Itu Kamu

Itu Kamu
Eps 150...


__ADS_3

Farel menggenggam tangan Ranty dan memulai pembicaraan yang sederhana menanyakan apakah dia baik-baik saja, menayangkan keadaan Ayana dan juga menanyakan tentang anak mereka Rafi. Pada saat Ranty sudah mulai santai Farel pun mulai pada inti apa yang ingin dia tanyakan.


"Sayang." Panggil Farel.


"Iya mas. Ada apa?." Ucap Ranty.


"Aku ingin bertanya, mungkin ini sedikit serius, aku gak memaksa mu untuk menjawabnya, tetapi seenggaknya aku ingin kamu memberitahu ku apa yang sebenarnya terjadi. Aku gak ingin menerka-nerka dan membayangkan hal-hal yang aneh yang akan terjadi kepada mu Ran." Ucap Farel.


Ranty pun terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Di menyandarkan kepalanya di bahu suaminya menenangkan hati sebelum menjawabnya. Setelah di rasa sudah siap Ranty pun mulai menjawab dan menjelaskan semua yang telah terjadi tadi.


Ranty menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya kembali dengan tenang dia pun berbicara.


"Sebelum nya aku minta maaf mas, membuat mu khawatir dan mungkin mas Billy sudah memberitahukan secara singkat apa yang terjadi tadi kepada ku dan apa yang aku lakukan di dalam kamar mbak Ayana." Ucap Ranty berhenti sebentar.


Ranty membalikkan badannya kehadapan Farel, mereka berdua dan saling berhadapan, Farel dengan cepat memegang tangan Ranty agar dia tetap tenang untuk menceritakan dan menjelaskan apa yang sedang terjadi saat itu.


Ranti mulai menjelaskan kembali. Di tariknya nafas dan menghembuskan nya lagi agar dia kembali lebih tenang.


"Di dalam kamar mbak Ayana meminta ku untuk melakukan tes kehamilan mas." Ucap Ranty.


"Terus hasilnya?." Tanya Farel penasaran.


Sebelum menjawabnya Ranty turun dari tempat tidur dan berjalan menuju meja untuk mengambil hasil tes pack untuk di perlihatkan kepada Farel. Setelah mengambil Ranty pun kembali lalu duduk dihadapan suaminya lagi, ada perasaannya takut untuk memberitahukan hasil itu, walau hasil tes menunjukkan bahwa Ranty positif hamil tapi masih ada keraguan yang takutnya akan membuat semua orang kecewa terlebih lagi suaminya itu. Di lihat wajah Farel yang penuh tanya akhirnya Ranty langsung memberikan tes pack tersebut kepada Farel. Farel yang melihatnya hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi wajah senang atau sedih. Hal itu membuat Ranty semakin takut dengan keadaan ini.


Dengan hati-hati Ranty memanggil Farel yang terdiam memandangi tiga hasil tas pack itu.


"Mas." Panggil Ranty pelan.


Karena tidak ada tanggapan atau respon Ranty pun memanggilnya kembali dengan sedikit keras sambil menyentuh tangan suaminya. Farel yang terdiam pun tersadar dari lamunannya dan mulai bertanya tentang hasil dari tes pack itu.


"Alhamdulillah, sayang, apa benar ini hasilnya." Ucap Farel yang sedang ragu.

__ADS_1


Farel pun yang menanyakan hal itu juga sedikit takut apa bila hasil tes pack itu tidak sesuai kenyataannya karena Farel tahu apa yang sedang di alami Ranty dan kondisi istrinya saat ini.


Ranty hanya mengangkat bahunya karena merasa tidak tahu dan ragu dengan hal itu.


"Aku gak tahu mas. Mas Farel pasti tahu dengan kondisi ku kan, selama aku menjalani pengobatan dan program kehamilan. Makanya aku ragu dan takut akan mengecewakan semua dengan hasil tes pack itu. Mama yang mengetahui hal itu saja langsung senang, gimana mas aku takut." Ucap Ranty sambil menggenggam tangan suaminya.


"Aku juga bingung harus bagaimana?. Aku juga takut dengan hal ini, aku takut hal ini membuat mu sedih." Ucap Farel.


"Terus gimana mas?." Tanya Ranty bingung.


"Kita jalanin saja dulu, kamu juga gak usah ragu, yakin saja kalau kamu sedang hamil, kalau pun hasilnya salah kita akan terus mencoba, Allah gak akan memberikan kita cobaan yang tidak sesuai dengan kemampuan kita untuk menghadapi nya dan Allah akan memberikan kita jalan yang terbaik buat kita jalanin." Ucap Farel menguatkan Ranty.


"Iya mas, makasih ya." Jawab Ranty yang sudah mulai menetes air matanya.


Farel yang melihat Ranty menangis langsung memeluk dan menenangkannya agar dia tidak larut dengan kesedihannya itu. Setelah Ranty tenang Farel pun mulai bertanya kembali.


"Terus gimana menurut mu sekarang?." Tanya Farel.


"Aku sudah bikin janji dengan dokter Diana, besok akan aku pastikan apakah aku hamil atau tidak." Jawab Ranty yang sudah mulai tenang.


Ranty menganggukkan kepalanya. "Makasih ya sayang kamu selalu mendukung dan menguatkan ku." Ucap Ranty sambil memeluk Farel dengan erat.


Farel pun tersenyum melihat istrinya sudah kembali seperti semula. "Iya...iya, terus mana?." Ucap Farel.


Ranty melepas pelukannya dan menatap wajah Farel karena tidak mengerti akan maksudnya itu.


"Maksudnya?." Tanya Ranty heran.


"Hadiahnya dong?." Tanya Farel sambil menyentuh bibir Ranty.


Tanpa menunggu jawaban dari Ranty, Farel pun langsung mencium dan memeluknya, Ranty yang sudah mengetahui kelakuan suaminya itu hanya bisa mengikuti permainannya saat itu dan malam panas pun terjadi lagi di kamar tamu bukan di kamar mereka.

__ADS_1


**********


Sebelum subuh Ranty dan Farel bergegas pindah kedalam kamar mereka yang terletak di lantai dua. Setelah mereka berdua selesai melakukan hal-hal yang menyenangkan dan beristirahat sebentar di kamar tamu, Ranty pun langsung membangunkan Farel dan memintanya untuk pindah ke kamar atas agar saat subuh mereka bisa cepat untuk melaksanakan mandi besar dan dapat istirahat lebih leluasa di kamar mereka.


Dan di pagi itu Ranty dan Farel turun bersamaan yang membuat pak Hermawan dan ibu Tika yang berada di ruang tengah sedikit terkejut karena mereka tahu kalau anak dan menantunya semalam tidur di kamar tamu tetapi kenapa mereka berdua berada di atas.


"Bukannya semalam kalian tidur di kamar tamu?." Tanya ibu Tika.


"Iya ma, semalam kami pindah, gak nyaman soalnya di kamar tamu." Jawab Farel.


"Gak nyaman atau takut kedengaran mama sama papa?." Ucap Billy menambahkan jawaban adiknya.


Sontak ucapan Billy membuat Farel dan Ranty salah tingkah. Ranty yang malu hanya bisa menunduk kepalanya sedangkan Farel mulai berdebat ringan dengan Billy layaknya anak kecilnya merebutkan mainannya. Sedangkan bu Tika dan pak Hermawan yang melihat kedua anaknya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


Ayana yang sudah hafal dengan tingkah laku suami dan adik iparnya itu tidak terkejut, dia pun mengajak Ranty ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk semua keluarga. Karena Rafi dan Yoga ada kegiatan di sekolah maka untuk hari itu mereka berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya.


"Rafi dan Yoga sudah berangkat ya mbak?." Tanya Ranty basa-basi untuk mencairkan suasana.


"Iya mereka sudah berangkat, maaf ya perkataan mas Billy tadi." Ucap Ayana.


"Iya gak apa mbak, makasih dan maaf kami berdua bangun telat jadi aku gak bisa membantu untuk menyiapkan perlengkapan yang akan di bawa Rafi ke sekolah." Ucap Ranty malu.


"Santai saja gak apa kok. Gimana apa kamu sudah menyampaikan kejadian semalam kepada Farel?." Tanya Ayana.


"Sudah mbak, dan hari ini aku dan mas Farel akan ke rumah sakit untuk konsultasi ke dokter Diana." Jawab Ranty.


"Semoga hasilnya yang terbaik ya Ran." Ucap Ayana.


"Amin."


Mereka berdua menyiapkan sarapan sambil berbincang santai dan saat itu tiba-tiba Ranty merasakan sakit perut yang teramat sakit tetapi masih bisa dia tahan agar keluarga yang berada di sana tidak menghawatirkan dirinya. Saat Ranty berjalan menuju meja makan sambil membawa lauk dia merasakan kram perut yang membuatnya terjatuh dan pingsan. Hal itu membuat orang yang berada di situ langsung berlari menghampiri Ranty.

__ADS_1


TERIMA KASIH


TUNGGU KELANJUTANNYA.


__ADS_2