Itu Kamu

Itu Kamu
SEPIHAK


__ADS_3

Kutunggu sampai tengah malam kira-kira sampai kedua orangtuaku tidur.


Berkelut dalam nalar dan nafsu. Ku putuskan mengajak Ria kerumahku karna aku yakin, aku bisa membatasi otak abg ku yang penuh rasa penasaran bila memutuskan mengajaknya kerumah.


Tapi tak bisa kupungkiri kekacauan di sekujur tubuhku.


Maklum ini kali pertama ku menginap dengan seorang gadis.


"Bentar ya, tunggu disini aku cek kedalam kali kali masih pada melek" ujarku di depan gerbang rumah orangtuaku.


Setelah kuyakin keadaan mendukung ku ajak Ria masuk dan menuntunnya ke kamarku.


"Maaf ya Vi baru ketemu lagi udah ngerepotin kamu" bisiknya


"Santai aja, tapi emang kamu ngga bakal dicariin? "


"Engga Vi, dirumah aku cuma sama papa."


Takut semakin menyakitinya kuputuskan tak bertanya lebih, yang ku yakini Ria mempunyai masalah yang cukup rumit.


"Vi aku pengen mandi, bisa pinjam baju? "


Untunglah kamarku berfasilitas kamar mandi dalam, jadi tak perlu berjinjit jinjit keluar kamar untuk mengantarnya mandi.


"Nih baju, handuk sama celana Ri, sabun aku sabun cair jd kamu bisa pakai, oh iya ini sikat gigi baru. "


* * * * * * * * * * * * * * * * *


Ria memakai sabun, sampo yang biasa kugunakan . Familiar di hidungku, Aroma yang sama yang kucium setiap harinya, tapi mengapa aroma itu membuatku berdebar . Geli membayangkan aroma tubuh kami hari ini sama.


Dikeringkan nya rambut panjang lurusnya dengan handuk. Kuperhatikan wajah dan tubuhnya diam-diam.


Dengan lebam dan tanpa riasan pun kuakui Ria cantik, teramat cantik.


Dan rasa berbeda kekaguman berbeda kurasakan saat melihatnya mengenakan pakaian ku.


"Kamu anak tunggal? " sapanya


"Ada Mamas, tapi kuliah di Jogja. "

__ADS_1


"Oh, kirain samaan kaya aku. anak tunggal. hehe"


Aku heran kenapa Ria bisa setenang ini, dia ada didalam kamar bersama seorang laki-laki, tapi ekpresi dan gelagatnya tidak menunjukkan kecanggungan sama sekali.


Apakah ini bukan kali pertamanya?


"Kamu tidur, udah ganti hari malah. " ujarnya, waktu pun menunjukkan jam 2 pagi. Aku memang harus tidur tapi bagaimana aku bisa tidur dalam kondisi seperti ini?


"Besok aku bolos, jadi gampang. Kamu tidur,"


Bagaimanapun besok tak mendukungku bisa berangkat.


Yang pasti membuatku bolos adalah tak tenang meninggalkan Ria dikamarku saat sekolah.


"Samaan aku juga bolos, mau gimana lagi seragam dan lainnya pun aku ngga bawa"


"Hahaha, besok ortu ku pada kerja, kamu aku anter pas udah pada berangkat ya. Ngga baik kabur lama. Nginap gini juga kan ngga baik, apalagi kamu ngga ijin. "


"Iya sih, tapi malam ini aku ngga mau dirumah, besok udah tenang baru balik. Janji "timpal Ria


Kunyalakan Tv untuk meredam suara ngobrol kami.


Kuberanikan duduk disebelahnya , berusaha terlihat santai.


"Apa? "


"Inget ngga pas smp kamu pernah teriakin namaku di Lapangan sekolah, Ya meski kamu dikerjain temen, kalah main basket kena hukuman manggilin aku,


ARIA ARIA gitu haha"


Malu, awkward!


"Jangan dibahas haha, aku gatau malu ya kenal kamu engga teriakin namamu. "


"Justru karna itu aku jadi tanpa sadar selalu nyari sosok kamu hehe"


Selalu membuat jawaban tak terduga oleh ku.


Dan lagi-lagi berhasil membuat ku salah tingkah.

__ADS_1


Ria merebahkan badannya dikasurku.


Setengah mati aku mencoba membelakangi Ria, duduk di karpet dan bersandar di dipan kasurku.


Obrolan kecil terjadi cukup lama hingga tak terdengar lagi sautan darinya, samar-samar terdengar suara nafas Ria mulai teratur.


Kutengok kebelakang, sesuai dugaan Ria tertidur.


Ku amati Ria dalam diam,


Setiap inci diwajahnya bagiku amat menarik, jari-jarinya yang lentik, dan aku yakin Ria memiliki badan munggil berisi dibalik pakaianku yang besar.


"Bagaimana aku bisa tidur jika begini? "


Ku kutuk diriku, ternyata dugaanku salah.


Mau itu dirumah orangtuaku kek atau dimanapun itu, teramat sulit mengontrol rasa penasaranku.


Ku sibukan diriku dengan laptopku, berusaha tak melirik Ria.


Dan ternyata tetap percuma.


Wajah tidurnya sangat menarik bagiku.


Kudekatkan wajahku, mengamatinya dari dekat.


Dengan lembut membelai pipinya.


Terdengar gumaman lirih dari bibirnya semakin memaksaku mengamati bibir itu.


Tanpa kusadari, bibirku mendekat, mengecupnya dengan lembut.


Entah orang seperti apa Ria, entah apa yang dia pikirkan tentangku.


Lewat kecupan sepihakku, aku sadar Ria mulai masuk dalam hatiku.


Menerobos paksa tanpa aba-aba..


Satu yang kuyakini aku ingin menjaga senyumnya, melindunginya semampuku, berjanji menjadi tempat ternyaman untuknya.

__ADS_1


Aria maaf telah menciummu tanpa permisi...


**BERSAMBUNG**


__ADS_2