
Sebelum sampai ke rumah Billy, Ranty meminta Farel mengantarkannya ke sebuah apotik terlebih dahulu yang berada di kompleks perumahan mereka. Ranty membeli beberapa vitamin dan test pack untuk Ayana karena terakhir kali Ranty dan Ayana bertemu, Ranty sempat memeriksa Ayana dan Ranty memperkirakan kalau Ayana sedang hamil.
Tak lama mereka pun sampai di rumah Billy karena rumah mereka satu kompleks jadi tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ke sana. Setelah Farel memarkirkan mobilnya Ranty dan Farel sama-sama turun dan langsung masuk ke dalam rumah, Billy yang sudah menunggu Ranty dari tadi langsung keluar kamar untuk menemui mereka.
"Gimana mas apa mbak Ayana sudah sadar?." Tanya Ranty.
"Sudah tapi masih kelihatan lemas dan wajahnya pucat sekali Ran." Jawab Billy.
"Kalau gitu biar aku periksa dulu ya mas." Ucap Ranty langsung berjalan masuk ke dalam kamar Billy dan Ayana.
Saat Ranty masuk Farel dengan santai ikut masuk ke dalam kamar Billy dan Ayana, Billy yang masih di depan pintu langsung memegang lengan Farel.
"Kamu mau kemana Rel?." Tanya Billy.
"Ya ikut istri ku lah mas, sekalian mau melihat keadaan Ayana." Jawab Farel santai.
"Gak boleh, Ayana gak memakai penutup kepala dan saat ini dia juga lagi pakek baju yang sedikit terbuka." Jawab Billy.
Ranty yang mendengarkan perdebatan antar kakak adik itu pun berbalik menghampiri mereka yang masih ada di depan pintu.
"Kalian ini, gak pakek ribut memang gak bisa. Lebih baik mas Farel dan mas Billy tunggu di luar saja dari pada mengganggu kalau ikut ke dalam." Ucap Ranty sambil mengusir kedua kakak beradik itu lalu menutup pintu kamar.
Setelah menutup pintunya Ranty pun langsung berjalan ke arah tempat tidur yang di mana Ayana sedang berbaring dengan ke adaan lemas.
"Assalamualaikum mbak." Sapa Ranty pelan.
"Waalaikumsalam." Jawab Ayana dengan suara pelan dan sedikit serak.
"Masih lemas?." Tanya Ranty.
__ADS_1
Ayana menjawab dengan anggukan kepala saja
"Apa mbak Ayana sudah menemui dokter Diana untuk periksa?." Tanya Ranty sambil memeriksa keadaan Ayana.
"Aku belum sempat Ran, ada akreditasi rumah sakit dan harus segera di selesaikan." Jawab Ayana.
"Lebih penting mana rumah sakit atau kesehatan mbak Ayana? Apa. Sudah test menggunakan test pack juga?." Tanya Ranty.
"Belum." Jawab Ayana.
"Aduh mbak ini. Ini buruan test jangan di tunda - tunda dong mbak." Ucap Ranty sambil memberikan kantong plastik yang berisi tiga test pack yang berada.
"Banyak sekali." Ucap Ayana sambil mencoba bangun dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi.
"Ya gak apa. Takutnya salah satu dari test pack itu ada yang kurang falit. Ayo mbak aku bantu untuk ke kamar mandi." Jawab Ranty sambil membantu Ayana turun dari tempat tidur dan mengantarkannya masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama Ayana keluarga dari kamar mandi dengan wajah ceria tetapi sambil menangis bahagia. Dia pun berjalan menghampiri Ranty yang sedang menyiapkan infus untuk Ayana, sambil menangis Ayana memeluk dan mengucap syukur kepada Allah karena hasil dari ketiga test pack itu menyatakan bahwa dirinya positif hamil.
Ranty yang menerima pelukan dari Ayana pun terkejut tetapi dia menyadari kalau hasilnya menunjukkan bahwa Ayana sedang hamil walau Ayana belum mengatakan kepadanya.
"Alhamdulillah Ran hasilnya positif." Ucap Ayana yang masih memeluk Ranty.
"Alhamdulillah mbak, selamat ya. Tetapi mbak harus tetap mengeceknya ke dokter memastikan nya lagi." Ucap Ranty.
"Iya, insyaallah besok aku akan menemui dokter Diana untuk memeriksakannya." Ucap Ayana.
"Emmmm... Biar besok aku temani mbak Ayana menemui dokter Diana." Ucap Ranty.
"Iya Ran makasih." Ucap Ayana.
__ADS_1
"Untuk apa infus itu?." Tanya Ayana heran.
"Ya untuk mbak dan baby yang ada di dalam perut mbak Ayana, ini isinya vitamin coba mbak cek dulu, kalau mbak Ayana gak mau aku pasang juga gak apa." Jawab Ranty.
"Kamu pasang saja Ran." Ucap Ayana setelah melihat infus apa yang akan di berikan oleh Ranty.
"OK, oh iya mbak apa mbak Ayana sudah memberitahukan kepada mas Billy?." Tanya Ranty.
"Belum Ran." Jawab Ayana.
"Gimana kalau kita bikin kejutan untuk mas Billy." Ucap Ranty.
"Aku masih belum bisa mikirin itu Ran, merasakan badan ku yang sekarang lemas ini jadi gak bisa mikir caranya gimana." Jawab Ayana.
"Sudah mbak tenang saja biar aku yang rencanain semua mbak Ayana tinggal duduk manis saja. Gini rencananya." Ucap Ranty.
Ranty menceritakan kepada Ayana tentang rencananya untuk memberi kejutan kepada kakak ipar nya itu. Pertama Ranty meminta Ayana membuat ekspresi wajah sedih saat menyerahkan hasil test pack yang Ranty masukkan kedalam amplop rumah sakit yang biasanya digunakan untuk di berikan kepada pasien yang habis melakukan pemeriksaan kesehatan atau cek penyakit tertentu agar mas Billy akan memikirkan kalau Ayana terkena sesuatu penyakit. Ranty menjelaskan rencananya secara terperinci agar saat Billy mengetahuinya dia akan terkejut dan senang.
"Gimana mbak rencana ku ini." Tanya Ranty.
"Bagus juga ide mu Ran." Jawab Ayana.
"Oke mbak, kita mulai ya. Oh iya sekali lagi selamat dan doakan aku supaya bisa cepat menyusul mbak Ayana." Ucap Ranty.
"Amin, semoga Allah mendengar doa kita." Jawab Ayana sambil mengelus perut Ranty.
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA.
__ADS_1