
Monik duduk di pojok bersama dengan mamanya Ibu Sisil. Wajah mereka berdua terlihat kesal karena ucapan Rafi yang mengatakan bahwa Ranty adalah bunda nya saat acara tiuo lilin.
"Mama kok bisa jadi gini, mama tanya dong sama tante Tika." Ucap Monik sambil merengek.
"Mama juga gak tahu, Ranty itu siapa sih Nik, kok tiba-tiba muncul apa itu wanita yang kamu cerita kan ke mama tempo hari?." Tanya ibu Sisil.
"Iya itu ma pelakor yang mengganggu hubungan ku sama kak Farel." Jawab Monik.
"Memang Farel dan keluarganya sudah setuju tentang hubungan yang baru saja kamu bilang itu ma?." Tanya Pak Agam papa Monik tiba-tiba.
"Ya belum lah Pa, seenggaknya kita harus berusaha aku gak mau Monik seperti anak gadis kita yang satu lagi si Gladys yang salah cari calon suami, coba lihat hidupnya sekarang susah." Ucap Ibu Sisil.
"Walau hidupnya susah seenggaknya dia gak menyusahkan kita kan ma, gak kayak satunya." Ucap Pak Agam.
"Sudah deh Pa kalau gak mau ikut mikir mending paoa diam saja." Ucap Ibu Sisil kesal.
"Ya sudah papa cuma ingatkan saja kalau terjadi sesuatu papa gak mu ikut ikutan." Ucap Pak Agam yang langsung meninggalkan mereka berdua.
"Papa itu kebangetan ya Ma, masa' gak mau mendukung anaknya, kalau Monik nikah sama mas Farel seenggaknya bisa memperluas perusahaan papa." Ucap Monik.
"Ya sudah gak usah ngurusin papa mu, kamu sekarang tetap usaha mendeketin Farel terus, mama akan tanyakan kepada jeng Tika kelanjutan hubungan mu dengan Farel." Ucap Ibu Sisil kepada Monik.
__ADS_1
"Makasih ma." Ucap Monik.
Di tempat lain Farel yang sedang ngobrol dengan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Nata. Para orang tua mulai mencoba bertanya kepada Farel tentang ucapan yang di ucapkan oleh Rafi saat acara tadi.
"Maaf Rel ibu cuma mau tanya tentang ucapan Rafi tadi apa benar?." Tanya ibu Cici.
"Iya itu benar bu." Jawab Farel.
"Kok bisa?." Tanya ibu Tika penasaran.
"Nanti saja saat acara ini selesai aku akan menjelaskan semuanya dan ada yang akan aku sampaikan kepada kalian semua." Ucap Farel.
"Nanti saja Pa, malas aku menjelaskan ke satu - satu orang mending semua kumpul jadi aku bisa menyampaikan kepada semuanya, oh iya ma sekali aku minta tolong mengajak keluarga Monik untuk ikut serta." Ucap Farel.
Ibu Tika menganggukkan kepala mengiyakan permintaan anaknya.
Di halaman rumah Ranty sedang duduk santai di sebuah kursi taman sambil melihat Rafi yang sedang bermain bersama dengan teman dan saudaranya yang seumuran dengan dia. Tiba-tiba Farel berjalan dan duduk di sebelah Ranty yang membuatnya terkejut.
"Astagfirullah." Ucap Ranty sambil memegang dadanya.
"Maaf kamu kaget ya." Ucap Farel sambil memegang kepala Ranty.
__ADS_1
"Mas ini kalau datang bilang dong biar gak bikin orang terkejut." Ucap Ranty.
"Iya maaf." Ucap Farel.
"Oh iya Ran, tadi aku sudah sampaikan nanti setelah acara ini selesai aku akan jelaskan dan menyampaikan semua tentang keinginan ku. Kamu sudah siap kan?." Tanya Farel.
"Insyaallah mas, tadi aku juga sudah menghubungi ibu di Semarang." Ucap Ranty.
"Terus pendapat ibu saat kamu cerita dan tanya gimana?." Tanya Farel.
"Ibu cuma menjawab semua terserah aku, karena aku yang menjalani. Cuma ibu berpesan jangan sampai kamu sakit hati seperti dulu jadi aku di suruh memikirkan matang matang lagi. Ya intinya semua keputusan ada di tangan ku." Ucap Ranty.
"Terus berapa lama aku harus menunggu jawaban IYA dari kamu Ranty." Ucap Farel sambil menundukkan kepalanya.
Ranty yang melihat Farel seperti langsung memegang kedua pipi Farel dang mengarah wajahnya menghadap wajah Ranty. Farel yang mendapat perlakuan seperti itu dari Ranty sangat terkejut membuat hati dan pikiran nya menjadi tidak karuan. Ranty yang melihat Farel mulai salah tingkah hanya tersenyum lalu membisik sesuatu ketelinga Farel.
"Secepatnya." Bisik Ranty menjawab pertanyaan Farel.
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA
__ADS_1