
Siang itu Ranty dan Farel sudah berada di rumah mereka, keadaan rumah mereka cukup ramai karena di sana sudah ada beberapa orang yang datang terutama keluarga inti dari mereka berdua.
"Gimana keadaan mu sekarang sayang?." Tanya ibu Tika yang duduk di sebelah menantunya.
"Alhamdulillah ma, aku sudah sehat." Jawab Ranty.
"Tapi kenapa kok wajah mu masih terlihat sangat pucat?." Tanya ibu Cici.
"Waktu di rumah sakit tadi kami sempat.....ah...." Ucap Farel terhenti dan sedikit berteriak karena saat akan berbicara Ranty meremas pahanya sehingga Farel berteriak.
"Kami sempat jalan-jalan di halaman rumah sakit ma, mungkin karena kelamaan jalan-jalannya jadinya capek deh, ya kan mas." Ucap Ranty yang buru-buru memotong ucapan Farel dan dengan senyum manisnya Ranty memberikan isyarat kepada Farel untuk mengiyakan ucapannya.
Farel yang melihat isyarat dari Ranty hanya bisa menjawab dengan pasrah. "Iya sayang." Ucap Farel.
"Kamu jangan capek-capek, istirahat saja dulu." Ucap pak Hermawan.
"Tu dengar kata papa. Jangan banyak mikir dan istirahat saja dulu. Benar gak pa, yah." Ucap Farel menghibur Ranty.
"Iya benar, kamu gak usah mikirin masalah yang kemarin. Sehatkan badan mu dulu." Ucap pak Hermawan.
Mereka semua pun saling berbincang dan bergurau sampai tak terasa waktu sudah semakin sore. Pak Agus dan ibu Cici pun berpamitan terlebih dahulu lalu di susul oleh keluarga pak Hermawan serta Billy yang juga berpamitan. Setelah semua pulang di rumah terasa sepi. Ranty yang sudah terlihat capek akhirnya masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Karena kecapekan Ranty pun tertidur cukup lama. Dia pun terbangun dan saat dia terbangun di lihatnya Farel yang berada di sebelah sedang membelai mesra rambutnya.
"Kamu sudah bangun sayang? gimana tidur mu nyenyak?." Tanya Farel.
Ranty pun menganggukkan kepalanya. "Sekarang jam berapa?." Tanya balik Ranty sambil bangun dari tidurnya.
"Jam enam sayang." Jawab Farel.
__ADS_1
"Astaghfirullah, kenapa mas gak bangunin Ranty." Ucap Ranty yang buru-buru turun dari tempat tidur.
Saat akan turun Farel pun langsung menarik tangannya dan langsung memeluknya untuk kembali berbaring di sebelahnya.
"Biarkan aku mandi dulu mas, badan ku gerah rasanya gak enak." Ucap Ranty memohon.
"Ya sudah tapi sebelum mandi aku minta cium dulu." Ucap Farel sambil menunjuk bibirnya.
"Ok." Jawab Ranty.
Ranty memegang kendali saat itu agar Farel tidak menahannya terlalu lama. Ranty dengan cepat mencium bibir suaminya dan dengan cepat pula dia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi Ranty pun sudah terlihat lebih segar dan rasa capeknya sudah hilang. Ranty keluar kamar dan dilihatnya kedua orang tuanya, Farel, Rafi dan juga Edi sedang menjalankan sholat isya', sedangkan dia sendiri masih berhalangan untuk melaksanakan sholat akhirnya dia memutuskan untuk menyiapkan dan menata makanan di meja makan untuk makan malam mereka yang sudah di masak oleh ibu Dewi. Tak lama pun akhirnya Ranty menyelesaikannya, sambil menunggu mereka selesai sholat, Ranty duduk di depan meja makan sambil menikmati segelas teh hangat dan beberapa roti yang di bawakan oleh Billy.
Bu Dewi yang sudah selesai sholat langsung berjalan menuju meja makan untuk menyiapkan makanan, tetapi dia terkejut saat melihat Ranty yang sedang duduk santai di depan meja makan yang sudah tertata rapi.
