
"Siapa yang mengijinkan kamu untuk keluar," kata Ray dengan dingin.
"Tadi saya lapar pak Ray," sahut Rara
"Alasan," timpal Ray
Rara berdecak kesal mendengar kata yang keluar dari mulut Ray.
"Saya memang lapar pak, lalu saya pergi ke kafe sebelah sana, dan tadi ketemu dengan mas Raka juga," kata Rara.
"Bertemu Raka? jadi karena bertemu Raka kamu meninggalkan aku sendiri?" tanya Ray dengan raut wajah yang kesal, dia tidak terima kalau Rara bertemu Raka.
"Tadi pak Ray sedang istrirahat jadi saya tinggal sebentar," jelas Rara.
"Sebentar? dua jam kamu bilang sebentar?" tanya Ray dengan penuh penekanan.
Rara terdiam, sebenarnya letak masalahnya itu dimana?
Melihat Rara terdiam membuat Ray berfikir, apa memang dia keterlaluan?
Ray yang tidak tahan lagi langsung memeluk Rara, "Jangan ulangi lagi, jangan pernah meninggalkan aku, meski aku sedang tidur," ucap Ray.
Rara tersentuh dengan kata-kata Ray, apa dia keterlaluan telah meninggalkan Ray yang sedang tidur tadi? tubuh Rara kini merespon pelukan Ray, dia juga memeluk erat Ray yang sedang memeluknya.
"Saya tidak akan meninggalkan pak Ray lagi," sahut Rara
"Tapi kamu tetap harus aku hukum," timpal Ray
"Cium?" tanya Rara dengan melerai pelukannya.
"Lebih dari itu," jawab Ray
"Saya nggak mau kalau seperti semalam pak," sahut Rara.
Rara kini menatap Ray, "Boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Rara
"Silahkan," jawab Ray
"Apa pak Ray mencintai saya?" tanya Ray.
Ray nampak gugup, lalu dia berjalan dan duduk di sofa.
"Duduklah," titah Ray
Rara berjalan dan duduk di disamping Ray, kini pandangannya ke wajah Ray, dia sungguh penasaran dengan jawaban Ray, apa benar yang ia rasakan selama ini.
"Apa menurut kamu kata cinta itu penting?" tanya Ray
"Penting," jawab Rara
"Jika anda tidak menyatakan perasaan anda bagaimana saya tahu tentang perasaan anda terhadap saya," imbuh Rara.
"Aku tidak tau apa ini yang dinamakan cinta atau bukan, tapi setauku aku berusaha untuk melindungi kamu, aku selalu ingin kamu bahagia, ingin selalu dekat dengan kamu dan ...." Ray nampak berfikir, dia bingung harus berucap apa lagi.
__ADS_1
"Dan ingin selalu modusin saya ya pak," sahut Rara dengan tersenyum.
"Bukankah kamu juga menikmatinya?" tanya Ray
"Enggak," jawab Rara
"Sudahlah nggak usah berbohong, bahasa tubuh itu tidak bisa dibohongi. Memang benar ada sebuah kutipan yang bertuliskan kalau wanita itu ratunya munafik," sahut Ray
"Eh, siapa bilang," protes Rara
"Aku," sahut Ray
"Lantas bagaimana dengan dirimu? maksudnya perasaan kamu padaku." Kemudian Ray bertanya
"Entah pak, seringnya anda modusin perlahan membuat saya tidak bisa menolaknya dan kini saya merasa nyaman di samping anda," jawab Rara.
Ray kini menatap Rara dengan lekat, dia nampak bahagia karena Rara sudah meresponnya meski dia kini masih belum yakin. Perlahan dia mendekat dan terjadilah pautan diantara mereka, usai berciuman Rara malah tertawa.
"Ada yang lucu?" tanya Ray
"Kita ini lucu pak, tanpa sebuah ikatan tapi sering berciuman," jawab Rara
"Memangnya kalau mau ciuman nunggu ada ikatan dulu?" tanya Ray heran dengan cara berfikir Rara.
"Nggak sih pak," jawab Rara dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Meski belum yakin dengan cinta yang datang tapi mereka kini cukup tau dengan apa yang mereka rasakan masing-masing.
Sama halnya dengan Rara, Sheryl juga semakin cinta dengan Riad. Entah ini murni rasa cinta atau rasa lainnya, karena sedari awal yang Sheryl tau Riad adalah seorang CEO kaya, tampan dan terlebih royal sekali padanya.
"Maksih ya sayang," kata Sheryl saat Riad membelikannya tas branded di Korea.
"Iya sama-sama," sahut Riad.
"Aku nggak sabar sayang untuk segera menikah dengan kamu," ucap Sheryl
"Iya sayang aku juga, nanti aku akan membawa kamu ke negara asal aku juga," sahut Riad berpura-pura.
Meski Riad selama melakoni perannya menjadi orang yang brengsek, namun untuk pasangan hidup dia akan memilih wanita yang benar-benar baik dan tulus tidak seperti Sheryl yang dipandang adalah harta terlebih dahulu.
"Nanti boleh nggak aku meminta uang lima milyar, mobil mewah dan juga berlian, untuk mas kawin?" tanya Sheryl yang membuat Riad terkejut.
"Astaga mas kawinnya, untung aku hanya crazy rich hoax, jadi cukup mengiyakan saja," batin Riad.
"Apapun yang kamu mau sayang," ucap Riad dengan tersenyum.
Di sisi lain Revan yang mendapatkan laporan pengeluaran Riad jadi geleng-geleng kepala, belum genap di Korea seminggu Sheryl sudah menghabiskan uang tujuh ratus juta.
"Dia benar-benar tuyul, masa belum genap seminggu sudah menghabiskan uang sebanyak ini," kata Revan dengan memijat pelipisnya.
**********
Keesokannya Ray sudah diperbolehkan pulang, untuk Rara sendiri seusai mengantar Ray pulang dia pamit ke kantor untuk berkerja. Awalnya Ray melarangnya namun Rara terus saja memaksa sehingga Ray kali ini mengalah.
__ADS_1
Dua hari kemudian, Ray yang sudah benar-benar fit memutuskan untuk datang ke kantor karena selama dua hari ini dia tidak bertemu Rara sama sekali, jadi rindunya sudah di ubun-ubun.
Ray sengaja datang pagi sekali dia ingin menyambut wanita yang sangat dia rindukan.
Saat Rara datang betapa kagetnya dia kalau Ray sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Pak Ray," panggil Rara
"Kamu datang terlambat, jadi harus dihukum," kata Ray
"Dengan senang hati pak," sahut Rara
Mendengar kata-kata Rara membuat Ray berbunga, tak disangka Rara mengeluarkan kata-kata seperti itu yang tandanya Rara memang menunggu hukuman darinya.
Revan yang tidak tau kalau Ray sudah masuk harus menyaksikan live show adegan ciuman panas Rara dan Ray.
"Astagfirullah, lagi dan lagi aku harus menyaksikan adegan dewasa kalian, inilah yang menyebabkan aku dewasa sebelum waktunya," kata Revan
Revan meletakkan laporan yang harus Rara kerjakan di meja, lalu dia keluar.
Revan sengaja menutup pintu supaya tidak ada korban lain lagi,
Brak
Revan menutup pintu dengan keras sehingga Rara dan Ray kaget lalu melepas pautan mereka.
"Siapa pak Ray?" tanya Rara lalu merapikan bibirnya karena pasti lipstiknya belepotan.
"Mungkin Revan," jawab Ray
Rara kini mengecek mejanya dan ternyata benar kalo ada kerjaan yang harus dia kerjakan yang tak lain si pemberi kerjaan adalah Revan.
"Maaf pak Ray saya harus berkerja dulu," pamit Rara lalu menghadap komputernya, kini jari-jarinya mulai menari di atas keyboard.
Ray yang belum mendapat laporan terbaru tentang Sherly dan Riad pergi ke ruangan Revan, ingin bersua dengan Rara namun Rara harus bekerja.
"Revan," panggil Ray
"Eh pak Ray, gimana ciuman paginya?" tanya Revan dengan terkekeh.
"Mantep," jawab Ray singkat
"Wao," sahut Revan.
Kini Ray duduk berseberangan dengan Revan, dia bertanya terkait perkembangan terbaru Riad dan Sheryl.
"Tiga hari yang lalu mereka menghabiskan uang tujuh ratus juta pak, mungkin hari ini genap satu milyar bahkan bisa lebih." Revan memberi laporan
"Biarkan saja Sheryl bahagia, karena setelah ini dia akan menderita," sahut Ray
"Dia akan mendapatkan penderitaan yang hakiki," timpal Revan.
"Aku tidak sabar melihat Raka menangis darah ditinggal Sheryl," ucap Ray dengan tertawa
__ADS_1
Revan juga tertawa mendengar kata-kata Ray, dia juga tidak sabar melihat si kutu kupret Raka menderita.
"Apa maksud anda pak Ray,"