
Cukup lama Ranty berada di dalam kamar mandi, di dalam Ranty berandam air hangat di dalam bathap yang sudah di siapkan oleh Farel. Setelah di rasa sedikit lebih baik Ranty melanjutkan mandi besarnya dengan menggunakan shower. Saat hendak keluar dari kamar mandi, Ranty terkejut melihat Farel masih menunggu dirinya di depan pintu kamar mandi.
"Sayang." Panggil Farel terlihat khawatir sambil mengulurkan tangan untuk menuntun Ranty sampai ke tempat tidur.
"No mas, aku sudah selesai wudhu." Ucap Ranty mengangkat kedua tangannya dan memberi isyarat untuk menjauhi nya.
"Kamu bisa jalan kan sayang?." Tanya Farel yang masih terlihat khawatir.
"Bisa kok mas, udah deh gak usah lebay, cepat sana mandi." Ucap Ranty menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Farel masuk ke dalam kamar mandi, Ranty langsung menyiapkan perlengkapan mereka untuk sholat berjamaah. Dilihatnya sprei tempat tidur yang terdapat beberapa bercak noda, Ranty pun langsung mengganti dengan sprei yang baru secara pelan sambil menahan sakit saat dia sedang bergerak.
Farel pun keluar dari kamar mandi, dia melihat Ranty sedikit kesulitan membereskan sprei dan selimut yang terkena noda darah. Dengan cepat Farel langsung mengambil keranjang untuk menaruh pakaian kotor dari pojok kamarnya.
"Kamu taruh sini saja dulu Ran, nanti biar aku bantu kamu untuk membereskan ini." Ucap Farel sambil memberikan keranjang kepada Ranty.
"Iya." Ucap Ranty lali memasukkan sprei dan selimut di keranjang.
"Ayo sayang kita sholat shubuh dulu takut keburu siang." Ucap Farel.
Ranty menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Farel.
"Kamu bisa berdirikan? Kalau gak bisa sholat berdiri kamu bisa duduk kok Ran." Ucap Farel.
"Sudah deh mas, sakitnya bisa aku tahan, mas Farel gak usah lebay. Ayo kita mulai sholat nya. Kalau mas cemas dan kawatir seperti itu gak akan sholat ini." Ucap Ranty.
Farel dan Ranty mulai mengambil posisi untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Selesai sholat subuh Ranty mengatakan ingin beristirahat sebentar untuk tidur beberapa menit karena dia sangat lelah habis lembur di rumah sakit di tambah lagi harus lembur semalam di rumah bersama Farel.
"Apa masih sakit sayang?." Tanya Farel sambil membelai kepala Ranty yang sedang tidur di pelukannya.
__ADS_1
"Masih mas, kamu nya gak sasaran sih, coba kalau mas sabar sedikit dan mainnya pelan - pelan pasti gak akan sesakit ini rasanya." Ucap Ranty.
"Iya deh nanti kalau kita main lagi aku gak akan kasar aku akan lebih pelan dan hati-hati. Maaf ya sayang." Ucap Farel sambil memeluk Ranty.
"Iya suami ku sayang, untuk kali ini aku akan maaf kan." Jawab Ranty.
"Tapi enak kan? Kamu juga menikmati semalam?." Tanya Farel menggoda.
"Apaan sih." Jawab Ranty malu lalu membenamkan wajahnya ke dada Farel.
Karena lelah jam 8 Ranty langsung tertidur di pelukan Farel. Tiba-tiba suara pintu di ketuk. Karena tidak ingin membangun Ranty yang sedang tertidur Farel langsung buru - buru membuka pintu kamarnya.
"Jegrek." Suara pintu di buka oleh Farel.
Farel melihat Rafi dan Yoga sudah berada di depan pintu ingin masuk ke dalam kamarnya. Tetapi dengan cepat Farel menghalangi mereka berdua untuk masuk karena tidak ingin mengganggu Ranty yang sedang tidur.
"Jangan masuk ya." Ucap Farel sambil menghalangi pintu kamar.
"Aku juga Om, kemarin kami cuma sebentar bertemu dengan tante Ranty." Ucap Yoga.
"Bukannya Papa gak memperbolehkan kalian masuk, bunda mu lagi istirahat kemarin bunda lembur." Ucap Farel.
"Memang kemarin bunda kerja ya Pa?." Tanya Rafi.
"Iya, sudah sana kalian main sana sama opa saja dulu." Ucap Farel.
"Tapi oma sama uti tadi menyuruh kami memanggil Om dan tante turun ke bawa untuk sarapan." Ucap Yoga.
"Ya sudah yuk kita turun biarin bunda mu istirahat kasihan." Jawab Farel.
__ADS_1
Farel pun langsung menggandeng dan mengajak Rafi dan Yoga untuk turun ke bawah. Setelah sampai bawah ibu Tika dan Ibu Dewi heran karena hanya Farel, Rafi dan Yoga yang turun ke bawah.
"Lho kenapa hanya kalian yang turun ke bawah? Ranty mana Rel?." Tanya ibu Tika.
"Ayana masih tidur ma, semalam dia baru kembali pukul dua belas malam dari rumah sakit." Jawab Farel.
"Kenapa gak kamu bangunkan saja, sekarang dia sudah ada suami jadi seharusnya mengurus kamu dulu sebelum dia tidur." Ucap Ibu Dewi.
"Biarkan saja bu, kasihan." Jawab Farel.
"Ya jelas kasihan habis pulang dari rumah sakit, Ranty langsung lembur di kasur." Ucap Billy menggoda.
"Mas ini apaan sih ada anak - anak." Ucap Ayana mengingatkan.
Billy tersenyum melihat wajah Ayana. "Maaf." Ucap Billy.
"Marahi saja tu Aya."
"Oh iya kok bisa mas tahu kalau semalam aku dan Ranty lembur di kasur, ngintip ya?." Tanya Farel sambil menatap kearah Billy.
"Sudah bisa dilihat dari wajah mu, kalau belum dapat jatah pasti tu wajah di tekuk, coba ngaca sekarang wajah mu merona bagaikan bunga mawar." Ucap Farel.
"Sudah dong mas, apa kalian gak malu di dengar mama sama ibu Dewi." Ucap Ayana jengkel.
"Biarkan saja Aya, kalau gak gini gak bakal ramai rumah. Lagian Rafi dan Yoga gak akan dengar." Ucap Ibu Tika.
Ayana hanya bisa diam mendengar obrolan suami dan adik iparnya. Sarapan pun sudah siap, mereka semua berada di meja makan untuk menikmati sarapan pagi, kecuali Ranty yang sedang tidur, memang Farel sengaja tidak memanggil dan membangunkannya, karena membiarkan Ranty untuk beristirahat.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA