
"Apa?" teriak semua yang sangat shock mendengar pengungkapan Ken Steven atas dirinya.
Dan yang lebih shock adalah mama Ray, untung sebelum datang dia telah meminum obatnya jadi nggak begitu pengaruh terhadap kesehatan jantungnya.
"Memang saya adalah asisten itu, saya sengaja mengklaim perusahaan untuk melindungi aset pak Rayan yang nantinya akan saya berikan kepada ahli waris beliau yang tak lain adalah Aurora, memang waktu itu saya melakukan operasi plastik supaya tidak ada yang mengenali wajah saya," kata Ken Steven.
"Jangan bilang kalau Papa dan mama bukan mama dan papa kandung Rara paman," kata Rara dengan mata yang basah.
"Tapi emang itulah kenyatannya Ra, mereka bukan orang tua kandung kamu, karena orang tua kandung kamu telah meninggal saat kamu berusia satu tahun," ucap Ken Steven.
"Kenapa bisa seperti ini, kenapa dari awal kalian tidak bilang yang sebenarnya saja kepada Rara kalau Rara ini bukan anak kalian," timpal Rara dengan menangis.
Ray mencoba menenangkan kekasihnya, dia membawa Rara dalam pelukannya.
"Sudah jangan menangis, bagaimanapun juga mereka tetap orang tua kamu sayang, apa yang kamu tangisi kan enak tuh punya orang tua empat," hibur Ray
"Coba kamu yang ada di posisi aku, apa bisa berkata seperti itu," sahut Rara
Dia sungguh kesal dengan Ray.
"Ya sudah kita tukar posisi," kata Ray yang membuat Rara melemparkan tatapan mautnya kepada Ray.
"Dasar," ucap Rara dengan melepaskan diri dari pelukan Ray.
Saat Rara sedih akan jati dirinya, Mama Ray juga nampak shock, beliau hanya diam saja tanpa bisa berkata-kata.
Entah apa yang dia rasakan, kesombongan di awal membuat dia canggung untuk memeluk anak dari sahabat baiknya. Padahal dia sungguh rindu dengan anak sahabatnya tersebut.
"Dan kini kamu telah memiliki pasangan yang bisa melindungi diri kamu Ra, jadi paman tenang sekarang. Untuk itu segera mungkin paman akan mengumumkan kalau kamu sekarang adalah Presdir utama Empire RA Grup, karena sudah waktunya kamu memimpin aset dari orang tua kamu," kata Ken Steven.
Mama Ray kini sungguh malu, ternyata wanita yang dia hina akan status rendahnya adalah seorang Presdir utama Empire RA Grup yang sedari dulu Raina ingin menyatukan Toretto dan juga RA Grup.
Backing kakek Rara yang seorang jendral tentu membuat kekuasaannya sangat kuat.
Rara yang melihat mama Ray hanya diam angkat bicara.
"Bagaimana sekarang nyonya Toretto, apa status saya sekarang pantas bersanding dengan putra anda," ucap Rara.
Mama Ray hanya tersenyum, dia tidak menjawab sepatah kata pun dan ini cukup membuat maklum karena sudah dapat dipastikan kalau mama Ray sangat malu.
Mama Ray lebih memilih untuk pergi daripada tetap di sana dan ini cukup membuat maklum orang yang berada di rumah Ken Steven. Dia memerintahkan Ryan untuk memesan tiket pesawat karena dia ingin kembali ke US besok.
"Kenapa buru-buru sekali nyonya?" tanya Ryan
__ADS_1
"Aku disini seakan tidak memiliki muka Ryan, lebih baik aku kembali dan membiarkan Ray berhubungan dengan Aurora," jawab Mama Ray
"Sebaiknya kita kembali setelah anda berbicara dengan Tuan muda serta nona Rara Nyonya," saran Ryan.
"Nanti aku pikirkan," timpal Mama Ray.
***********
"Secepatnya acara pertunangan kalian dilaksanakan karena saya juga harus segera kembali ke US," kata Ken Steven.
"Ya sudah besok saja paman," ucap Ray
"Baiklah Ray," sahut Ken Steven.
"Non Rara apa non Rara masih mau menganggap kami sebagai orang tua?" tanya mama Rara
Rara yang mendengar ucapan Mamanya jadi menangis bagaimana bisa mereka berpikiran dangkal seperti itu.
