
Di kantin rumah sakit, Ranty dan Ayana sedang duduk di meja paling pojok setelah mereka memesan makanan. Hari itu suasana hati Ranty sangat senang dan bahagia, di lihatnya foto hasil USG dan hasil test pack yang menyatakan bahwa dirinya sedang positif hamil.
"Selamat ya." Ucap Ayana.
"Makasih ya mbak, Alhamdulillah aku bisa menyusul mbak Ayana." Jawab Ranty.
"Iya sama-sama, oh iya kapan kamu mau bilang sama mas Farel kalau kamu sekarang ini sedang hamil?." Tanya Ayana.
"Kapan ya mbak? aku ingin memberinya kejutan, karena akhir-akhir ini sikap mas Farel sedikit berubah mbak, mungkin mendengar kabar ini sikap dia akan berubah seperti dulu." Jawab Ranty.
"Memang berubah gimana Ran?." Tanya Ayana heran.
"Mas Farel suka marah tiba-tiba tanpa alasan yang jelas." Jawab Ranty.
"Kok bisa?." Tanya Ayana.
"Aku juga gak tahu mbak. Sempat aku tanya tapi jawabannya kurang masuk akal saja, aku berfikir positif saja kalau ada masalah pekerjaan yang membuat sikapnya menjadi seperti itu." Ucap Ranty.
"Bisa jadi kaya mas Billy dulu, dia juga seperti itu kepada ku saat aku hamil dia selalu uring-uringan tetapi setelah aku memberitahunya bahwa aku sedang hamil sikapnya berubah. Bisa jadi itu bawaan bayi untuk bapaknya." Ucap Ayana.
"Masa' sih mbak?." Ucap Ranty penasaran.
"Mungkin saja." Jawab Ayana.
Saat mereka sedang asik mengobrol makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Ayana dan Ranty melanjutkan pembicaraan mereka sambil makan siang. Ayana menceritakan pengalaman nya waktu sedang mengandung Yoga. Ayana pun tak lupa menceritakan tentang Nata almarhum ibu Rafi saat mengandung Rafi dan Rafa, hal itu membuat Ranty sangat antusias dengan kehamilan nya saat ini.
"Kamu sabar saja dan cepat kamu beritahu mas Farel kalau kamu sedang mengandung biar sikap dia gak seperti itu kepada mu. Nanti akan aku ceritakan dan tanyakan kepada mas Billy apa sikap dia berubah akhir-akhir ini di kantor." Ucap Ayana.
"Iya mbak, tapi tolong rahasiakan dulu ya aku ingin memberikan kejutan kepada mas Farel." Ucap Ranty.
"Ok...." Jawab Ayana.
"Oh ya mbak Ayana ada acara gak besok?." Tanya Ranty.
"Kayaknya sih gak ada, memang ada apa?." Tanya Ayana penasaran.
"Aku mau ajak mbak Ayana ke mall membeli beberapa barang untuk membuat kejutan mas Farel." Jawab Ranty.
"Ok aku juga ada beberapa yang mau aku beli di mall itu." Ucap Ayana.
"Kalau gitu besok kita ke mall setelah kita jemput anak-anak pulang sekolah. Jadi siangnya kita bisa ajak mereka makan di sana juga." Ucap Ranty.
__ADS_1
"Ok." Jawab Ayana.
**********
Sore itu Ranty sudah selesai menyiapkan makanan. Ranty berjalan menuju ruang tengah yang di sana ada Rafi dan Edi sedang asik melihat acara kartun ke sukaan mereka. Ranty duduk di sebelah Rafi melihat anak dan adiknya sambil memeriksa hpnya dan menunggu kedatangan Farel. Tak lama Farel pun datang membawa beberapa gelas kopi instan dan teh serta dua kotak martabak telur dan terang bulan.
"Assalamualaikum." Ucap salam Farel.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka semua.
"Papa." Sapa Rafi sambil berlari menghampiri Farel.
"Kamu tahu saja kalau papa pulang bawa ini." Ucap Farel sambil memberikan kotak yang berisikan makanan.
"Tahu dong sudah tercium baunya." Ucap Rafi.
Ranty menghampiri Farel untuk membantu membawakan tas kerjanya dan kantong yang berisi beberapa gelas minuman.
"Ini apa mas? kok banyak sekali kamu membeli kopi dan teh." Ucap Ranty heran.
"Oh itu tadi aku di kasih sama Monik." Jawab Farel.
"Iya itu tadi di kasih sama Monik dia membelikan untuk Rafi dan kamu juga kok." Ucap Farel.
"Kenapa sebanyak ini?." Tanya Ranty.
"Ya mana aku tahu, sudah gak usah dipikirin. Dikasih gratis ya di syukuri saja kenapa harus menolak rezeki." Ucap Farel.
Ranty gak banyak berfikir lagi karena Ranty percaya dengan perkataan Farel. Ranty pun memasukkan kopi dan teh itu ke dalam kulkas lalu masuk ke dalam kamar mengikuti suaminya untuk menyiapkan keperluan Farel, karena waktu magrib akan segera tiba, seperti biasa mereka akan melaksanakan sholat berjamaah.
Setelah selesai sholat berjamaah mereka semua pun makan bersama tidak ada yang berbicara saat itu. Mereka semua menikmati masakan yang di masak oleh Ranty.
"Pa, hari ini sibuk?." Tanya Rafi.
"Gak, memang ada apa?." Tanya balik Farel.
"Bantuin Rafi mengerjakan PR, om Edi sibuk jadi gak bisa membantu aku untuk mengerjakan." Jawab Rafi.
"Iya om Farel, maaf besok aku ada ujian jadi seminggu ini aku gak bisa di ganggu dulu." Ucap Edi menjelaskan.
"Ok, nanti papa bantu. Sekarang kita lanjutkan makan." Ucap Farel.
__ADS_1
Mereka semua pun melanjutkan makan mereka. Edi yang habis dulu makannya langsung mencuci piring dan naik ke atas menuju kamarnya setelah berpamitan kepada mereka. Sedangkan Farel, Ranty dan Rafi yang belum selesai makan tetap melanjutkannya. Setelah selesai Farel dan Rafi langsung menuju ruang tengah untuk mengerjakan pekerjaan rumah Rafi. Ranty yang masih di dapur melihat keakraban papa dan anak membuat hatinya senang sambil mengelus perutnya yang di dalamnya ada anggota keluarga baru.
Ranty berjalan membawa beberapa potong martabak dan terang bulan untuk mereka nikmati di ruang tengah, tak lupa dia membawa minuman yang di beri oleh Monik dan segelas kopi hangat untuk Farel.
"Ada yang perlu bunda bantu gak ni?." Tanya Ranty sambil menaruh nampan berisi makanan dan minuman.
"Gak usah Bun ini sudah mau selesai kok." Jawab Rafi.
"Pintar anak bunda." Ucap Ranty sambil mengelus kepala Rafi.
"Papanya gak?." Tanya Farel manja.
"Iya deh papanya juga pintar." Ucap Ranty.
"Sudah selesai Bun, Rafi ke atas ya mau lihat om Edi lagi apa." Ucap Rafi sambil merapikan buku dan alat tulisnya.
"Sholat dulu habis gitu baru ke kamarnya om Edi. Ingat jangan ganggu om Edi, besok dia ujian." Ucap Ranty.
"Siap Bun, da... papa da... bunda." Ucap Rafi lalu pergi naik ke atas.
Setelah Rafi pergi mereka hanya berdua di ruang tengah, seperti biasa Farel dengan manja tidur di pangkuan Ranty. Seperti biasa Ranty mulai mengusap rambut Farel dan memijat pelipis dan bagian atas kepala.
"Mas besok boleh gak aku ke mall dengan mbak Ayana?." Tanya Ranty.
Saat itu kepala Farel tiba-tiba sakit yang membuat emosinya tidak terkendali tanpa sadar Farel langsung menepis tangan dan bangun dari pangkuan Ranty sambil menatap Ranty dengan emosi.
Ranty yang melihat suaminya seperti itu pun heran.
"Kamu kenapa mas?." Tanya Ranty khawatir.
"Diam kamu." Ucap Farel sambil memegang kepalanya.
Ranty terdiam dan terkejut melihat tingkah Farel yang tiba-tiba seperti orang yang sedang membutuhkan obat. Farel berdiri dan berjalan menuju dapur lalu membuka kulkas diambinya satu gelas kopi dengan cepat Farel meminumnya. Ranty yang khawatir berjalan menghampiri Farel dilihatnya Farel sudah mulai tenang walau pandangannya masih terlihat emosi.
"Kamu gak apa-apa mas?." Tanya Ranty.
"Tolong tinggalkan aku dulu. Kepala ku masih sakit." Ucap Farel.
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA
__ADS_1