Itu Kamu

Itu Kamu
MOMENT PERTAMA


__ADS_3

Beribu kali ku coba lupakannya,


Mencoba hubungan dengan lawan jenis lainnya,


Bertahan dengan memori yang tak kunjung terkikis,


Hingga disetiap malamku, saat kupejamkan mataku selalu wajahnya yang spontan terlukis dibenakku..


Mungkin porsiku mencintainya berlebihan, Rasa memiliki yang teramat besar hingga mati-matian mengejarnya.


Oooh tubuh dan jiwaku membutuhkan dia,


Aku sadari itu, karna wanita manapun yang singgah di hidupku tidak bisa melepaskan rasa hausku..


Hanya Ria lah pelepas dahagaku..


* * * * * * * * * * * * * * * *


Sudah seminggu berlalu sejak terakhir aku bertemu Ria.


Sepulang dari rumahku, sampai detik ini Ria tak juga menghubungiku, ku tunggu Ria di depan sekolahnya pun tak kunjung terlihat batang hidungya.


Perasaan cemas, khawatir, kecewa, dan rindu bercampur aduk dalam dadaku.


"Vi yuk cabut ke gedung tua, ntar Satya ama Dito nyusul, mereka ambil gitar dulu. " ajak Bram.


Malam mingguku kembali seperti semula bercanda dan bernyayi dengan 3 kawan karibku itu.


Kupikir weekend ini kulewati bersama Ria bahkan aku bisa rutin kencan dengan Ria kenyataanya hanya aku yang terlalu percaya diri dan terlalu berharap.


Gedung tua adalah gedung didekat SMA kami yang telah lama terbengkalai, kala itu ketika kami duduk dibangku kelas 11 memiliki markas sendiri adalah sesuatu yang keren. Dan karna otak kami tidak serumit rumus fisika kami menjadikan gedung tua itu sebagai markas, tempat ternyaman kami untuk tertawa, berisik, saling mengejek satu sama lain.


Karna memang didaerah gedung tua jauh dari rumah warga, kami pun bebas melakukan apapun.


Maklum lah kami hanya abg tanggung yang hanya suka bersenda gurau.


"Wih untung keburu sampai duluan kita," ujar Dito .


Satya mengikuti Dito dari belakang dengan membopong gitarku.


Rintik hujan membasahi aspal, membuat bau tanah basah mengelilingi kami, untung saja meski gedung ini tua tapi tidak bocor sedikitpun, mungkin ini yang disebut dengan keberuntungan.

__ADS_1


Tanpa bicara Satya menodongkan gitar padaku.


"Lagi ngga mood main gitar, si Bram aja itu yang mainin. " ucapku.


Berkali-kali ku cek hapeku, berharap ada notifikasi pesan atau panggilan.


Seminggu ini terasa amat panjang, pertemuan hingga malam yang kuhabiskan dengan Ria seakan hanya khayalanku.


Sedikit rasa bersalah bila teringat kecupan kecilku, mungkin saat itu Ria belum lelap dalam mimpinya dan tau bahwa aku menikmati lembut bibirnya hingga Ria tersinggung , menghilang......


Hanya pikiran negatif yang ada di otakku.


"Gelisah amat mas bro? Sampai diem aja ngga ikut nyanyi kayak biasa." tanya Bram penasaran.


"Haha ngaco, bagi dong wedang rondenya. Enak nih, pas ujan-ujan ngewedang, makyoos dah" jawabku.


Kurasa Bram paham dengan kelakuan anehku, dan curiga aku menyembunyikan sesuatu darinya. Karna Bram sangat paham gerak gerikku. Bram dan aku teman dari kecil.


Kami selalu berada di sekolah yang sama, rumah kami pun hanya beda satu gang.


Entah kenapa dalam urusan pelajaran kami selalu bersaing , dan kini kami pun menjadi rival dalam masalah Cinta.


Bahwa aku juga jatuh Cinta pada cewek yang sama dengannya.


* * * * * * * * * * * * * * * * * *


Rabu, sepulang sekolah.


Aku pulang telat dari siswa lainnya karna mendapat hukuman membersihkan wc sendirian.


Aku terciduk menggambar keledai berwajah guru matematika di papan tulis.


Dan berakhir dengan menuntun sepeda motorku di cuaca sepanas ini karna lupa mengisi bensin .


Rasanya matahari hanya sejengkal dari kepalaku,


Peluhku bercucuran, dan tenggorokanku terasa kering.


Sungguh sial, tidak kutemukan satu warung pun yang menjual bensin eceran.


Tak sengaja aku melihat dari kejauhan, di kedai eskrim munggil tepat di belokan jalan tampak dua sosok yang tak asing.

__ADS_1


Mereka bercanda dengan akrabnya, dimataku jelas itu seperti kencan yang sesungguhnya dibanding kencanku dengannya saat itu.


Tak lain tak bukan, kedua sosok itu adalah Bram dan Ria.


Seketika terlintas dibenakku,


pantas saja sejak kejadian Ria menginap Bram tidak pernah meminta kontak Ria padaku.


Pantas saja Ria tak menghubungiku sama sekali.


Mungkin mereka berpacaran.


Rasa marah kecewa bercampur menjadi satu, ingin rasanya aku memaki, dan menghampiri mereka hanya untuk menjejalkan sejuta pertanyaan.


Tapi kuurungkan niatku, toh aku lah yang sebenarnya paling pengecut.


Aku yang tidak tegas mengatakan perasaanku yang sebenarnya para Bram.


Seenaknya menyukai cewek gebetan kawan karibku sendiri bahkan mencuri ciumannya.


Kulanjutkan menuntun motorku dan berharap mereka tak menyadari kehadiraku.


Sayangnya, Ria melihatku , dia tersenyum nakal kearahku dan menyandarkan kepalanya pada bahu Bram dengan terus menatapku


Apa maksud tatapan itu?


Senyuman itu membuatku semakin ingin cepat-cepat menjauh dari mereka.


Memang nasib, mungkin kejadian apes ku hari ini adalah pertanda akan moment pertama yang tak terlupakan dalam hidupku.


Apakah itu sifat Ria yang sebenarnya?


Apa seperti itu Ria sesungguhnya?


Namun kenapa aku masih ragu menganggap Ria jelek meskipun Ria bersikap genit padaku dan sahabatku?


Lagi-lagi semua tingkah Ria yang tak terduga selalu membuatku berpikir, tak jelas apa alur permainanya.


Menarikku masuk dan terbawa arusnya..


**BERSAMBUNG**

__ADS_1


__ADS_2