
"Kalian berdua sebenarnya tahu gak sih apa yang aku jelaskan tadi? apa aku perlu meminta dokter Teguh untuk memeriksa mu lagi Ran?." Tanya dokter Diana kesal.
"Aku paham dok, Tapi....." Jawab Ranty yang terdiam tidak di lanjutkan.
Farel yang melihat istri seperti itu langsung membantu meneruskan jawaban Ranty yang tidak dia lanjutkan.
"Kami paham kok dokter, kami cuma masih kaget dengan hal ini. Sampai-sampai kami bingung harus bagaimana." Jawab Farel.
"Dari beberapa pasien yang aku tangani cuma ada beberapa yang mengalami keberuntungan seperti yang kalian alami saat ini, seharusnya kalian bersyukur karena Allah telah menitipkan sesuatu yang berharga kepada kalian berdua gak tambah bingung." Ucap Dokter Diana.
"Kami sangat bersyukur dok, maka dari itu kami bingung." Ucap Ranty dengan tatapan sedih bercampur senang.
"Ya sudah, cukup penjelasan ku saat ini untuk masalah itu. Kandungan mu saat ini berusia 23 hari menurut perhitungan dari USG, kita mengikuti dari hasil ini saja walaupun belum tentu benar karena kamu juga gak tahu kapan pastinya kamu mengalami menstruasi. Jaga kandungan mu Ran walau saat ini dalam keadaan baik-baik saja, kurangi makan-makanan pedas dan perbanyak sayur serta buah karena lambung mu ada luka." Penjelasan dokter Diana.
"Dan kamu pak Farel!". Ucap Dokter Diana lagi.
"Ya dok". Jawab Farel.
"Untuk saat ini tugas mu untuk menanam benih sudah selesai, dalam masa trisemester tugas mu hanya menjaga Ranty dan memastikan kandungannya baik-baik saja." Ucap Dokter Diana.
"Untuk selanjutnya apa masih bisa aku menanam benih dok?." Tanya Farel dengan suara yang sedikit kecewa.
"Bisa tetapi untuk sementara ini tidak boleh, kita harus benar-benar memastikan kandungan istri mu dalam keadaan baik, karena proses pemulihannya cukup cepat dan aku sebagai dokter serta temannya gak mau terjadi sesuatu lagi. FAHAM." Jawab dokter Diana dan menekankan kata yang terakhir.
__ADS_1
Farel pun menjawab dengan anggukan kepalanya.
**********
Ranty dan Farel sudah berada di dalam mobil akan pulang menuju rumahnya. Di dalam perjalanan pulang mereka berdua sempat berdebat karena Ranty memilih pulang ke rumah mereka berdua sedangkan Farel meminta Ranty untuk tetap berada di rumah utama yaitu rumah Billy dan Ayana karena di sana masih ada papa dan mama. Karena tidak mau membuat Ranty ngambek akhirnya Farel lebih memilih mengalah dari pada adu mulut dengan istrinya yang jelas-jelas pasti dia yang akan kalah.
Sesampainya di rumah, Edi yang sudah di beri kabar oleh Ranty pun langsung siap menyambut mereka berdua. Setelah mobil berhenti di depan rumah Ranty langsung keluar dan masuk kedalam tanpa menunggu Farel dan memperdulikan adiknya yang sedang menyambut.
"Assalamualaikum." Ucap Ranty dan langsung masuk kedalam rumah.
"Waallaikumsalam." Jawab Edi pelan sambil melihat kakaknya yang berlalu tanpa menghiraukannya.
Tak lama Farel pun keluar dari mobilnya setelah memarkirkan nya ke dalam garasi. Farel dengan santai dan wajah senangnya berjalan memasuki rumahnya.
"Waallaikumsalam, Mbak Ranty gak kenapa-kenapa kan om, gak biasanya langsung nyelonong masuk rumah tanpa mengomeli aku dulu." Ucap Edi.
"Dia gak kenapa-kenapa mungkin hanya capek. Yuk kita masuk dulu." Ucap Farel.
Edi pun hanya menuruti perintah Farel dan langsung mengikuti kakak iparnya masuk kedalam rumah.
Setelah masuk kedalam rumah Ranty pun langsung masuk kedalam kamar nya, sedang Farel meminta tolong adik iparnya untuk membeli beberapa makanan yang di minta oleh Ranty saat perjalanan pulang dari rumah sakit.
"Tolong ya Ed." Ucap Farel.
__ADS_1
"Banyak banget om makanan nya memang kita bertiga bisa makan sebanyak ini?" Tanya Edi sambil melihat catatan dari Farel.
"Itu semua maunya mbak mu, sudah gak usah banyak tanya kamu belikan semua dari pada mbak mu marah-marah kita juga yang akan kena omelannya." Jawab Farel.
"Mbak Ranty lagi PMS ya mas?." Tanya Edi lagi.
"Gak, sudah pokoknya buruan beli." Jawab Farel lalu meninggal Edi.
Farel masuk kedalam kamar, dia melihat Ranty yang berbeda di depan meja rias sedang mengeringkan rambutnya. Farel pun berjalan mendekati istrinya yang sudah terlihat segar, tanpa berkata-kata Farel pun langsung memeluknya sambil meletakkan kepalanya di pundak Ranty.
"Makasih ya sayang." Bisik Farel.
Mendengar ucapan Farel itu Ranty pun langsung membalikkan badannya kehadapan Farel, menatap wajah suami dan melihat matanya yang terlihat mulai berkaca-kaca. Ranty memegang wajah Farel mengecup kening dan juga bibirnya. Senyum manis di perlihatkan nya agar Farel tidak terlihat sedih.
"Kenapa kamu menangis mas, seharusnya kamu senang karena keinginan kita bertiga sudah terkabul. Rafi akan senang kalau tahu dia akan menjadi seorang kakak." Ucap Ranty.
"Iya aku menangis senang karena hadiah yang di berikan oleh Allah kepada kita." Ucap Farel.
"Aku juga senang mas. Aku janji, aku akan menjaganya dengan baik titipan dari Allah ini." Ucap Ranty.
Farel langsung memeluk Ranty, mereka berdua pun saling berpelukan, tanpa sadar Farel langsung mencium bibir istrinya begitu mesra yang membuat Ranty langsung mendorong Farel hingga dia terjatuh. Ranty pun langsung mendekat dan membisikan sesuatu dan mengingatkan apa yang telah di sampaikan dokter Diana kepada Farel, hal itu membuat Farel langsung lemas dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA.