Itu Kamu

Itu Kamu
Eps 139...


__ADS_3

Sudah dua bulan setelah kejadian itu. Keadaan Ranty sudah membaik dan sudah melakukan aktifitas seperti biasanya. Pagi itu di ruang makan Ranty sedang menyiapkan bekal yang akan di bawa oleh Rafi ke sekolah dan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.


"Pagi sayang." Sapa Farel sambil mencium kepala Ranty.


"Pagi." Balas Ranty.


"Mana Rafi sama Edi kok masih belum turun?." Tanya Farel sambil duduk dan menikmati segelas kopi yang sudah di siapkan Ranty.


"Habis gini mereka juga akan turun." Jawab Ranty.


Tak lama mereka berdua pun turun kebawah menuju ruang makan.


"Assalamualaikum." Salam Edi dan Rafi bersama.


"Pagi pa, bun." Ucap Rafi.


"Pagi." Balas Farel.


"Lama sekali kalian biasa duluan kalian yang ada di ruang makan sebelum aku." Tanya Farel.


"Om Farel yang kecepatan datangnya mungkin, biasanya juga yang kita bertiga yang sudah ada di ruang makan menunggu om, ya kan Raf." Jawab Edi.


"Iya biasanya kan papa datang nya kalau kita sudah selesai makan, kenapa papa kok sudah ada di ruang makan sekarang." Ucap Rafi sambil meminum segelas susu.


"Apa benar aku yang kecepatan datangnya ke ruang makan ya?." Tanya Farel kepada Ranty.


"Sudah gak usah di bahas siapa yang duluan ada di meja dan ruang makan. Sekarang waktunya makan buruan nanti kalian berdua telat." Perintah Ranty kepada mereka bertiga.


Karena mendengar perintah Ranty seperti itu mereka bertiga pun langsung terdiam dan mulai mengambil sarapan mereka, di sela-sela makan mereka sesekali mereka bercanda agar suasana makan mereka menjadi lebih menyenangkan.


Setelah selesai makan Edi dan Rafi langsung berangkat menuju kampus dan sekolah. Hari itu Rafi memilih diantara oleh Edi agar lebih cepat sampai di sekolah.


Di dalam kamar Farel yang sedang merapikan beberapa berkas yang akan di bawa ke kantor dan melihat istrinya yang baru saja masuk ke dalam kamar untuk berdandan serta berganti pakaian.


"Sayang, apa mereka sudah berangkat?." Tanya Farel.


"Sudah mas, mereka berdua sudah berangkat. Hari ini Edi minta ijin memakai mobil jadi aku pinjamkan mobil ku. Karena mobil ku hari ini gak ada, jadinya hari ini aku akan memakai mobil mas dan menjadi sopir antar jemput suami ku." Ucap Ranty sambil berdandan di depan meja riasnya.

__ADS_1


Farel tak menjawab dia langsung berjalan menghampiri Ranty dan di pelukannya dari belakang sambil mencium kepala dan leher Ranty yang membuat Ranty merasa geli.


"Akan aku turuti semua kemauan mu, aku akan dengan senang hati kalau supir pribadi ku secantik ini." Bisik Farel sambil menggigit telinga Ranty.


Sambil mencium telinga dan leher Ranty, tangan Farel mulai bermain nakal masuk kedalam kemeja Ranty. Ranty pun langsung menghentikan kenakalan suaminya itu. Karena hari ini Ranty memiliki banyak kesibukan di rumah sakit.


Ranty mulai berbalik menghadap Farel lalu melihat wajah suaminya yang sudah bergairah ingin memakan dirinya. Ranty memegang kedua pipi Farel lalu mencium bibirnya sekilas karena takut akan keterusan jadinya.


"Sayang hari ini jadwal ku padat, kamu gak mau kan, kalau aku melakukan kesalahan saat aku mengoperasi pasien ku nanti." Ucap Ranty menjelaskan.


Farel hanya bisa menarik nafas mendengar ucapan Ranty. "Ya gagal deh." Ucap Farel.


"Kita bisa lakukan nanti malam, akan aku layani sepuas yang kamu mau." Ucap Ranty sambil merapikan dandanannya.


"Janji ya." Ucap Farel bersemangat.


Ranty pun menjawabnya dengan anggukan kepalanya.


"Yes." Ucap Farel senang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.


Ranty yang melihat tingkah laku Farel hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu atur saja, aku tinggal ngikut kamu, mobil juga kamu yang bawa." Jawab Farel.


"Ok, ayo kita berangkat, nanti telat." Ucap Ranty.


Mereka pun berangkat bersama menuju tempat kerja mereka. Sebelum ke rumah sakit Ranty mengantarkan suaminya ke kantornya terlebih dahulu karena jarak rumah dengan kantor Hermawan Group lebih dekat dari pada rumah sakit tempat Ranty bekerja.


Sesampainya di rumah sakit Ranty langsung bekerja sesuai jadwalnya, ada beberapa operasi yang harus dia lakukan pada pagi hari itu dan ada juga pasien baru yang harus dia tangani. Tepat waktu dhuhur operasi yang Ranty lakukan terhadap pasien-pasien selesai dan berjalan dengan lancar. Setelah menjalankan sholat dhuhur dan beristirahat Ranty langsung berjalan menuju ruangan pasien untuk memeriksa pasien yang dia tangani dan termasuk menengok Monik yang sudah menjadi rutinitasnya beberapa minggu ini.


"Apa dokter gak capek langsung ke ruangan pasien?." Tanya Winda suster jaga.


"Alhamdulillah gak dan tadi aku juga sudah sempat istirahat." Jawab Ranty.


"Oh iya, semua perkembangan pasien untuk hari ini sudah kamu catat kan tadi?" Tanya Ranty.


"Sudah dok." Jawab Winda sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ok hari ini cukup dan ini resep obat yang harus di berikan kepada mereka. Aku tinggal dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." Ucap Ranty sambil berjalan meninggalkan ruangan perawat.


Setelah memeriksa pasiennya, Ranty memiliki rutinitas baru yang dia lakukan sebelum pulang. Ranty selalu menyempatkan diri untuk melihat perkembangan keadaan Monik. Ibu Sisil yang awalnya selalu menyalakan Ranty dan Farel atas kejadian yang menimpa anaknya Monik, sekarang menjadi baik dan sangat akrab terhadap Ranty walau Farel masih belum bisa sepenuhnya memaafkan perbuatan Monik dan ibu Sisil, sehingga Farel selalu melarang Ranty untuk mengunjungi Monik karena ada rasa takut akan terjadi kejadian yang tidak terduga, tetapi Ranty selalu menjelaskan bahwa ibu Sisil sudah berubah kepada Farel. Tanpa sungkan lagi Ranty langsung masuk ke dalam kamar Monik sambil membawakan segelas teh dan kopi untuk pak Agam dan ibu Sisil.


"Tok...tok...tok." Suara pintu diketuk.


Ranty pun langsung masuk dan mengucapkan salam "Assalamualaikum."


Ibu Sisil yang sudah tahu itu Ranty langsung membalas ucapan salam Ranty. "Waalaikumsalam".


Dengan senyum manisnya Ranty langsung berjalan menghampiri ibu Sisil yang duduk di kursi dekat tempat tidur Monik dan langsung mencium tangan ibu Sisil.


"Gimana kabar tante dan om hari ini?." Tanya Ranty sambil melihat keadaan Monik.


"Alhamdulillah kami baik-baik saja dan om lagi ke kantor karena ada rapat yang tidak bisa di gantikan." Jawab ibu Sisil.


"Kalau Monik gimana kabarnya hari ini Tante?." Tanya Ranty lagi.


"Menurut dokter Hadi keadaan Monik baik dan seperti biasanya." Jawab ibu Sisil pelan.


"Kita optimis saja ya Tante kalau Monik bisa sembuh walau tidak seratus persen. Tante ajak ngobrol terus Monik dan dengarkan lantunan ayat suci Al-Quran serta doa-doa walau sekarang ini dia sedang tertidur insyaallah Monik tetap mendengar dan aku akan meminta dokter Hadi untuk menambahkan terapi pemijatan dalam pengobatan Monik agar bagian-bagian tubuh Monik tidak kaku." Ucap Ranty.


"Terima kasih ya Ran. Sekali lagi Tante minta maaf kepada mu." Ucap ibu Sisil.


Ranty hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Ibu Sisil.


"Tante boleh minta tolong kepada mu lagi?." Tanya Ibu Sisil kepada Ranty dengan serius.


Ranty pun berjalan mendekati ibu Sisil yang sedang duduk. "Boleh Tante, memangnya Tante ingin minta tolong apa?." Tanya balik Ranty.


"Sudah beberapa hari ini Tante bermimpi tentang Monik, dia meminta Tante untuk menemui Farel dan menyuruh Tante untuk meminta maaf kepada Farel atas perbuatannya, Monik juga bilang kalau belum mendapatkan maaf dari Farel dia belum bisa tidur. Sebenarnya tante gak mau menuruti permintaan Monik yang ada dalam mimpi Tante ini. Tetapi hal itu terus menerus terjadi, Monik selalu saja masuk dalam mimpi Tante." Jawab ibu Sisil menjelaskan.


Ranty memegang tangan ibu Sisil untuk menguatkannya setelah mendengar penjelasan itu. "Aku akan memberitahukan kepada mas Farel keinginan tante ini. Tante yang sabar dan ikhlas ya." Ucap Ranty.


"Insyaallah Tante sudah ikhlas kok Ran, apapun yang terjadi terhadap Monik." Ucap ibu Sisil sedih.


TERIMA KASIH

__ADS_1


TUNGGU KELANJUTANNYA


__ADS_2