
Ranty merasa bingung harus berbuat apa karena jadwal dia halangan tidak sesuai dengan jadwal seperti biasanya. Ranty tidak berani keluar dan dia lupa kalau saat itu dia tidak memiliki pembalut. Ranty juga takut kalau Farel akan kecewa karena dirinya bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri untuk saat ini.
Farel yang merasa heran dan kawatir karena hampir satu jam lebih Ranty tidak keluar dan tidak terdengar suara air yang mengalir atau suara orang yang sedang mandi dari dalam kamar mandi itu. Dengan cepat Farel langsung berjalan menuju kamar mandi untuk memastikan istri baik-baik saja. Farel mengetuk dan memanggil Ranty tetapi tidak mendapat tanggapan dan jawaban dari Ranty. Farel pun mencoba mengetuk dan memanggil lagi Ranty dengan nada yang lebih kencang.
"Tok... Tok... Tok..., Ranty, Ranty, sayang kamu gak apa kan didalam kamar mandi, kamu gak lagi tenggelam di bak mandi atau terpelesetkan, jawab Ran, jangan bikin aku kawatir." Ucap Farel kawatir sambil terus mengetuk dan memanggil nama istrinya.
Ranty yang didalam kamar mandi akhirnya tersadar dari diamnya. Karena merasa bingung Ranty tidak berani menjawab panggilan dari Farel. Karena Farel semakin kencang memanggil dan mengetuk pintu akhirnya Ranty pun langsung menjawab panggilan Farel.
"Iya mas, aku baik-baik saja kok, gak usah kawatir aku akan keluar sebentar lagi." Jawab Ranty yang berada di dalam kamar mandi.
"Benar kamu gak kenapa - napa, kalau memang benar kamu baik-baik saja buruan keluar dari kamar mandi, karena kamu sudah hampir satu jam berada di dalam sana. Jangan buat aku kawatir Ran?." Tanya Farel.
"Iya mas, aku baik - baik saja." Jawab Ranty.
__ADS_1
Setelah menjawab pertanyaan dari Farel akhirnya Ranty memutuskan keluar dengan menggunakan handuk kimono dan haduh kecil yang menutupi rambutnya yang basah. Ranty membuka pintu, mengeluarkan kepalanya dan badannya masih berada di dalam kamar mandi. Ranty memberikan senyuman manisnya kepada Farel yang berada tepat di depan pintu dengan wajah kesal saat Ranty membuka pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa? Apa perut mu sakit sehingga kamu gak keluar dari kamar mandi?." Tanya Farel.
"Aku baik-baik saja kok mas, tapi....!." Ucap Ranty terhenti dan terdiam menundukkan wajahnya yang di mana dia masih berada di kamar mandi.
"Tapi kenapa Ran, aku gak akan marah kok kalau kamu jujur mengatakannya." Ucap Farel yang mulai berfikir yang tidak - tidak.
"Berar ya kalau aku mengatakan mas gak akan marah dan janji gak akan ngambek?." Tanya Ranty.
"Maaf mas, bisa gak kamu membelikan aku pembalut karena saat itu sepertinya aku sedang datang bulan." Ucap Ranty sambil menundukkan wajahnya.
"Apa?." Tanya Farel dengan nada kerasnya.
__ADS_1
"Kamu marah ya?." Tanya Ranty balik.
"Gak sih tapi kenapa harus sekarang waktunya kamu dapat, gagal deh rencana ku malam ini." Jawab Farel kecewa.
"Maaf ya mas, sudah bikin kamu kecewa." Ucap Ranty.
"Ya sudah gak apa bisa lain waktu, aku senang kalau kamu gak kenapa - napa, aku akan turun ke bawah membelikan pembalut untuk mu. Maaf aku tadi sudah berkata keras kepada mu, apa masih ada yang kamu perlukan selain pembalut?." Tanya Farel.
"Gak ada mas cuma itu saja." Jawab Ranty.
"Kalau gitu aku ke bawah dulu untuk membelinya." Ucap Farel.
Farel pun segera mengambil kaca mata hitam serta masker yang ada di dalam tasnya untuk pergi ke minimarket di lantai bawah hotel tempat mereka menginap. Sebelum keluar kamar Farel pun tidak lupa berpamitan terlebih dahulu kepada Ranty dengan mencium kening istrinya.
__ADS_1
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA