Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Curiga


__ADS_3

Ray memilih pergi daripada dia hilang kendali dan semakin menyakiti Rara tapi kepergiannya malah semakin membuat permasalahannya tak kunjung selesai.


Rara menangis sambil terisak, dia sungguh heran dengan Ray yang seperti ini.


Rara melihat luar jendela dia melihat mobil Ray melaju dengan kecepatan tinggi.


"Kenapa kamu berubah sayang, aku hanya rindu padamu. Mana janji kamu yang akan selalu manis padaku," gumam Rara sambil terisak.


Memori Rara kembali ke masa-masa manis mereka saat Ray selalu modus untuk mendapatkan ciuman darinya, saat Ray memperlakukannya bak putri Raja saat Ray membelainya dengan lembut.


Kenangan itu menyeruak masuk dan mempora-porandakan hati Rara yang sakit karena sikap Ray.


"Maafkan mama sayang karena telah egois, masalah yang melanda mama dan papa membuat kami mengabaikan kamu." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri sambil mengelus perutnya yang membuncit.


Bayi di dalam perutnya seolah tau kalau mamanya telah bersedih sehingga dia menendang perut mamanya seakan ingin bilang kalau dia baik baik saja di dalam.


"Kamu mengerti sayang," ucap Rara


Malam ini Rara lalui dengan menangis dia memikirkan Ray yang pergi keluar dalam keadaan marah.


"Kamu tidur dimana? apa kamu menemui wanita itu?" Lagi-lagi Rara bermonolog dengan dirinya sendiri, hingga pukul dua dini hari Rara masih belum memejamkan matanya, dia masih menangisi Ray.


"Tega kamu, kalau kamu marah padaku setidaknya jangan marah dengan anak kita. Dia di dalam tidak tau apa-apa kenapa kamu juga mengabaikannya," ucap Rara


Hingga subuh tiba Rara masih belum bisa memejamkan matanya, dia yang tidak bisa tidur memutuskan untuk mandi setelahnya dia jalan-jalan di taman kompleks.


Dirasa lelah Rara memutuskan untuk pulang karena lapar Rara memutuskan untuk sarapan.


Sesuai makan Rara pergi ke rumah orang tuanya dia ingin menginap di sana toh Ray juga tidak peduli padanya.


"Kamu sendirian sayang?" tanya mama


"Iya ma, Ray sibuk," jawab Rara berbohong.


"Kamu kelihatan pucat, mata kamu juga sembab apa kamu habis menangis?" tanya mama dengan curiga.


"Iya ma, semalam perut Rara mengalami kontraksi sehingga Rara kesakitan dan menangis." Lagi-lagi Rara menjawab pertanyaan mamanya dengan berbohong.


Naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi dia cukup tau kalau buah hatinya telah berbohong.


"Ya sudah istrirahat di kamar gih," titah mama


"Iya ma, oh ya ma papa mana?" tanya Rara


"Papa kerja," jawab mama lalu mengantar Rara ke kamarnya.


Di dalam kamarnya Rara menangis kembali, dia teringat akan Ray lagi yang sama sekali tidak menghubunginya.


"Aku heran sama kamu sayang," kata Rara dengan melihat foto sang suami.


Semalaman begadang membuat Rara tertidur dengan tangan yang memegang ponselnya.

__ADS_1


Di sisi lain Ken Steven yang berada di Indonesia memutuskan untuk mampir di rumah orang tua Rara, beliau datang dengan Leo.


"Tuan Ken," kata Mama Rara kaget karena Ken Steven mampir di rumahnya.


"Brawijaya mana?" tanya Ken


"Ada kerjaan Tuan. Kayanya tadi akan segera pulang," jawab Mama Rara


Mama Rara mempersilahkan Ken dan Leo untuk masuk, dia juga cerita kalau Rara juga kesini.


"Kebetulan sekali," kata Ken


"Iya, akan saya panggilkan," sahut Mama Rara lalu pergi ke dalam untuk memanggil Rara.


Mama beberapa kali mengetuk pintu namun Rara tidak menyahut sehingga mama langsung masuk, saat hendak membangunkan anaknya mama melihat Rara tidur dengan memegangi ponselnya.


Mama juga melihat sisa-sisa air mata di mata Rara.


"Mama yakin kamu ada masalah dengan Ray," gumam Rara


Maksud hati ingin meletakkan ponsel Rara di meja namun ini malah membuat Rara terbangun.


"Eh mama," kata Rara


"Ini mama lihat kamu tidur dengan membawa ponsel jadi mama ingin memindahkan ponsel kamu tapi malah membuat kamu terbangun, maafkan mama ya," jelas mama lalu meminta maaf.


"Mama ini kenapa minta maaf," sahut Rara dengan tersenyum


"Nggak usah ma, Rara mungkin kurang tidur saja. Karena beberapa hari ini Rara memang kurang tidur karena Rara mengalami insomnia." Rara berbohong pada mamanya.


"Lalu bagaimana dengan Ray? dia juga ikut begadang menemani kamu kan?" tanya mama dengan curiga.


Rara nampak tersenyum kecut


"Iya dong ma, sampe dia telat-telat bangun," jawab Rara


Mama tersenyum meskipun tau sang anak berbohong namun mama tetap menghormati jawaban anaknya.


"Oh ya ada Paman Ken dan seorang pemuda cakep banget," kata mama


"Benarkah, ya sudah ma ayo temui mereka," sahut Rara


Saat di ruang tamu Rara memeluk pamannya,


"Halo Leo," sapa Rara


"Halo Bos," balas Leo


Ken Steven mengamati wajah keponakannya


"Kenapa kamu pucat sekali?" tanya Ken Steven

__ADS_1


"Masak sih paman," elak Rara


"Meski sudah tua tapi mata pamanmu masih normal masih bisa membedakan mana wajah yang pucat mana yang tidak," sahut Ken Steven


Mama juga ikut menimpali


"Apa kamu ada masalah dengan Ray, apa dia menyakiti kamu?" tanya mama dengan menatap anaknya.


Rara nampak gugup namun dia masih bisa mengelak


"Mana mungkin Ray menyakiti aku ma, mama ada-ada saja," ucap Ray


"Kalau dia sampai menyakiti kamu tangan ini yang akan menghancurkannya," sahut Ken Steven


"Nggak kok paman. Kan paman tau sendiri kalau Ray itu sangat mencintai Rara," timpal Rara


Leo nampak tersenyum kecut padahal jelas-jelas kemarin Ray membuat Rara menangis, bahkan Rara sampai sakit. Dengan parahnya lagi Ray terlihat berdua dengan seorang wanita.


"Are you sure, he love you?" tanya Leo yang membuat semua menoleh.


Rara mengkode Leo untuk tidak bercerita.


Karena tidak ingin berkutat di permasalahannya Rara mencoba mengalihkan pembicaraan.


Di kantornya Ray nampak bingung hingga datanglah Raisa.


"Halo Ray," sapa Raisa


"Halo Raisa," balas Ray


"Siapa sebenarnya istri kamu, perusahaan aku benar-benar bangkrut saat ini," kata Raisa


"Dia adalah pemilik Empire R.A grup US," jawab Ray


Raisa nampak kaget, dia sungguh tak menyangka kalau seorang yang selama ini menjadi idolanya dalam dunia bisnis adalah orang yang kemarin dia hina.


"OMG," kata Raisa


Lagi-lagi Ray dan Raisa mengobrol asik hingga datanglah Revan yang akan memberikan laporannya.


"Asik sekali mereka," batin Revan lalu meletakkan laporannya di meja Ray.


Satu jam kemudian Raisa pamit, dan kebetulan juga Revan datang untuk mengambil berkas yang sudah ditandatangani Ray.


Revan sempat heran dengan cara Ray tersenyum dengan Raisa.


"Ingat ada istri di rumah, apalagi akan punya anak," sindir Revan


"Apa sih Revan, kami hanya berteman," sahut Ray


"Datangnya cinta itu dari hal remeh seperti ini jangan sampai rumah tangga anda jadi taruhannya jika anda bermain api," saran Revan lalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2