
"Dasar laki-laki sinting, gila, tak waras. Ra Rara bisa-bisanya kamu menjodohkan aku dengannya," umpat Riana
Riana yang kesal berteriak sambil mengumpati Leo tentu ombaknya yang menyakiti umpatan Riana.
Leo yang samar-samar mendengar umpatan Riana hanya tersenyum.
"Bodoh! berteriak tak jelas," kata Leo lalu memejamkan matanya.
Niatnya hanya memejamkan mata namun Leo malah tertidur sungguhan.
Riana yang lelah berteriak memutuskan untuk jalan-jalan menyusuri bibir pantai.
Tak terasa udara semakin dingin kemudian dia memutuskan untuk kembali ke mobil.
Saat dia masuk nampak Leo yang tertidur pulas.
"Malah tidur," kata Riana
Riana yang enggan membangunkan Leo memilih memejamkan matanya juga dan dia pun tidur sungguhan.
Tak terasa pagi telah menyapa perlahan Leo membuka matanya, dia sungguh kaget karena malam telah berlalu.
"Astaga sudah pagi," katanya lalu melihat sekelilingnya
"Wanita ini kenapa tidak membangunkan aku, kenapa dia malah ikut tidur," imbuhnya dengan menggerutu.
Leo yang harus bekerja segera melajukan mobilnya dan pergi dari pantai, tak berselang lama Riana bangun dari tidurnya.
"Astaga sudah pagi," katanya
Bola mata Riana menatap Leo yang fokus menyetir.
"Kamu bangun dulu nggak macam-macam kan padaku," kata Riana yang sontak membuat Leo melemparkan tatapan mautnya pada Riana.
"Sedikit pun aku tidak tertarik padamu jadi buang jauh-jauh pikiran seperti itu," ucap Leo
"Cih, siapa juga yang tertarik sama kamu," sahut Riana dengan kesal.
"Baguslah," timpal Leo tanpa menatap Riana.
__ADS_1
Kini suana hening menyelimuti Riana dan Leo baik Riana dan Leo hanya fokus dengan pandangan mereka masing-masing hingga tak terasa mobil Leo sudah memasuki halaman rumah mewah Rara.
Tanpa bilang apa-apa Riana langsung turun dari mobil begitu pula dengan Leo yang juga ikut turun karena dia ingin bertanya pada Rara jadwalnya untuk hari ini.
"Hai Leo semalam dari mana? kenapa baru pulang?" tanya Rara dengan menggendong Rafathar.
"Semalam kami ketiduran," jawab Leo
"Kalian check in ya," terka Rara yang membuat Leo membolakan matanya.
"Astaga Ra, kami semalam hanya ke pantai," sahut Leo mencoba klarifikasi
Rara tertawa mendengar kata Leo, dia mengira kalau kakak dan asistennya check in di hotel.
"Halo jagoan uncle, siapa nama kamu?" Leo bermonolog dengan Rafathar
Seakan tau kalau lagi diajak dialog Rafathar pun menggeliat dan melihat Leo.
"Kamu tau ya kao diajak ngobrol uncle," kata Rara dengan tertawa
"Nama aku Rafathar uncle, Rafathar Albert Toretto." Rara menjawab pertanyaan Leo seolah kalau dirinya adalah Rafathar.
Melihat Leo dan sang istri sangat dekat membuat Ray yang baru turun merasa sedikit panas.
"Hey Leo dia ini milik aku jadi jaga batasan kamu," kata Ray lalu memeluk istri tercintanya.
Leo nampak tersenyum dengan menatap Ray
"Tenang, aku tau batasan aku. Lagian aku hanya mengobrol dengan keponakan aku bukan mengobrol dengan ibunya," sahut Leo.
Karena hari semakin siang Leo pamit untuk pulang dia harus bersiap untuk bekerja.
"Kamu urus kantor dulu ya Leo, aku pantau dari rumah," kata Rara
"Siap nyonya bos," ucap Leo lalu keluar.
Selepas kepergian Leo, Ray menggantikan Rara untuk menggendong si kecil, dia mengajak anaknya untuk berjalan-jalan di depan rumah.
Nyaman dalam gendongan sang papa, Rafathar pun tertidur.
__ADS_1
"Eh cepat sekali tidurnya," kata Ray dengan tertawa.
"Kamu tuh persis mama kamu," imbuhnya.
Ray memberikan buah hatinya pada baby sitter lalu dia menyusul Rara yang tadi pamit untuk mandi, saat membuka pintu nampak sang istri yang hanya memakai handuk kecil untuk menutupi tubuhnya.
"Kamu mau menggoda aku ya," bisik Ray yang tiba-tiba memeluk Rara dari belakang.
"Siapa yang menggoda kamu sayang, aku kan selesai mandi," sahut Rara
"Sudah selesai belum banjirnya?" tanya Ray
"Belum," jawab Rara berbohong.
Sebenarnya darah nifas Rara sudah tidak keluar namun dia masih belum siap melayani Ray karena luka jahitannya masih agak sakit.
"Coba aku cek," kata Ray lalu membawa sang istri ke tempat tidur.
Tangannya mengecek bagian sensitif Rara dan dia tidak menemukan darah di sana.
"Kamu membohongi aku ya," kata Ray
Rara tertawa
"Luka jahitannya masih agak sakit sayang," sahut Rara
"Pelan-pelan kok, aku janji ga akan lama juga," bujuk Ray
Ray terus memohon dengan berbagai macam rayuan maut sehingga mau nggak mau Rara menuruti kemauan sang suami.
"Kenapa sih aku selalu luluh saat dia memohon padaku," batin Rara
Ray yang tidak sabar segera melepas penutupnya, dia segera melahap bibir sang istri lalu lanjut naik naik ke puncak gunung.
Dia menikmati puncak gunung yang sudah mengeras.
Kini suara gaib mulai terdengar dan semakin lama semakin nyaring terdengar.
Rara dan Ray melewati pagi mereka dengan adegan panas di ranjang.
__ADS_1
Dan yang terjadi selanjtnya hanya mereka yang tau.