
Saat akan masuki ruang tunggu bandara Ranty dan kedua orang tuanya tidak sengaja bertemu dengan Farel.
"Dokter Ranty." Sapa Farel.
"Eh, pak Farel." Jawab Ranty yang terkejut melihat Farel.
Farel pun juga terkejut karena bertemu dengan Ranty di bandara bersama dua orang yang wajahnya hampir mirip seperti Ranty. "Siapa kedua orang yang berada di sebelah Ranty apa mereka orang tuanya." Ucap Farel dalam hati.
"Apa dokter Ranty akan pergi keluar kota?." Tanya Farel.
"Oh gak pak saya kesini untuk mengantarkan saja?." Jawab Ranty.
"Ehem." Ucap Ibu Dewi sambil menyenggol lengan Ranty.
Ranty yang tahu sifat ibunya yang ingin tahu akhirnya memperkenalkan Farel kepada kedua orang tuanya. "Oh iya pak perkenalkan ini kedua orang tua saya, hari ini ayah dan ibu saya yang akan kembali ke Semarang."
"Oh."
"Perkenalkan pak, bu saya Farel Putra Hermawan ayah dari pasien yang di rawat oleh dokter Ranty." Ucap Farel sambil bersalaman kepada kedua orang tua Ranty.
"Saya ibu Dewi, ibunya Ranty dan ini suami saya Pak Purnama." Ucap Ibu Dewi yang memperkenalkan dirinya dan suaminya.
"Maaf Pak Farel kami masuk dulu karena pesawat kami akan berangkat. Kalau ada kesempatan lagi bertemu kita akan ngobrol lagi." Ucap Pak Purnama. Ll
"Oh iya pak, bu. Semoga perjalanan sampai Semarang berjalan dengan lancar." Ucap Farel.
"Terima kasih nak Farel kami berangkat dulu." Ucap Ibu Dewi.
Farel menjawab dengan anggukan kepala.
"Saya masuk dulu ya pak Farel. Assalamualaikum." Ucap Ranty.
"Waalaikumsalam." Ucap Farel.
Ranty dan kedua orang tuanya berjalan masuk kedalam ruang tunggu, sedangkan hanya bisa diam menatap Ranty yang pergi bersama orang tuanya masuk kedalam ruang tunggu bandara.
Setelah mengurus tiket pesawat Ranty langsung duduk di sebelah Ibu Dewi yang sedang sibuk dengan Hpnya.
"Ini Yah tiketnya sudah Ranty urus, di simpan jangan sampai hilang."
"Makasih." Ucap Pak Purnama.
"Ran, tadi siapa?." Tanya ibu Dewi.
"Siapa?." Tanya balik Ranty yang pura - pura gak tahu.
__ADS_1
"Kamu itu mesti membuat ibu jengkel." Ucap Ibu Dewi cemberut.
"Idih ibu kayak anak kecil saja, tadi itu Pak Farel bu, dia juga sudah memperkenalkan diri kepada ayah dan ibu terus apa yang harus Ranty jelaskan lagi." Ucap Ranty.
"Iya ibu juga sudah tahu, sayang ya sudah punya istri dan anak, kalau belum boleh juga." Ucap Ibu Dewi sambil tersenyum.
"Ibu ini ngomong apa sih." Ucap Pak Purnama sambil menyenggol lengan istrinya.
"Bercanda yah, biar anak kita buruan cari jodoh." Ucap Ibu Dewi.
"Ibu ini ada - ada saja, pak Farel itu duda satu anak bu, dan anaknya adalah salah satu pasien yang ada di rumah sakit tempat Ranty kerja." Ucap Ranty menjelaskan kepada ibunya.
"Wah.... Kesempatan tu Ran." Ucap Ibu Dewi.
"Ibu ini! kayak Ranty gak ada calon yang lain, sudah bu gak usah bahas nikah terus bosen." Ucap Ranty kesal.
"Sudah dong bu gak usah maksa Ranty kalau memang sudah ada jodonya dia akan nikah, walau jodohnya jejaka atau duda yang penting dia baik buat anak kita." Ucap Pak Purnama menjadi penengah.
"Terserah." Ucap Ibu Dewi.
Ranty yang tahu ibunya marah langsung memeluk lengan ibu Dewi dengan manja. "Maaf ya bu tapi benar kata ayah, kalau memang sudah takdir Allah baik duda atau jejaka pasti Ranty terima Jangan marah Ya 36 bu nanti jelek lo." Ucap Ranty.
"Kamu itu, mana bisa ibu marah kalau kamu saja manjanya seperti ini." Ucap Ibu Dewi sambil mencubit hidung Ranty.
Setelah kedua orang tua Ranty naik pesawat, Ranty pun bergegas keluar bandara dan menuju parkiran mobil. Ranty melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul empat sore dan jam lima Ranty harus sudah sampai kampus untuk menjemput Adik nya.
