
Revan menyuruh anak buahnya yang berada di negara tempat papa Raka tinggal untuk menemui papa Raka dan memberitahu semua terkait masalah Raka dan Rara.
Papa Raka yang kini mengetahui kebenarannya jadi sangat malu pada Rara, dia tak menyangka kalau anaknya bejad sekali.
"Raka, Raka. Papa tidak menyangka kamu bejad sekali, demi Sheryl kamu menjadi seorang banci Raka. Sungguh luar biasa wanita ular itu," gumam Papa Raka.
Rencananya papa Raka akan pulang ke tanah air hari itu juga mengingat besok adalah sidang anak dan mantan mantunya tersebut.
Seusai urusannya dan Raya selesai, Rara memutuskan kembali ke Ray Grup, dia melihat jam tangan dan betapa kagetnya dia ternyata sudah tiga jam dia keluar.
"Mati aku, tadi hanya bilang sebentar dan tak sadar aku malah pergi tiga jam," gumam Rara lalu segera masuk.
Setibanya di depan lift, Rara memencet tombol dan kemudian masuk. Rara memejamkan matanya dan berdoa supaya Ray tidak berada di ruangannya.
"Ya Allah semoga si Do Raymond tidak ada di ruangannya, amin amin," ucapnya lalu membuka mata.
Setelah membuka mata betapa terkejutnya Rara karena Ray berada di sampingnya.
"Doa kamu terkabul," kata Ray.
Rara terkekeh lalu ingin keluar lift namun dengan segera Ray memencet tombol dan pintu lift tertutup.
"Kira-kira kamu minta hadiah apa? untuk apa yang telah kamu lakukan?" tanya Ray
"Memangnya apa yang saya lakukan pak?" tanya Rara pura-pura tidak tau.
"Pertama, tiga jam keluar saat jam kantor padahal tadi bilang hanya sebentar. Kedua, mengatai aku Do Raymond. Ketiga, kamu mau kabur," jelas Ray
"Iya pak, maafkan saya," kata Rara menyesal.
"Jadi hadiah apa yang kamu minta?" tanya Ray
"Hadiahi saya pintu kemana saja pak," sahut Rara dengan terkekeh.
"Dengan pintu kemana saja kamu mau kabur dari aku kan?" tanya Ray yang kini mengunci Rara di dinding lift
"Pak Ray tau saja, tapi meskipun saya kabur pak Ray akan dengan mudah menemukan saya," jawab Rara
"Jadi?" tanya Ray lagi
Rara menghela nafas, karena pasti kali ini dia akan mendapatkan hadiah dari Ray dan dia siap akan itu, saat Ray hendak mendekatkan bibirnya pintu lift terbuka dan Revan yang ingin menggunakan lift harus melihat aksi Rara dan Ray
"Astagfirullah, tak hanya di ruangan, di lift kalian juga me sum," kata Revan yang membuat Rara mendorong tubuh Ray.
Rara segera keluar lalu tersenyum pada Revan
"Terima kasih pak," kata Rara lalu dia berjalan meninggalkan Ray yang masih di dalam lift.
Ray yang kesal melemparkan tatapan mautnya sehingga membuat Revan menghentikan tawanya.
Ray segera menyusul Rara, dia masih belum puas jika belum menghukum Rara.
Saat Ray ingin mendekat Rara mencegahnya, "Pak Ray jangan modus, saya lagi sibuk," katanya.
Ray hanya bisa melongo melihat Rara yang sok sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini kamu bisa lepas namun nanti jangan harap," sahut Ray lalu dia kembali ke mejanya.
Rara tertawa dalam hati, dia bersyukur bisa lepas dari Ray yang ingin memberinya hadiah.
Tak terasa jam pulang kantor telah tiba, Rara yang sudah menyelesaikan pekerjaannya bersiap untuk pulang.
"Kelihatannya dia fokus dengan pekerjaannya jadi aku bisa pulang lebih dulu," batin Rara lalu dia perlahan mengendap-endap dan keluar dari ruangan Ray. Rara kini tertawa puas karena bisa lepas dari Ray sore ini.
"Huft akhirnya," ucapnya lalu Rara mengambil motornya dan pulang.
Ray yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya melihat meja Rara dan betapa kesalnya dia karena Rara telah meninggalkannya.
"Wanita ini benar-benar menghindar dari hukumannya, beraninya dia pulang tanpa berpamitan padaku," gumam Ray.
Ray segera keluar lalu memerintahkan supirnya untuk pergi ke apartemen Rara.
Setibanya di apartemen Rara, Ray langsung masuk kemudian mencari Rara ke kamarnya.
Ray yang mendengar suara gemercik air, menduga kalau Rara sedang mandi.
Kemudian dia duduk si sofa sambil menunggu Rara mandi.