"Kamu sudah bangun Ran? kenapa gak di kamar saja biar ibu antar makanan mu ke kamar." Ucap ibu Dewi menghampiri Ranty.
"Ya sudah terserah kamu saja. Ibu mau bikin kopi dulu untuk papa mu." Ucap ibu Dewi menuju dapur.
"Sudah aku bikinin semua bu, kita tinggal tunggu yang lain saja untuk ke ruang makan. Ibu duduk sini temani Ranty saja." Ucap Ranty sambil menggandeng tangan ibunya untuk duduk di sebelahnya.
Tak lama satu persatu mereka menuju ruang makan untuk makan malam bersama. Rafi dan Edi tampak lahap menyantap makanan yang dimasak oleh ibu Dewi.
"Apa kamu masih gak enak makan setelah minum obat yang di berikan dokter Diana." Tanya Farel saat melihat Ranty yang tidak nafsu makan.
"Gak mas, aku sudah sudah kenyang saat kalian melaksanakan sholat tadi aku sudah makan beberapa donat yang di bawakan oleh mas Billy dan mbak Ayana dan melihat mereka berdua makan begitu lahapnya perut ku tiba-tiba menjadi tambah kenyang." Jawab Ranty.
"Ya sudah kalau gitu, ingat jaga pola makan mu." Ucap Farel.
__ADS_1
Ranty pun menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Farel
Setelah semua selesai makan Edi dan Rafi pun kembali ke kamar mereka. Pak Purnama dan Farel sedang bersantai di ruang tengah sambil menikmati kopi dan berbincang ringan. Sedangkan bu Dewi dan Ranty merapikan meja makan, karena tidak memiliki pembantu rumah tangga yang tinggal di rumah untuk pekerjaan sore sampai pagi mereka kerjakan sendiri, sedangkan pada pagi sampai sore hari ada bik Iyah yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya.
"Apa Ami aku suruh tinggal di sini saja untuk membantu dan menemani mu, Ran?." Tanya ibu Dewi.
"Itu gak perlu bu, di sini juga sudah ada bik Iyah, dia juga sudah lama ikut mas Farel kasian juga kalau tiba-tiba Ami ke sini. Lagian aku juga gak kesulitan untuk mengerjakan ini semua kok." Jawab Ranty.
"Ya sudah kalau gitu." Ucap ibu Dewi.
Setelah selesai dengan urusan dapur mereka berdua pun ikut berkumpul di ruang tengah bersama dengan pak Purnama dan Farel sambil membawa beberapa makanan.
"Gimana kelanjutan untuk masalah mu sekarang?." Tanya pak Purnama kepada Ranty.
"Kalau aku maunya sih tidak di lanjutkan yah, tapi mas Farel masih tetap ingin melanjutkan masalah ini." Jawab Ranty.
"Oh.... Kalau ayah setuju dengan Farel agar orang yang tahu permasalahan ini tidak menganggap remeh dan berfikir sebelum melakukan sesuatu." Ucap Pak Purnama.
"Tapi kasihan juga Monik, yah." Ucap Ranty.
"Ayah tahu kamu kasihan, tapi kita bisa berbuat apa? Ayah juga tahu apa yang terjadi hari ini dan apa yang kamu minta kepada dokter Hadi. Ranty.... kamu pasti tahu benar gimana kondisi Monik saat ini, jika dia sembuh dia tidak akan seperti dulu lagi, yang hanya bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa agar Monik bisa bertahan itu pun untuk saat ini." Ucap pak Purnama.
"Aku tahu pa, Monik gak akan bisa bertahan lama, apa gak ada cara untuk membantunya untuk bertahan lama untuk hidup? Aku kasih melihatnya." Ucap Ranty.
"Hanyalah Allah yang bisa menjawab dan mengabulkan permintaan mu itu dan kita hanya bisa berusaha yang terbaik untuk Monik." Jawab pak Purnama.
"Dengar ucapan ayah mu, kamu juga harus memikirkan keadaan mu sekarang." Ucap ibu Dewi menambahkan.
"Iya aku akan dengarkan semua nasehat kalian bertiga." Ucap Ranty.
__ADS_1
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA