Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Besok nikah


__ADS_3

"Baiklah, tapi ijinkan aku mendaki gunung lagi ya," pinta Ray


Rara hanya mengangguk, dia tidak sanggup menolak jika Ray yang mendaki gunungnya.


Setelah puas naik gunung kini saatnya Ray untuk turun gunung.


"Sudah sayang, jika keterusan aku takut kita nggak kontrol," ucap Rara


"Baiklah," timpal Ray


************


"Revan ini data-datanya, cepat selesaikan," titah Ray


"Siap pak," sahut Revan sambil menerima data-data dari Ray.


Revan mengecek data yang diberikan oleh Ray, takutnya ada yang kurang.


"Gimana?" tanya Ray


"Kalau menurut persyaratan yang saya baca sih sudah pak," jawab Revan


"Jadi ini saya daftarkan sekarang apa nanti siang?" tanya Revan


"Sekarang saja, biar segera diproses," jawab Ray


"Anda ngebet sekali, udah nggak tahan ya. Tapi kalau menurut saya nikah saat puasa gini itu nggak enak, karena siangnya pasti nggak bisa dekat-dekat," kata Revan


"Kenapa nggak boleh dekat-dekat?" tanya Ray


"Astaga pak, kan kalian sedang puasa," jawab Revan


"Oh, cium nggak boleh?" tanya Ray


"Ya nggak dong pak, langsung batal," jawab Revan


"Pegang dada boleh?" tanya Ray lagi yang membuat Revan kesal setengah mati.


Sudah dibilang kalau nggak boleh deket-deket la ini malah bertanya yang aneh-aneh.


"Kalau nggak sengaja kesenggol nggak papa tapi kalau sengaja pegang ya nggak boleh apalagi sampe seperti memeras santan," jawab Revan sambil menirukan gaya memeras santan.


"Tapi nggak papa sih, sebentar lagi udah lebaran, jadi bisa los," imbuh Revan


"Oo gitu, misal kalau tetap melanggar gimana?" tanya Ray


"Berdosa dan puasanya pasti batal," jawab Revan.


"Ok ok, maksih. Kamu boleh kembali ke ruangan kamu," sahut Ray.


Rara yang mendengar percakapan Ray dan Revan tertawa dalam hati, bagaimana bisa Ray bertanya hal tersebut pada Revan.


Revan kini segera meluncur ke KUA, dia ingin tugasnya segera selesai.


Tak berselang lama, Revan telah sampai dan dia langsung saja masuk.


Revan menyerahkan data-data Ray pada petugas KUA.

__ADS_1


"Atasan saya, ingin menikah besok. Apa bisa jadi suratnya?" tanya Revan


Awalnya petugas merasa keberatan karena terlalu mepet waktunya namun karena Revan memberikan cek yang nominalnya tidak sedikit sehingga petugas sanggup menyelesaikannya besok.


"Ya sudah saya tunggu kabarnya," kata Revan lalu dia pamit.


Revan tersenyum puas, karena dia sengaja mempercepat waktunya.


Setelah tiba di kantor Revan segera ke ruangan Ray lagi untuk melapor.


"Pak suratnya jadi besok, kalau pak Ray ingin menikah besok bisa Lo," kata Revan


"Besok!" teriak Rara


"Aku belum membeli apa-apa kenapa terburu-buru sekali," imbuh Rara


"Kamu dan Pak Ray kan sudah sangat kebelet jadi aku percepat saja, lagipula menikah besok ataupun seminggu lagi itu sama saja," sahut Revan


Ray tidak ingin membuang waktu, setidaknya dia masih punya waktu untuk menyiapkan segalanya.


"Ya sudah, kamu memang selangkah lebih maju daripada aku," Puji Ray


"Karena aku dan Rara harus pulang jadi kamu selesaikan pekerjaan aku, dan untuk tiga hari ke depan kamu yang handle semua," imbuh Ray


Rehan hanya bisa melongo, niat hati ingin membuat bos nikah dadakan namun kini malah dia yang harus menyelesaikan pekerjaan Ray.


"Nasibmu Revan, sungguh malang," Revan bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Kalau begini aku nggak bisa kencan dong ma Raya malam ini. Nasib-nasib," ucap Revan.


Ray dan Rara bersiap untuk pulang, namun sebelum pulang Ray dan Rara mampir ke butik untuk membeli jas dan kebaya dadakan untuk Ijab-Qabul besok.


"Lebih baik putih sayang, Ijab-Qabul itu kan sakral jadi alangkah baiknya kalau kita memakai pakaian putih," jawab Ray


"Baik sayang," sahut Rara.


Rara memilih milih kebaya yang dipajang dan pilihannya jatuh ke kebaya modern simpel nan elegan.


"Ini saja sayang," kata Rara


"Pilihan kamu ok juga," puji Ray


Seusai membeli jas dan kebaya, Ray dan Rara pergi ke rumah Ray, mereka ingin bilang kepada mama dan papa Ray.


"Kenapa terburu-buru sih Ray," protes mama


"Soalnya surat nikahnya sudah jadi besok ma pa," sahut Ray.


"Ya sudah, mama dan papa akan belanja pakaian untuk pernikahan kalian besok," timpal Mama


Setelah bilang ke orang tua Ray, kini Ray dan Rara tinggal bilang kenapa orang tua Rara.


"Kalian ini buru-buru sekali, katanya seminggu lagi," protes mama


"La gimana lagi ma, surat nikahnya jadi besok," timpal Rara.


Ray yang harus mengurusi ini dan itu pamit pulang terlebih dahulu, dia begitu bersemangat karena besok dia akan menikah.

__ADS_1


"Astaga aku nggak sabar sekali menunggu besok. Akhirnya," ucap Ray dengan tersenyum.


Mama dan papa kini menyiapkan semua secara dadakan, dia juga ingin memanggil perias untuk Rara tak lupa mama juga memesan bunga melati untuk menghias sanggul Rara.


Rara mengirim pesan pada Raya bilang kalau besok dia akan menikah.


"Anak-anak lainnya kamu undang apa nggak?" tanya Raya dalam balasan pesannya.


"Enggak, lagian acaranya sederhana banget, aku undang semua saat resepsi saja," balas Rara


Rara yang sudah menganggap papa Raka adalah papanya pun turut mengundang beliau, lagian papa Raka juga teman Papa Rara.


Papa sungguh kaget kenapa mendadak sekali,


Papa memohon pada Rara untuk datang ke rumahnya, mungkin dengan mengundang Raka secara pribadi besok Raka hadir saat acara Ijab-Qabul Rara dan Ray.


"Baiklah pa, saya akan menjenguk mas Raka sekarang," balas Rara.


Kali ini Rara membawa mobil sendiri, dia segera melajukan mobilnya ke rumah Raka.


Beberapa saat kemudian mobil Rara telah terparkir di halaman rumah Raka.


Rara segera turun dari mobilnya kemudian naik ke atas dan dia melihat Raka sedang berdiri sambil memandangi luar jendela kamarnya.


"Mas," panggil Rara


Raka menoleh dan tersenyum. Raka terlihat jauh lebih baik, bahkan lebih tampan dari kemarin-kemarin. Dokter suruhan Ray telah datang pagi sekali, mereka diperintahkan untuk segera menangani Raka dan kini hasilnya lumayan namun ini juga tak lepas dari bantuan Rara.


"Mas besok aku ingin menikah," kata Rara


"Menikah?" tanya Raka


"Iya mas," jawab Rara.


"Seandainya aku tidak bodoh, kamu pasti sekarang masih milik aku," sahut Raka.


Rara sungguh shock, tak disangka Raka bisa merespon dirinya lebih jauh bahkan dia bisa berbicara cukup panjang.


"Kamu sudah sembuh mas," kata Rara dengan senang.


"Terima kasih Ra," sahut Raka.


Papa yang mendengar suara Rara datang mendekat untuk mengecek, dan ternyata benar Rara telah mengobrol dengan Raka.


"Kapan datangnya?" tanya papa


"Baru kok pa," jawab Rara.


"Oh ya pa, ini mas Raka sudah bisa bicara dengan panjang Lo," lapor Rara


"Alhamdulilah," sahut papa lalu memeluk Raka.


"Terima kasih Raka," imbuh papa dengan bahagia.


Papa sangat bahagia, lalu dia keluar untuk mengambil minum untuk anaknya.


"Ra," panggil Raka

__ADS_1


"Bolehkah aku memeluk kamu untuk terakhir kalinya?" pinta Raka


__ADS_2