"Kalian tetap mama dan papa Rara, dari kecil kalianlah yang merawat Rara dengan penuh cinta, apa hanya karena jati diri Rara, hingga putus ikatan batin kita?" jawab Rara dengan menangis.
Mereka kini saling berpelukan, sungguh pemandangan indah.
Karena sudah tidak ada yang dibahas, Rara, Ray, Brawijaya serta Sukmawati pamit untuk pulang.
"Sayang, apa kamu hari ini puasa?" tanya Ray
"Nggak, kenapa?" tanya Rara balik
"Kita ke apartemen ya," kata Ray yang membuat Rara melirik tajam kekasihnya tersebut.
"Nggak, kamu pasti mau yang enak-enak kalau kita di apartemen. Lebih baik kita bekerja," ucap Rara
Ray menghela nafas, beberapa hari ini badannya sungguh lemas karena kekurangan vitamin C dari Rara.
"Baiklah," ucap Ray pasrah.
Kini mobil Ray telah memasuki parkiran, dia dan Rara segera masuk dan memulai bekerja.
Saat asik bekerja tanpa entah mengapa tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ray sehingga mau nggak mau Revan mencoba menetralisir pikirannya dengan keluar dari ruangannya.
Lalu dia meminta Revan untuk ke ruang meeting karena ada yang ingin dia bahas.
"Revan, siapkan pertunangan aku dengan Rara besok, nggak harus banyak yang datang yang penting kedua keluarga hadir," titah Ray
__ADS_1
"Tapi pak tadi saya dapat info kalau Nyonya Raina besok kembali ke US," ucap Revan.
"Apa-apaan nenek sihir itu, bukankah dari awal dia yang menginginkan keluarga Toretto dan Steven terikat dalam hubungan pernikahan tapi kini kenapa dia malah kembali?" gerutu Ray yang kesal dengan mamanya. Sekarang bahkan calon mantunya adalah presdir utama RA Grup kenapa malah segera kembali ke US.
"Entahlah pak, mungkin bisa saja Nyonya Raina merasa malu pada Rara yang karena ternyata Rara alasan ahli waris RA Grup," kata Revan.
"Entahlah nanti aku akan bicara padanya, heran aku sama mama, nggak sayang sama sekali dengan anaknya," timpal Ray.
"Oh ya pak, bagaimana perasaan anda setelah tau kalau Rara adalah seorang Presdir utama sebuah kerajaan grup besar di dunia, apa anda tidak minder atau takut jika nanti Rara sibuk dengan tanggung jawab besarnya," kata Revan yang membuat Ray tertawa, kelihatannya Revan mengerti apa yang sedari tadi ia pikirkan.
"Aku juga berpikiran seperti itu Revan apa nanti Rara akan sibuk dengan tanggung jawabnya dan menelantarkan aku sama seperti mama." Kini raut wajah Ray telah berubah, bukannya dia tidak suka dengan jati diri Rara namun entah mengapa traumanya di masa lalu membuat Ray takut jika hal itu terulang lagi.
Revan yang cukup tau dengan apa yang dirasakan Ray mencoba menghibur sahabat serta atasannya tersebut.
"Kita berdoa saja semoga Rara tidak seperti Tante Raina, dan tenang selalu ada Rehan dan saya yang akan setia di sisi anda pak," hibur Revan.
"Terima kasih Revan," ucap Ray
"Semangat! besok kan mau tunangan. Bukankah itu yang anda tunggu-tunggu," sahut Revan dengan menepuk bahu Ray.
Kini mereka berdua kembali ke ruangan masing-masing.
Saat memasuki ruangannya nampak Ray yang agak kurang bersemangat. Dan ini cukup mengundang kekepoan Rara.
"Kenapa dia bermuram durja," batin Rara
Rara mencoba mendekat, diapun bertanya
"Kenapa?" tanya Rara
"Nggak kenapa-napa, yuk bekerja," jawab Ray.
Rara nampak mengerutkan alisnya, apa ini terjadi karena dia tidak mau diajak ciuman?
Karena tidak ingin melihat Ray yang sedih, Rara langsung menyambar bibir Ray.
Halo kak, gimana kabrnya.
Maaf nih kak, dari kemarin review naskah lama sekali hingga up nya telat melulu.
maaf ya😁✌️✌️✌️
Sekali lagi aku ingatkan jangan lupa like, komen, hadiah dan juga vote ya, biar aku semangat nulisnya.
__ADS_1
maksih kak😘😘😘😘😘😘