"Pak Farel masih di sini." Ucap Ranty yang ikut duduk di sebelah Farel.
"Eh dokter Ranty, iya supir yang menjemput ku terjebak macet jadinya saya masih menunggu di sini." Ucap Farel.
"Memang pak Farel habis dari bandara mau kemana?." Tanya Ranty.
"Aku harus segera kembali kekantor karena ada beberapa berkas yang harus aku cek dan ada meeting nanti sore ini jam lima." Ucap Farel.
"Gimana kalau saya memberikan tumpangan untuk Pak Farel?." Ucap Ranty.
"Apa saya tidak merepotkan dokter Ranty, memang dokter tidak ada acara habis dari sini.?" Tanya balik Farel.
"Ada, tapi bisa menunggu. Ayo pak sudah hampir jam lima, apa sebaiknya pak Farel menghubungi klien bapak yang akan bapak temui nanti jam untuk merubah jam meeting nya." Ucap Ranty yang berjalan bersama Farel menuju tempat parkiran mobil.
"Sudah tapi sepertinya mereka tidak bisa. Biar saya saja yang menyetir dok." Ucap Farel.
"Gak usah pak biar saya saja sepertinya bapak sibuk dengan hp nanti gak akan sampai ke kantor bapak." Ucap Ranty.
"Maaf ya dok merepotkan lagi."
__ADS_1
"Tenang saja gak masalah selagi saya bisa membantu."
Mereka berdua akhirnya masuk kedalaman mobil. Ranty melajukan mobil nya dengan cepat tetapi tetap sesuai dengan aturan. Ranty dan Farel pun saling berbicara dan terkadang ada sedikit gangguan dengan Hp Farel yang selalu berbunyi.
"Maaf dok kalau mengganggu dokter." Ucap Farel.
"Aduh pak Farel ini kan sudah saya bilang gak usah minta maaf kalau gak salah." Ucap Ranty.
"Takutnya dokter terganggu waktu menyetir." Jawab Farel.
"Tenang saja saya gak merasa terganggu. Oh iya pak Farel kok ada di bandara tadi?." Tanya Ranty.
"Sehabis meeting tadi saya di ajak oleh teman saya ke bandara untuk mengantar teman nya ke bandara dan saat akan kembali teman saya mendapatkan telepon dari istrinya kalau anaknya sedang sakit, ya mau gak mau saya suruh pulang duluan dan........" Ucap Farel sambil menceritakan kejadian tadi kepada Ranty.
"Oh, memang bapak gak kepikiran buat naik ojek online?." Tanya Ranty.
"Oh iya, gak kepikiran aku. Soalnya waktu di bandara aku benar - benar sibuk dengan hp ku yang terus berbunyi karena beberapa pekerjaan." Jawab Farel sambil memeriksa pekerjaan melalui hpnya.
"Memang pak Farel gak ada sekretaris atau asisten untuk membantu pak Farel. Saya lihat pak Farel sibuk menghendel pekerjaan sendiri?." Tanya Ranty.
"Ada tetapi mereka sibuk dengan pekerjaan nya masing - masing yang sudah saya bagi kepada mereka dok, selagi saya bisa saya hendel sendiri kerjaan yang harus saya selesaikan."
"Keren, Oh ya Pak kalau kita lagi berada di luar bukan di rumah sakit bisakan jangan memanggil saya dengan sebutan dokter, panggil nama saya saja Ranty." Ucap Ranty.
"OK, kalau gitu kamu juga jangan...... " Ucap Farel terhenti karena hpnya berbunyi.
"Maaf aku angkat hp ku dulu."
"Iya pak silakan." Ucap Ranty yang fokus menyetir mobil.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di kantor Farel Hermawan Group, Ranty menghentikan mobil tepat di depan lobi kantor dan saat itu Farel pun selesai dengan panggilan telepon nya.
"Sudah sampai pak di kantor." Ucap Ranty yang baru saja menghentikan mobilnya.
"Makasih banyak atas tumpangannya dan maaf merepotkan mu Ran, Oh iya ini kartu nama ku kalau kamu perlu bantuan kamu bisa menghubungi ku kapan saja." Ucap Farel.
"Makasih pak, maaf saya gak bisa kasih kartu nama saya untuk bapak karena dompet kartu nama saya tertinggal di tas kerja saya." Ucap Ranty.
"Gak apa, ya sudah saya turun dulu dan ingat jangan ngebut." Ucap Farel turun dari mobil Ranty.
"Siap Pak Farel dan makasih banyak atas nasehatnya." Ucap Ranty.
Setelah Farel turun dari mobil Ranty, Farel pun langsung bergegas masuk ke dalam kantor sedang Ranty langsung melajukan mobilnya.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA