
Di dalam kamar keadaan Ranty sudah mulai membaik walau perut nya masih terasa sakit. Farel memilih sebuah kamar VVIP, kamar yang paling besar dan paling mewah agar keluarga yang ingin menemani Ranty bisa masuk kedalam kamar semua tanpa menunggu di luar untuk bergantian bertemu dengan Ranty.
"Kamu pulang saja Rel, istirahat di rumah biar ibu yang menjaga Ranty di sini." Ucap ibu Dewi.
"Farel saja bu. Ibu juga butuh istirahat perjalanan dari Semarang ke Surabaya kan jauh pasti ibu dan ayah juga capek. Aku baik-baik saja di sini juga ada tempat tidur jadi aku juga bisa beristirahat di sini" Jawab Farel.
"Biar saya saja mbak yang di sini menemani Farel. Mbak Tika dan mbak Dewi pasti capek karena perjalanan ke Surabaya besok baru kalian ke sini lagi." Ucap ibu Cici.
"Ibu pulang saja, aku bisa sendiri menjaga Ranty. Ranty juga sudah membaik dalam waktu tiga atau empat hari lagi dia sudah diperbolehkan pulang." Ucap Farel yang gak mau merepotkan.
"Ya sudah kami akan pulang jika itu keinginan mu. Ingat kamu jangan lupa istirahat dan makan, gak usah stres, besok mama akan datang bersama Rafi." Ucap Ibu Tika.
"Yang sabar ya Rel. Ikhlas pasti Allah akan menggantinya dengan yang lebih untuk kalian." Ucap ibu Dewi untuk menguatkan Farel.
"Makasih ya ma, bu." Ucap Farel dengan suara seperti akan menangis.
"Sudah jangan seperti itu, kamu harus kuat. Kami pulang dulu kalau ada apa-apa kabari kami secepatnya." Ucap pak Agus.
"Iya yah. Terima kasih banyak." Jawab Farel.
"Kami pulang ya."
"Assalamualaikum." Ucap salam mereka.
"Waalaikumsalam." Balas Farel.
Setelah mereka semua pulang tinggallah Farel dan Ranty berdua di dalam kamar. Ranty masih tertidur setelah sadar beberapa waktu lalu. Farel menatap istrinya dengan penuh kasih sayang, mencium kening serta pipinya lalu di bisikan ucapan maaf di telinga Ranty karena Farel merasa gagal menjaga Ranty.
Tiba-tiba Farel mendengar suara pintu kamarnya di ketuk. Karena gak mau membangunkan istrinya Farel buru-buru berjalan kearah pintu kamarnya lalu membukanya. Saat Farel membukakan pintu ternyata yang mengetuk pintu adalah Billy dan Anton yang baru saja menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami oleh Farel dan Ranty.
"Assalamualaikum." Ucap salam Billy dan Anton.
"Waalaikumsalam, masuk mas, ton." Ucap Farel sambil menyuruh mereka masuk.
"Aku kira siapa?." Tanya Farel sambil mempersilahkan duduk.
"Gimana keadaan Ranty sekarang Rel?." Tanya Anton.
"Alhamdulillah, sudah membaik setelah menjalani operasi tadi siang." Jawab Farel.
"Yang sabar ya". Ucap Anton.
"Iya, terima kasih banyak." Ucap Farel.
__ADS_1
"Ada apa kalian ke sini? aku kira mas Billy sudah balik pulang bersama papa dan mama?." Tanya Farel.
"Setelah Ranty dipindahkan ke kamar aku di hubungi Anton untuk menyelesaikan masalah mu ini, ya jadi sampai sekarang aku belum pulang." Jawab Billy.
"Makasih ya mas, sudah bantu aku menyelesaikan ini semua." Ucap Farel yang masih malas membahas masalah ini.
"Aku tahu kamu masih enggan menanggapi dan membahas masalah ini, tetapi kamu harus juga ikut menyelesaikan masalah ini Rel, biar cepat selesai dan kamu gak akan berurusan dengan hal ini lagi untuk selanjutnya biar kami dan pihak kepolisian yang menyelesaikannya." Ucap Anton.
"Memang gak bisa ya aku meminta bantuan kalian untuk menyelesaikan masalah ini?." Tanya Farel.
"Gak." Jawab Billy dan Anton bersamaan.
Farel yang mendengar dan melihat jawaban mereka berdua pun tersenyum.
"Pihak kepolisian juga memerlukan keterangan dari kamu dan juga Ranty." Ucap Anton.
"Iya pak Anton mantan kapten polisi, tapi untuk saat ini aku belum bisa berfikir jelas, bisa gak aku minta waktu." Ucap Farel.
"Itu bisa diatur yang jelas kamu harus memberikan kesaksian dan keterangan kepada pihak kepolisian agar masalah ini dapat cepat diproses." Jawab Anton.
"Keadaan Monik gimana?." Tanya Farel.
"Kenapa kamu masih tanya keadaan dia?." Tanya Billy.
"Cuma ingin tahu saja." Jawab Farel.
"Astaghfirullah." Ucap Farel yang ikut prihatin.
"Kamu gak perlu memikirkan dia cukup pikirin Ranty dan keadaan mu saja." Ucap Anton.
"Iya pak." Ucap Farel sambil memberikan hormatnya.
"Gimana Rafi mas?." Tanya Farel.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja, Rafi anak yang kuat. Ayana sudah memberitahukan hal ini kepada Rafi, awalnya dia sangat sedih tetapi setelah diberikan pengertian oleh Ayana akhirnya Rafi pun menerima kalau Adiknya sudah pergi." Jawab Billy.
"Ya Allah gak tega aku melihat Rafi seperti itu, padahal dia begitu senang kalau sebentar lagi akan mempunyai seorang adik." Ucap Farel.
"Sabar ya, Pasti Allah akan menggantinya." Ucap Anton.
Farel hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sahabatnya.
"Oh iya Rel, dapat salam dari Rico, dia minta maaf gak bisa ikut jenguk dan mengurusi masalah ini. Pekerjaan yang kamu berikan membuat dia sibuk dengan kerjaannya, dia juga gak bisa meninggalkan Lesti untuk saat ini." Ucap Billy.
__ADS_1
"Iya mas gak apa, aku juga sudah tahu kok, tadi dia juga sudah menghubungi ku." Jawab Farel.
Setelah puas berbicara untuk sedikit menghibur Farel, mereka berdua pun memutuskan untuk berpamitan karena hari sudah mulai malam dan Farel juga perlu istirahat.
**********
Ranty terbangun karena ingin ke kamar mandi. Sebelum dia bangun dari tempat itu dia melihat di sekeliling kamar. Pertama kali yang dia lihat adalah Farel yang tertidur di sebelahnya sambil menggenggam erat tangan Ranty. Perlahan-lahan Ranty bangun dari tempat tidur agar tidak membangunkan suaminya tetapi usahanya gagal karena Farel merasakan gerakan saat Ranty berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Farel. Farel yang merasakan itu langsung terbangun sigap walau Farel terlihat gelagapan karena tiba-tiba bangunan.
"Ada apa sayang, apa ada yang sakit, kamu mau apa biar aku yang mengambilkannya untuk mu." Ucap Farel kepada Ranty.
Ranty pun hanya tersenyum melihat dan mendengar suaminya seperti itu. "Maaf sudah membangunkan mu. Aku cuma ingin ke kamar mandi." Ucap Ranty.
"Kenapa gak membangunkan aku, sini biar aku bantu." Ucap Farel.
"Aku bisa sendiri kok mas, mas Farel tunggu di sini saja." Ucap Ranty karena merasa gak enak dan malu.
"Memang nya kenapa? lagian semua yang ada pada diri mu sudah sering aku lihat, kenapa harus malu." Ucap Farel.
"Iya aku tahu mas sudah sering melihat ku, tapi sekarang aku lagi...." Ucap Ranty tidak di teruskan karena malu.
Farel yang tahu hal itu pun tidak memaksa Ranty lagi. "Kalau gitu aku akan membantu mu masuk ke dalam kamar mandi saja. Apa yang kamu butuhkan biar aku mengambilkannya untuk mu." Tanya Farel.
"Makasih ya sayang, tolong ambilkan pembalut yang ada di laci itu, seingat ku semalam dokter Diana memberitahu ku kalau dia menaruhnya di sana." Ucap Ranty sambil menunjuk nakas."
Farel pun menuju nakas lalu mengambil sebuah pembalut lalu di berikan kepada Ranty. "Ini sayang." Ucap Farel.
"Makasih." Jawab Ranty lalu menerima pembalut itu.
Saat Ranty akan turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, Farel pun dengan sigap langsung menggendongnya dan membantunya berjalan menuju kamar mandi.
"Mas."
"Kamu sudah aku bilangin kalau kamu mau ke kamar mandi biar aku antar. Sudah mulai nakal ya." Ucap Farel.
"Iya aku tahu tapi gak perlu di gendong juga kan." Ucap Ranty.
"Sudah gak usah banyak bicara. Kalau sudah selesai atau butuh bantuan ku, kamu langsung panggil aku." Ucap Farel dan langsung menurunkan Ranty.
"Iya mas. Makasih ya sayang." Ucap Ranty.
Saat Ranty akan menutup pintu kamar mandi Farel langsung berteriak dari luar untuk tidak menutupnya pintu kamar mandi. Karena sudah tidak tahan Ranty pun tidak mau berdebat dan memutuskan untuk menuruti perintah suaminya.
**TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA.
Maaf kalau kemarin up nya 2x dan sama, karena sambungan internet lagi trouble dan tiba-tiba yang saya up hilang jadinya saya up sekali lagi eh ternyata 2x up nya. 🙏🙏🙏🙏**