
Di dalam kamar Ranty dan Ayana merasa senang dan gembira. Sedangkan di luar kedua laki-laki yang sedang menunggu hasil pemeriksaan Ayana merasa gugup, takut dan kawatir akan terjadi sesuatu terutama Billy yang dari tadi hanya bisa mondar - mandir di depan pintu kamarnya. Farel yang melihat kakaknya seperti hanya bisa berkata sabar, karena hal ini pernah dia rasakan saat dia kehilangan almarhum istri pertamanya Nata.
"Kok lama ya Rel, apa Ayana begitu parah? Kenapa Ranty gak keluar - keluar kalau memang parah keadaannya kita bisa langsung bawa ke rumah sakit agar bisa mendapatkan penanganan lebih baik dari pada di rumah." Ucap Billy.
"Sabar lah mas, Ranty di dalam kan juga lagi memeriksa." Ucap Farel.
"Tapi aku gak bisa sabar Rel. Aku takut karena beberapa minggu ini aku sibuk sampai - sampai aku gak ada waktu untuk bersama Ayana dan Yoga jadi aku gak tahu keadaan mereka." Ucap Billy.
"Sabar dulu mas, kita tunggu hasil pemeriksaan Ranty, setelah dia keluar baru kita tanya gimana keadaan Ayana. Sabar ya." Ucap Farel menenangkan Billy.
Tak lama Ranty keluar dengan wajah sedih, cemas dan seperti habis menangis. Billy dan Farel yang melihatnya langsung buru - buru menghampiri Ranty dan dengan cepat mereka memberondong Ranty dengan pertanyaan.
"Gimana Ran keadaan Ayana?." Tanya Billy cemas.
Ranty hanya diam dan menarik nafas nya saja.
"Dia gak kenapa - napakan Ran, kenapa kamu diam saja jawab Ran, kamu kan dokter?." Tanya Billy.
Ranty tetap tidak menjawab dia hanya menundukkan kepalanya seperti takut menjawab pertanyaan dari Billy.
"He... He... He... Berhasil rencana ku." Ucap Ranty dalam hati.
Karena tidak ada jawaban atau penjelasan dari Ranty Billy langsung masuk kedalam kamar untuk menanyakan sendiri kepada Ayana.
Farel pun yang melihat Ranty dan Billy juga ikut kawatir dengan keadaan Ayana.
__ADS_1
"Ran, Ayana baik baik saja kan?." Tanya Farel cemas.
"Kita masuk saja mas, biar mbak Ayana yang menjelaskan semuanya." Jawab Ranty.
"Tapi kamu kan dokter, kenapa gak bisa menjelaskan masalah ini." Ucap Farel.
"Kita masuk dulu karena yang bisa menjelaskan dengan jelas masalah ini hanya mbak Ayana." Ucap Ranty.
Billy masuk terlebih dahulu lalu di ikuti Farel dan Ranty di belakangnya. Billy yang melihat Ayana di pasang infus langsung berjalan lebih cepat menghampiri Ayana. Billy duduk di atas tempat tidur di samping Ayana, dilihatnya Ayana yang tampak lemah dengan wajah masih tampak pucat tetapi tidak seperti sebelumnya. Di pegang ya tangan dan pipi yang terasa masih hangat.
"Sayang gimana keadaan mu? Yang mana sakit? Kita ke rumah sakit yuk." Tanya Billy.
Ayana menggelengkan kepalanya. "Gak usah mas, aku sudah merasa enakan kok, cuma perlu istirahat saja." Jawab Ayana menenangkan Billy.
"Maaf ya akhir - akhir ini aku sibuk sekali dengan pekerjaan ku, sampai - sampai aku gak ada waktu untuk kalian. Maaf ya sayang." Ucap Billy.
"Mulai sekarang kalian jangan terlalu sibuk, terutama kamu Ayana. Kalau badan terasa lelah mending langsung istirahat." Ucap Farel mengingatkan.
"Iya mas. Makasih sudah diingatkan." Jawab Ayana.
"Terus sebenarnya kamu sakit apa? Kok sampai di infus segala? Ranty yang memeriksa mu, aku tanya jugs tidak menjawab. Kamu gak akan meninggalkan aku kan sayang." Tanya Billy sedih.
Ayana hanya terdiam dan menundukkan kepalanya menampakkan wajah sedihnya.
Saat itu Billy di buat semakin bingung dengan sikap Ayana dan Ranty karena tidak satu wanita itu yang menjelaskan apa yang terjadi dengan Ayana. Farel yang mengetahui Billy kebingungan mencoba membantu menanyakan kepada Ranty.
__ADS_1
"Sayang tolong dong kamu jelaskan kepada kami, tentang keadaan Ayana, kamu gak kasihan melihat mas Billy seperti itu." Ucap Farel.
Ranty hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Ha... Ha... Ha... Rencana berhasil, maaf ya sayang belum bisa kasih tahu apa yang terjadi, kamu akan segera tahu apa yang akan terjadi." Ucap Ranty dalam hatinya.
"Maaf mas, bukannya aku gak bisa menjelaskannya tetapi yang lebih bisa menjelaskan adalah mbak Ayana." Jawab Ranty.
"Ayana sayang aku mohon jelaskan kamu kenapa? Kamu sakit apa?." Tanya Billy sampai menetaskan air mata.
Ayana menarik nafasnya karena sudah tidak tega akhirnya Ayana mengakhiri rencana mereka buat. Sebelum itu Ayana melihat Ranty meminta saran dengan cara mengedip kan matanya, Ranty yang menyadari kalau Ayana ingin mengakhiri sandiwara dan rencana itu Ranty pun menjawabnya dengan anggukan.
"Sebelumnya aku minta maaf sudah membuat kalian kawatir, terutama kamu mas." Ucap Ayana sambil mencium tangan Billy sebagai tanda ucapan maaf.
"Aku akan menjelaskan apa yang terjadi semuanya, tetapi mas Billy harus berjanji tidak akan marah kepada ku dan Ranty." Ucap Ayana.
"Iya aku janji aku gak akan marah kepada kalian. Sekarang tolong jelaskan semuanya sebenarnya kamu kenapa dan sakit apa?." Tanya Billy.
Ayana memberikan sebuah amplop putih dari rumah sakit yang berisi test pack kepada Billy untuk memberikan kejutan. Tetapi Billy hanya melihat amplop itu dan terdiam dia tidak berani menerima dan membukanya amplop tersebut.
"Apa itu Aya?." Tanya Billy kepada Ayana.
"Ini hasil test nya mas, mas Billy bisa lihat hasilnya, setelah mas melihatnya aku dan Ranty bisa menjelaskan semua, tetapi ingat janji mas jangan marah setelah melihatnya." Jawab Ranty.
Billy menerimanya dengan ragu - ragu dan takut akan mengetahui hasilnya. Dengan berat hati Billy mengambil dan mulai membukanya karena saat dia menerima amplop itu Billy merasa aneh karena bukan kertas yang berada di dalamnya tetapi sesuatu benda. Pelan - pelan Billy membuka dan melihatnya betapa terkejut saat dia melihatnya. Walau dia belum sepenuhnya membuka amplop itu tetapi Billy sekilas melihat hasil test pack yang ada di dalam amplop itu terdapat dua garis yang menyatakan bahwa Ayana sedang hamil.
__ADS_1
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA