Jawab Rafi.
"OK tante." Jawab Yoga.
__ADS_1
Setelah sampai di depan butik ibu Cici mereka langsung turun dan masuk kedalam. Rafi dan Yoga masuk terlebih dahulu dan langsung memberi salam kepada ibu Cici dan Lesti. Lesti dan Ibu Cici terkejut melihat Rafi dan Yoga tiba-tiba masuk kedalam karena setahu mereka hanya Ranty dan Farel yang akan datang kesana
"Assalamualaikum." Ucap Ranty dan Farel bersamaan.
"Waalaikumsalam." Jawab Lesti dan Ibu Cici.
"Lho cucu oma ikut juga ke sini." Tanya ibu Cici.
"Iya ma, tadi kami menjemput mereka sekolah sekalian saja kami ajak ke sini." Jawab Ranty.
Mereka pun langsung duduk bersama di ruang tamu sambil membicarakan tentang persiapan pernikahan.
Rafi dan Yoga duduk di sebelah Lesti sambil bermain, mereka pun penasaran melihat perut Lesti yang semakin lama semakin membesar. Karena penasaran Yoga pun tiba-tiba bertanya yang membuat pembicaraan tentang persiapan pernikahan terhenti.
"Tante Lesti perutnya sudah besar ya Raf, kayak balon." Ucap Yoga dengan polosnya.
"Iya ya Yog." Jawab Rafi.
"Gak berat tante?." Tanya Yoga.
"Apa kalian gak mau punya adik seperti yang ada di perut tante Lesti." Tanya ibu Cici spontan.
"Mau oma." Jawab Rafi dan Yoga.
"Ya kalian minta sama bunda dan Papa kalian." Ucap Ibu Cici.
"Iya oma nanti waktu pulang dari sini aku akan minta ke bunda sama ayah adik." Ucap Yoga.
"Kalau kamu Raf?." Tanya Lesti sambil mengelus perutnya.
Rafi langsung menatap kedua orang tuanya dengan penuh harap dia pun bertanya. "Boleh kan Pa, Rafi minta adik?".
"Kalau papa sih mau - mau saja, coba tanya bunda mu, apa bunda mau." Ucap Farel menatap Ranty.
"Boleh dong sayang, doain bunda dan Papa ya biar cepat bisa kasih kamu adik." Jawab Ranty sambil memeluk Rafi.
__ADS_1
"Hore janjinya bun. Rafi akan sering berdoa agar cepat di berikan adik." Ucap Rafi.
"Ya sudah kalian keruang oma sana main sambil makan Pizza yang di pesan papa mu tadi." Ucap Ibu Cici.
"Hore.... "Jawab Rafi dan Yoga bersamaan dan langsung berlari keruang kerja ibu Cici.
Ibu Cici langsung meminta Ranty untuk masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan gaun yang sudah di persiapkan oleh ibu Cici. Setelah selesai mengganti bajunya dengan gaun Ranty pun keluar. Farel yang melihat penampilan istrinya begitu terpesona dengan kecantikan nya.
"Memang masih belum puas melihat Ranty seperti itu?." Tanya Lesti.
"Iya, masih belum puas aku melihatnya Les." Jawab Farel.
"Bukannya waktu di Semarang sudah menikmatinya apa masih belum puas." Ucap Lesti sambil tersenyum kepada Farel.
"Apaan sih Les." Ucap Ranty.
"Gimana mau puas menikmatinya, lha orang yang mau di nikmati ternyata kedatangan tamu bulanan ya jadinya batal deh belah durennya." Ucap Farel kecewa.
"Ha... Ha... Ha... Wah ini bisa jadi cerita yang bagus, nanti aku akan cerita kan kepada mas Rico biar jadi bahan candaan buat mas Farel. Makanya mas jadi orang jangan suka menggoda sama menjahili orang akhirnya kualat kan." Ucap Lesti.
"Memang siapa yang menggoda dan menjahili orang." Ucap Farel mengelak.
"Benaran gak pernah, nanti aku ceritain semua lho ke Ranty." Ucap Lesti mengancam Farel.
"Sudah gak usah ikut membalas seperti itu, iya aku mengaku." Ucap Farel.
"Memang mas Farel suka menjahili apa Les?." Tanya Ranty mulai penasaran.
"Dulu......" Ucap Lesti mulai menceritakan semua kejahilan Farel waktu dulu.
Lesti, Ranty dan Ibu Cici saling menceritakan masa lalu Farel dan hal - hal lucu dalam kehidupan Farel yang tidak di ketahui oleh Ranty. Mereka bertiga saling melempar candaan kepada Farel, sedangkan Farel hanya bisa diam menerima candaan dari mereka bertiga.
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA
__ADS_1