
Raisa menarik tangannya yang dipegangi oleh Leo.
"Ooo, jangan-jangan kalian ini juga serong di belakang Ray," terka Raisa dengan tertawa
Rara yang sakit karena ucapan Raisa pun melayangkan tangannya kembali.
Plak
Gambar merah membekas di pipi Raisa, lengkap sudah rasa panas di pipi Raisa.
"Beraninya kamu memukulku lagi," maki Raisa
"Seharunya pukulan itu masih kurang," sahut Rara
"Padahal kan enak kalau kita kerja sama, kamu bisa sembunyi-sembunyi berhubungan dengan bule ini dan aku dengan Ray menjadi madu kamu." Lagi-lagi Raisa mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan.
"Jaga mulut kamu Raisa!" teriak Rara dengan air mata yang jatuh.
Leo yang melihat Rara menangis pun menyeret Raisa keluar.
"Lepas!" teriak Raisa
"Sekali lagi kamu menyakitinya jangan harap kamu hidup lebih lama lagi," ancam Leo lalu menutup pintu kamar perawatan Rara.
Di tempatnya Rara menangis dengan terisak bagaimana bisa Raisa meminta dirinya untuk berbagi suami namun ini semua juga bukan salah Raisa sepenuhnya kerena kembali lagi Ray lah yang mengundang Raisa masuk ke dalam rumah tangganya dengan rasa nyaman.
Alih alih bisinis mereka terus bertemu dan rasa nyaman datang bertamu di hati masing-masing tak bisa dipungkiri juga bisa saja rasa cinta juga telah datang.
"Aku ingin pergi Leo," kata Rara yang membuat Leo Shock
"Kamu yakin?" tanya Leo
"Yakin," jawab Rara
"Bagaimana dengan bayi kamu Ra, bagaimana dengan Ray?" tanya Leo yang membuat Rara terdiam.
Entah apa yang dipikirkan Rara saat ini, dirinya sungguh tak tau arah ingin bertahan tapi sakit pergi tak mampu.
"Pikirkan baik-baik apapun keputusan kamu ingatlah aku akan selalu mendukung," ucap Leo dengan menepuk bahu Rara.
Leo menatap Rara dengan lekat, dia sungguh kasian dengan Rara yang sedih karena Ray.
"Betapa beruntungnya kamu mendapatkan wanita seperti Rara, jadi please jangan disakiti," batin Leo
Di kantornya Ray mendapatkan kabar kalau Raisa membuat rusuh di rumah sakit sehingga Ray segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang istri.
"Kamu nggak papa kan sayang?" tanya Ray
Rara hanya melemparkan tatapan mautnya pada Ray tanpa mau bersuara.
"Sayang, bicaralah," pinta Ray
__ADS_1
"Apa menurut kamu aku akan baik-baik saja jika ada wanita yang datang kesini memintaku untuk berbagi suami? apa menurut kamu aku akan baik-baik saja jika kamu mengundang wanita masuk ke dalam kehidupan kita! apa menurut kamu aku akan baik baik saja jika suami aku saling nyaman dengan wanita lain," ungkap Rara histeris, lagi-lagi Rara harua menangis.
Sakit operasi tidak sesakit yang Ray torehkan seandainya rasa nyaman itu bukan keluar dari mulut Ray sendiri pasti sakitnya tidak akan sesakit ini namun masalahnya kata itu keluar sendiri dari mulut Ray.
"Maafkan aku sayang tapi aku tidak bermaksud begitu," sahut Ray dengan menunduk
"Tapi memang begitu sekarang keadaannya," sahut Rara
"Aku menyerah sekarang, terserah kamu. Kalau kamu mau menikah dengannya silahkan, aku tidak akan melarang. Lakukan saja apa yang kamu mau dan aku akan lakukan apa yang aku mau," imbuh Rara
Mendengar kata Rara membuat Ray kaget tentu dia tidak akan melakukan hal itu.
"Aku mohon please, kali ini percaya aku. Aku dan Raisa benar-benar tidak ada hubungan apa-apa, aku sendiri telah menyesal," kata Ray
Rara hanya terisak mendengar perkataan Ray, dia sungguh bingung.
"Aku mohon," ucap Ray dia meletakkan kepalanya di tangan Rara memohon kepada sang istri supaya mempercayainya.
Rara tetap diam dan ini membuat Ray frustasi, dia terus memohon namun Rara tetap diam hingga tiga hari telah berlalu, Rara masih setia pada diamnya.
Keesokannya Rara sudah diperbolehkan pulang, Rara juga sudah bisa berjalan meski luka operasinya masih belum sembuh total.
"Hari ini kamu sudah diperbolehkan pulang," kata Leo
"Iya nanti aku pulang dijemput mama dan papa," sahut Rara
"Pulanglah dengan aku sayang art kita sangat senang mendengar kamu akan pulang," kata Ray
"Aku pulang di rumah mama," sahut Rara
"Baiklah tapi aku ikut ya?" tanya Ray
"Nggak," jawab Rara
Ray tak tau lagi bagaimana membujuk sang istri dia sungguh bingung.
Ray ikut mengantar Rara pulang namun dengan mobil yang berbeda karena Rara lebih memilih naik mobil dengan orang tuanya.
Setibanya di rumah Rara meminta orang tuanya untuk tidak menggangu dirinya.
"Apa aku juga tidak boleh masuk?" tanya Ray
"Tidak," jawab Rara lalu pergi ke kamarnya.
Mama dan papa Rara meminta Ray untuk sabar semoga hal ini dijadikan pelajaran untuk Ray supaya lain kali harus lebih bijak dalam memperlakukan klien.
"Yang sabar," ucap mama dengan menepuk bahu Ray
Ray yang bingung memutuskan untuk pamit, dia pergi ke bar untuk minum pikirnya dengan begitu dia bisa lupa akan masalah rumah tangganya.
Seharian Ray minum di bar hingga keadaannya sungguh berantakan.
__ADS_1
Revan yang mendapat laporan kalau Ray minum di bar segera menyusul.
Melihat Ray yang berantakan membuat Revan menghela nafas
"Orang ini," ucap Revan lalu duduk di samping Ray
"Ayo kita pulang, ini sudah malam," kata Revan
"Nggak ngapain aku pulang, istri aku sudah tidak peduli padaku dia masih saja diam," sahut Ray
"Ini ujian buat anda pak," timpal Revan
"Sampai kapan, aku sangat merindukannya Revan. Aku merindukannya," kata Ray dengan mata basah.
Sebelumya Ray juga meminta Raya dan Rea untuk membujuk Rara namun mereka tidak berhasil, siapa sih yang tega melihat sahabatnya terpuruk.
"Lebih baik kita pulang dan bicara baik-baik pada Rara. Aku yakin dia akan memaafkan anda pak Ray," ucap Revan
Lama Revan menemani Ray karena sudah malam Rehan pamit untuk pulang.
"Ya sudah aku pulang dulu," pamit Revan lalu dia pergi
Tak berselang lama Ray juga memutuskan untuk pulang dan karena dia mabuk berat Ray berjalan dengan sempoyongan.
Hingga dia tak sengaja menabrak seseorang.
"Punya mata nggak!" teriak Ray yang bukannya minta maaf dia malah nyolot sehingga membuat orang yang ditabrak marah.
Mereka berdua adu mulut karena kata-kata Ray cukup pedas orang tersebut marah dan memukul kepala Ray dengan botol bir sehingga Ray terkapar tak berdaya.
Untunglah Revan kembali lagi karena ponselnya ketinggalan.
Revan yang tidak terima Ray dipukul memukul balik orang tersebut.
"Kamu tau siapa orang yang kamu pukul," maki Revan lalu mendorong lelaki tersebut.
Lelaki tersebut sama seperti Ray kepalanya bocor karena pukulan Revan.
Revan segera melarikan Ray ke rumah sakit, dia sungguh panik karena kepala Ray terus mengeluarkan darah.
"Bertahanlah," kata Revan
"Satu keluar rumah sakit satu masuk rumah sakit ya Allah," ucap Revan.
Revan memberi tahu Rara kalau Ray dibawa ke rumah sakit karena luka yang cukup serius.
Dua jam kemudian Rara datang dengan menangis.
Namun saat dia membuka pintu Rara melihat Raisa menemani Ray.
Raisa memegangi tangan Ray dengan erat.
__ADS_1
Rara tersenyum lalu keluar kembali
"Leo malam ini kita berangkat ke US,"