Tak berselang lama Rara keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk kecil untuk menutupi tubuhnya.
Melihat tubuh Rara yang hampir terekspos sempurna membuat Ray menelan salivanya.
Tak menyadari kehadiran Ray membuat Rara membuka lilitan handuknya sehingga kini dia benar-benar polos, saat hendak memakai pakaian dalamnya dia melihat pantulan Ray di kaca.
"Pak Ray," ucapnya dengan membolakan mata
Ray kini berjalan ke arah Rara, "Apa kamu ingin aku melakukannya sekarang?" bisik Ray dengan memeluk Rara dari belakang.
Dia mengendus bau rambut Rara kemudian mengendus leher Rara menikmati aroma sabun yang menempel di kulit lehernya.
"Pak Ray jangan," kata Rara sambil menggeliat
"Jangan apa?" tanya Ray yang terus menikmati jenjang leher putih Rara
"Jangan diteruskan pak, kita bisa khilaf," sahut Rara
"Khilaf nggak papa, lagipula dulu kita juga sudah melakukannya," timpal Ray
"Beda pak," kata Rara
"Bedanya dimana?" tanya Ray
"Dulu kecelakaan," jawab Rara
Ray kini membalikkan tubuh Rara, "Jika urusan kamu sudah selesai lebih baik kita cepat menikah," kata Ray
"Sudah nggak tahan ya," goda Rara.
Ray kini menyuruh Rara untuk memakai pakaiannya, dan dia menunggu di luar.
Saat Ray menunggu di ruang tamu, bel apartemen berbunyi dan ini membuat Ray heran, perasaan yang tau alamat apartemen Rara hanya dirinya kenapa ada tamu?
__ADS_1
Ray berjalan membuka pintu dan di depannya kini ada seseorang lelaki paruh baya.
"Anda siapa?" tanya Ray
"Saya mertua Rara," jawab lelaki tersebut.
"Oh, papa Raka," sahut Ray lalu mempersilahkan Papa Raka masuk.
"Bukannya anda Raymond Toretto? kenapa anda berada di apartemen menantu saya?" tanya papa Raka
"Mantan menantu," sahut Ray
"Iya itu maksud saya," timpal Papa Raka
"Saya adalah calon suami Rara," jawab Ray yang sempat terjeda.
Papa Raka membolakan matanya, tak percaya setelah lepas dari Raka, Rara malah mendapatkan Raymond Toretto.
Dari kejauhan Rara menatap lelaki paruh baya yang sangat dia kenal.
"Papa," ucap Rara lalu mendekat.
"Mantan papa," sahut Ray tak terima kalau Rara masih menganggap papa Raka papanya.
"Ih apaan sih pak, mana ada mantan papa," protes Rara.
Papa Raka lalu memeluk Rara, dia sungguh meminta maaf atas sikap Raka selama ini.
"Maafkan papa Ra, mungkin karena papa kurang bisa mendidik Raka sehingga dia menjadi seorang bajingan seperti sekarang," kata Papa Raka dengan menyesal lalu melepas pelukannya.
"Sudahlah pa, Rara sudah memaafkan semuanya, namun mohon maaf Rara harus mengambil hak Rara kembali dan meminta kompensasi atas semua yang mas Raka lakukan pada Rara. Mas Raka sudah membuat Rara diusir oleh mama dan papa, telah membuat orang lain meniduri Rara, telah merebut warisan Rara," ungkap Rara
"Kamu bisa melakukan itu semua Ra, papa akan dukung kamu," sahut Papa Rara.
"Yang Rara sayangkan kenapa mas Raka harus menjebak Rara, jika dia ingin berpisah seharusnya ngomong terus terang," imbuh Rara
"Iya Ra, maafkan anak Papa," ucap Papa.
Setelah urusan dengan Rara selesai kini papa Raka pulang ke rumahnya yang kini ditempati Raka.
Saat membuka pintu betapa kagetnya Raka kalau yang datang adalah papanya.
Plak
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Raka, tentu Raka marah dengan papanya.
"Papa kenapa menampar Raka," protes Raka
"Karena memang kamu pantas mendapatkannya Raka, papa malu punya anak bejad seperti kamu," ucap papa Raka lalu masuk dan duduk.
"Maafkan Raka pa, Raka menyesal." Raka kini mengiba pada papanya supaya papa Raka tidak menggunakan sisa warisannya untuk kegiatan sosial.
"Menyesal kamu tiada berguna, kini Rara telah dimiliki orang yang lebih mulia dari kamu," omel papa
"Sedangkan kamu malah menikah dengan wanita ular, kita lihat saja Raka setelah kamu tidak punya apa-apa, apa Sheryl masih mau dengan kamu," imbuh Papa.
__ADS_1