
Setelah sampai parkir mereka pun langsung masuk kedalam mobil, Farel melajukan mobil dengan cepat tetapi cukup terkendali. Perjalanan mereka menuju Malang sangat lancar karena mereka menggunakan jalan tol untuk mempercepat perjalanan mereka. Di dalam mobil suasana keluarga sangat terasa mereka bertiga saling bercanda untuk mengisi waktu, walaupun Ranty bukan dari keluarga mereka tetapi tampak sangat akrab bagaikan keluarga.
Di sela - sela bercanda mereka, Ranty sempat bertanya tentang pembicaraan antara Farel dan Edi saat di apartemen yang membuat Ranty penasaran.
"Pak Farel." Panggil Ranty.
"Iya Ran, ada apa?." Ucap Farel yang fokus menyetir.
"Aku mau tanya tentang yang tadi, yang pak Farel dan Edi omongin saat kita akan berangkat." Ucap Ranty.
"Mau tahu?." Tanya Farel.
"Iya." Ucap Ranty sambil menganggukkan kepala.
"Tapi ada syarat nya lho." Ucap Farel menggoda Ranty.
"Idih pak Farel ini kayak ABG saja, memang apa syarat nya." Tanya Ranty.
"Jangan panggil apa pak atau bapak dong." Ucap Farel.
"Memang papa mau di panggil apa sama dokter Ranty." Ucap Rafi yang ikutan ngomong.
"Ya seenggaknya jangan bapak lah, Papa kan masih muda, keren dan Papa juga bukan bapaknya dokter Ranty." Jawab Farel.
"Kalau gitu Om aja gimana Pa, kan gak tua - tua amat." Ucap Rafi dengan polosnya.
Ranty yang mendengarkan refleks tertawa dengan keras nya. "Ha ha ha ha ha.... Benar kata mu Raf gimana kalau papa nya Rafi dokter panggil Om saja? Gimana setuju gak?." Tanya Ranty.
"Setuju." Jawab Rafi.
"Gak." Jawab Farel.
__ADS_1
Jawab Rafi dan Farel bersamaan yang membuat Ranty tambah tertawa keras karena jawaban mereka tidak kompak.
"Memang ada yang lucu." Ucap Farel kesal.
"Maaf - maaf jangan marah. Memang pak Farel mau di panggil apa?." Tanya Ranty lagi.
"Terserah kamu yang jelas jangan Om atau bapak. Kamu bisa panggil aku mas, kakak, abang, sayang, honey atau apalah yang jelas jangan Om atau bapak." Ucap Farel.
"Mau nya memang kalau aku panggil mas, kakak, abang, sayang atau honey nanti calon istri mu marah." Ucap Ranty.
"Memang siapa calon istri ku? Monik? Ranty sekali lagi aku katakan kalau dia bukan calon istri ku dan tidak akan pernah jadi. Benar gak Raf?." Tanya Farel.
"Benar Pa, Rafi juga gak mau punya ibu kayak tante Monik. Hi.... " Ucap Rafi sambil mengangkat kedua barunya.
"Gak boleh gitu Raf, walau Rafi gak suka sama tante Monik Rafi harus sopan ya sama dia. Karena tante Monik lebih tua dari pada Rafi." Ucap Ranty.
Rafi hanya menganggukkan kepala nya menjawab ucapan Ranty.
"Iya itu lebih baik ketimbang bapak atau Om." Ucap Farel sambil tersenyum.
"Sekarang aku sudah memanggil Pak Farel mas. Jadi sekarang mas Farel harus cerita apa yang mas bicarakan dengan Edi saat kita akan berangkat tadi?." Tanya Ranty penasaran.
"Aku gak bisa cerita sekarang, nanti kalau kita sudah sampai di Jatim Park dan kalau waktunya tepat aku akan cerita." Jawab Farel.
"Kenapa gak sekarang saja pak?." Ucap Ranty sambil memegang lengan Farel.
"Ranty sekarang ini aku lagi menyetir kalau aku cerita sekarang aku gak bisa konsentrasi. Aku gak mau terjadi sesuatu dengan kita selama perjalanan." Ucap Farel dengan nada sedikit tinggi.
Ranty yang mendengarkan ucapan Farel langsung duduk diam di sebelah Farel yang sedang menyetir.
Farel yang melihat Ranty cemberut hanya tersenyum di pegang nya pipi Ranty dan berucap. "Maaf jangan marah ya, sabar nanti kalau sudah sampai di sana pasti aku pasti cerita." Ucap Farel.
__ADS_1
Ranty yang mendapat perlakuan dari Farel seperti itu hanya diam, tertunduk malu lalu menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Farel.
"Astagfirullah apa - apaan sih mas Farel ini tiba-tiba memegang pipi ku membuat aku terkejut saja." Batin Ranty.
"Oh iya kamu juga Rafi kemarin malam menelepon dokter dan mau mengatakan sesuatu, memang apa yang mau kamu katakan?." Tanya Ranty.
"Ih dokter ini bukan momen yang tepat untuk mengatakan itu. Dokter Ranty ini gak pernah pacaran ya gak tahu momen yang bagus itu seperti apa." Ucap Rafi.
"Apa?."
Farel yang mendengarkan ucapan anaknya dan melihat raut wajah Ranty heran tertawa keras. "Hua ha ha ha ha ha... Itu dengar Ran anak kecil saja tahu momen untuk mengatakan sesuatu, sabar dong nanti juga kamu bakalan tahu apa yang akan kami sampaikan." Ucap Farel sambil menerus tertawa.
Ranty yang mendengarkan ucapan Farel dan Rafi merasa jengkel, Ranty pun langsung diam memayum kan mulutnya dan merujuk seperti anak kecil.
"Duh yang lagi marah, jangan gitu dong nanti cantiknya hilang lho, benar gak Raf?." Tanya Farel.
"Benar dok jangan marah ya nanti aku sama papa pasti akan langsung memberitahukan kepada dokter apa yang akan kita katakan." Ucap Rafi sambil tersenyum lebar menunjuk gigi putihnya.
Ranty menarik nafas panjang berusaha sabar kepada mereka berdua. "Iya Rafi sayang." Ucap Ranty sambil mengelus kepada Rafi.
"Cuman Rafi saja yang di lus ni, papanya juga kepingin lho." Ucap Farel sambil menaikkan turunkan kedua alisnya.
Dengan tersenyum Ranty langsung mengelus lengan Farel sambil berucap. "Iya mas Farel."
Selamat perjalanan mereka isi dengan pembicaraan dan candaan ringan. Mereka bertiga tampak seperti keluarga. Mereka akhirnya sampai tempat tujuan yaitu Jatim Park 1, Farel memiliki tempat wisata ini karena dekat dengan Kediaman orang tuanya yang ada di Malang.
Jatim Park 1 adalah sebuah tempat rekreasi dan taman belajar yang terdapat di kota Batu, Jawa Timur. Objek wisata ini berada sekitar 20 km barat kota Malang , dan kini menjadi salah satu icon wisata Jawa Timur. Objek wisata ini memiliki 36 wahana, di antaranya kolam renang raksasa (dengan latar belakang patung Ken Dedes, Ken Arok, dan Mpu Gandring), spinning coaster, dan drop zone. Wahana pendidikan yang menjadi pusat perhatian di antaranya adalah Volcano dan Galeri Nusantara yang juga terdapat tanaman agro, diorama binatang langka, dan miniatur candi-candi. Jatim Park 1 beralamat di Jalan Kartika no. 2, yang berdekatan dengan klub bunga.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA