
Siang itu mereka bertiga sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit mengunjungi Monik, setelah adanya perdebatan kecil yang dilakukan oleh Farel dan Ranty, akhirnya Farel mengalah dan menerima keinginan istrinya tersebut.
"Memang kita mau kemana lagi bun?." Tanya Rafi yang baru saja masuk kedalam mobil.
"Kita akan ke rumah sakit sayang untuk mengunjungi Tante Monik." Jawab Ranty.
"Memang tante Monik belum sembuh ya bun? kan sakitnya bareng sama bunda kenapa Tante Monik belum sembuh juga?." Tanya Rafi yang penasaran.
"Tante Monik sama bunda sakit nya beda sayang. tante monik perlu waktu lama untuk sembuh." Jawab Ranty.
"Bunda kan dokter, memang gak bisa mengobati tante Monik?." tanya Rafi lagi.
"Rafi....gak semua penyakit bisa di obati sama bunda mu, semua kuasa Allah, kalau Allah memberikan kesembuhan maka orang itu akan sembuh kalau Allah belum kasih ya belum akan sembuh." Jawab Farel.
"Oooooo." Ucap Rafi sambil mengangguk kepalanya.
Akhirnya mereka pun sampai ke rumah sakit, Farel, Ranty dan Rafi berjalan menyusuri lorong tanpa berbicara. Tepat di depan pintu kamar Monik, Farel berhenti yang membuat Ranty dan Rafi pun ikut menghentikan langkah mereka.
"Kenapa mas?." Tanya Ranty.
"Apa memang harus sayang?." Tanya balik Farel ragu
"Bukannya harus mas, cuma aku gak mau mas menyimpan rasa dendam ini terlalu lama yang akan membuat mas menyesal nantinya, kita gak akan tahu gimana keadaan Monik selanjutnya dan ini permintaan tante Sisil, jadi aku mohon ya mas, sebentar saja." Ucap Ranty menjelaskan.
Farel pun terdiam sejenak memikirkan ucapan istrinya yang akhirnya dia mau menuruti permintaan istrinya lalu menjawab nya dengan anggukan kepala.
"Assalamualaikum, tok... tok...tok." ucap salam dan ketukan pintu yang dilakukan Ranti.
__ADS_1
Ranti, Farel dan Rafi pun langsung masuk, mereka di sambut dengan balasan ucapan salam dari pak Agam dan ibu Sisil yang sudah menunggu mereka.
Ibu Sisil yang sudah tidak sabar langsung berjalan dan memeluk Farel.
"Makasih ya Rel, kamu sudah mau datang dan meluangkan waktu untuk menerima permintaan tante ini." Ucap ibu Sisil sambil raut wajah yang tampak sedih dan mata berkaca-kaca.
"Iya Tante." Jawab Farel singkat.
"Tante tahu dan faham kalau kamu belum sepenuhnya mau menerima permintaan maaf dari kami tapi tante takut kalau mimpi tante dan om ini adalah pesan terakhir Monik Rel." Ucap ibu Sisil yang sudah tidak bisa menahan air matanya yang sudah mulai keluar dari matanya.
"Ma....kita suruh mereka duduk dulu agar kita bisa berbicara dengan lebih enak." Ucap pak agam kepada istrinya.
Ibu Sisil yang saat itu tidak sadar dengan apa yang dia lakukan karena terlalu senang dengan kedatangan Farel, langsung mempersilahkan Farel, Ranti dan Rafi duduk.
Ranti yang tahu mereka akan berbicara serius meminta seorang suster untuk membawa Rafi keluar ruangan dan menemaninya di ruang tunggu. Setelah situasi sudah mendukung pak Agam pun memulai pembicaraan.
Farel dan Ranti hanya diam mendengarkan semua penjelasan dari pak Agam serta ibu Sisil, mereka berdua saling bergantian untuk dapat meyakinkan Farel agar mau memaafkan Monik. Farel yang mendengar penjelasan dan cerita mereka hatinya pun mulai luluh dan ikut merasa sedih, Ranti yang ada di sebelah Farel tahu perasaan hati suaminya sudah mulai luluh dengan melihat raut wajah suaminya langsung memegang erat tangan nya.
Penjelasan dan cerita pun selesai, pak Agam dan ibu Sisil diam menunggu respon dari Farel. Farel yang mengetahui hal itu akhirnya mulai berbicara.
"Sebelum saya juga mau minta maaf kepada om dan Tante, saya sudah lama memaafkan kesalahan Monik hanya saja kenapa saya tidak mau menemui om, tante serta menjenguk Monik karena saya belum siap saja. Setelah saya mendengar semua penjelasan yang om sampaikan tadi saya juga merasa bersalah karena keegoisan saya ini." Ucap Farel pelan.
"Terima kasih Rel kamu sudah mau memaafkan kami. Kami merasa lega jika terjadi sesuatu kepada Monik kami sudah ikhlas melepas semuanya." Ucap pak Agam yang di ikuti anggukan ibu Sisil yang ada di sebelahnya mempertegas ucapan pak Agam.
Farel berdiri mendekati tempat tidur Monik, dilihatnya gadis kecil yang selalu saja menggodanya dan sudah dianggap seperti adiknya itu telah berbaring tak berdaya dengan badan terpasang alat bantu untuk penunjang hidupnya. Farel pun tidak tega melihatnya di pegang nya tangan Monik, Farel pun mulai duduk di sebelah tempat tidur Monik.
"Aku sudah memaafkan mu, kamu akan tetap menjadi adik kesayangan ku, jadi tetaplah berjuang untuk sehat seperti dulu." Ucap Farel.
__ADS_1
Saat Farel berbicara terlihat alat yang mengontrol detak jantung memperlihatkan respons yang baik. Ranti yang berada di situ pun terlihat tersenyum dan menjelaskan kepada pak Agam dan Bu Sisil apa yang terjadi.
"Alhamdulillah tante, ada perkembangan baik coba lihat monitor itu, memperlihatkan bahwa detak jantung Monik saat ini merespon." Ucap Ranti yang berada di sebelah ibu Sisil.
Ibu Sisil yang mendengar ucapan Ranti merasa senang, dia pun langsung mengucap syukur lalu memeluk Ranti.
Karena sudah cukup lama mereka berdua berada di sana akhirnya mereka pun berpamitan dan saat itu juga dokter Pras dan perawatan memasuki ruangan tersebut untuk memeriksa kondisi Monik.
Farel pun memanggil Rafi yang berada di ruang tunggu untuk mengajaknya berpamitan sebelum mereka pulang. Ranti yang berada di ruang itu ikut melihat dan mendengar hasil pemeriksaan yang di lakukan dokter Pras. Dokter Pras menyampaikan bahwa kondisi Monik untuk hari ini dan siang ini dalam kondisi yang sangat baik. Walaupun Ranti sudah mengetahuinya karena dia seorang dokter, dokter Pras pun harus tetap menyampaikannya karena di dalam ruangan itu ada pak Agam dan ibu Sisil yang harus mengetahui perkembangan anaknya dan itu juga merupakan tugas nya sebagai seorang dokter.
Setelah pemeriksaan itu selesai dokter Pras pun berpamitan keluar dan di lanjutkan Farel, Ranti dan Rafi pun ikut berpamitan, karena permasalahan yang terjadi sudah terselesaikan.
**********
Saat mereka berjalan bertiga, Farel pun terdiam memikirkan ucapan pak Agam dan ibu Sisil Tadi. Ranti yang berada di sebelahnya pun langsung menggandeng tangan suaminya itu agar lebih tenang dan tidak memikirkan hal-hal yang aneh.
"Sudah mas, kita doakan saja yang terbaik buat Monik dan cepat pulih dari sakitnya." Ucap Ranti menenangkan Farel.
"Iya sayang, makasih ya sudah selalu mengingatkan ku untuk selalu datang kemari melihat keadaan Monik." Ucap Farel.
Ranti hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum menjawab pertanyaan Farel.
Setelah pembicaraan itu Farel pun melanjutkan obrolannya santai bersama Ranti dan Rafi yang berjalan terlebih dahulu mendahului mereka.
Saat mereka berjalan di sebuah lorong, tiba-tiba Ranti melihat dokter Lana berlari cepat sambil berbicara melalui HP dengan wajah terlihat panik dan saat berpapasan dengan Ranti, Farel dan Rafi, dokter Lana memberitahukan bahwa dia mendapatkan kabar dari dokter Pras kalau Monik dalam keadaan kritis, hal itu membuat Farel dan Ranti terkejut, karena mereka baru saja dari tempat Monik di rawat.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA