Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Alergi


__ADS_3

"Sudah berani kamu melawan aku," teriak Raka dengan wajah yang memerah.


"Untuk apa aku takut, selama ini aku sudah menurut sama kamu, sekali-kali aku ingin bersenang-senang dengan cara aku sendiri," sahut Sheryl


Plak


Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Sheryl, dan ini membuat Sheryl sedikit shock pasalnya selama ini Raka tidak pernah kasar padanya.


"Berani kamu menampar aku," kata Sheryl dengan memegangi pipinya yang panas karena tamparan Raka.


Raka melihat tangannya, dia nampak menyesal karena telah menampar pipi Sheryl.


"Maafkan aku sayang, kalau kamu nggak keterlaluan nggak akan pernah aku menampar kamu," ucap Raka dengan menyesal.


Raka ingin memeluk Sheryl namun secepat kilat Sheryl menghindar.


"Jangan peluk aku, aku nggak sudi dipeluk sama kamu," kata Sheryl lalu dia pergi keluar rumah.


Raka berusaha mengejar namun Sheryl sudah pergi dengan membawa mobilnya.


Aaarrrgggggg


"Sial, ada apa sih ini. Kenapa dia sedikit berubah?" kata Raka dengan mengusap rambutnya dengan kasar.


Sheryl melajukan mobilnya ke apartemen Riad lebih tepatnya apartemen Ray yang ditempati Riad, dia ingin mengadu tentang apa yang Raka lakukan padannya.


Sesampainya di sana nampak Riad dengan laptop di depannya seolah-olah dia kini sedang melakukan meeting online bersama para staf di kantor.


"Sayang," panggil Sheryl dengan menangis.


Memang Sheryl diberi akses masuk apartemen Ray oleh Riad tentu ini juga atas titah Revan.


Riad segera menutup laptopnya, "Ada apa?" tanya Riad


Sheryl langsung saja memeluk Riad, dia menangis dalam pelukan Riad.


"Ada apa? kenapa menangis?" tanya Riad lagi


"Raka menampar aku sayang," jawab Sheryl lalu melepas pelukannya.


"Apa! dia menampar kamu!" teriak Riad


"Keterlaluan dia, wanita itu harus disayang bukannya disakiti, aku nggak rela kalau kamu disakiti seperti ini," imbuh Riad dengan berpura-pura mengepalkan tangannya.


Melihat respon Riad membuat Sheryl yakin kalau Riad benar-benar mencintainya.


Melihat Riad yang nampak marah membuat Sheryl mengelus dada Raid, dia mencoba menenangkan selingkuhannya tersebut.


"Sudahlah, nggak apa-apa," kata Sheryl


"Nggak apa-apa gimana? lihatlah pipi kamu sampai merah seperti itu, apa perlu kita pergi ke dokter bedah, untuk melakukan operasi plastik?" tanya Riad


Sheryl membolakan matanya, dia sungguh melayang dengan perhatiaan hoax Riad, ditampar saja langsung menyarankan operasi plastik.


Tapi mungkin batin Riad operasi plastiknya menggunakan kresek hitam.


"Eh eh nggak perlu seperti itu sayang, wajahku aman kok," sahut Sheryl


"Yakin?" tanya Riad


"Iya, sayang uangnya lagian hanya ditampar nggak harus operasi plastik," jawab Sheryl


"Ya nggak papa, apa yang enggak buat kamu. Bulan pun akan aku ambilkan." Riad mulai mengeluarkan rayuan mautnya pada Sheryl sehingga lagi dan lagi Sheryl dibuat melayang dan klepek-klepek.


Kini mereka berdua melakukan aksi panas mereka, entah berapa kali mereka melakukan hal itu semenjak bertemu.

__ADS_1


*********


"Pak, bukannya bertemu kliennya masih satu jam lagi kenapa kita berangkat sekarang?" tanya Rara dengan heran


"Lebih baik berangkat lebih awal daripada terlambat," jawab Ray


"Tapi kan masih lama pak," protes Rara


"Nggak papa," sahut Ray


Baik Rara maupun Ray kini fokus dengan pandangan masing-masing hingga suasana di antara mereka hening seperti kuburan.


Sesampainya tiba di lokasi, Ray turun lebih dulu baru disusul Rara dan ternyata di sana juga ada Raka yang tengah duduk dalam keadaan yang sedikit kacau.


"Mas Raka," kata Rara saat matanya menangkap Raka yang tengah duduk di meja paling ujung.


Melihat tatapan Rara membuat Ray kesal, lalu dia menggandeng Rara masuk ke dalam VIP room yang dipesannya.


"Ra, apa bagimu Raka itu penting?" tanya Ray yang membuat Rara sedikit shock"


"Penting, saya sangat mencintainya," jawab Rara yang membuat Ray kesal.


Ray mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Rara menceritakan semua apa yang terjadi padanya.


"Jika kamu tau orang yang meniduri kamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ray


"Mana mungkin saya bertemu dengan orang itu pak, hanya orang brengsek yang tega meniduri istri orang lain lagipula saya sudah melupakannya," jawab Rara.


Sesak rasanya jika ingat malam itu, dia merasa jijik pada dirinya sendiri, bagiamana bisa dia menikmati permainan orang asing, bahkan beberapa kali dia dibuat lemah tak berdaya karena nikmat.


Ray nampak terdiam dia takut kini, dia takut mengatakan kalau dia lah yang meniduri Rara saat itu. Entah kenapa jiwa cemen tiba-tiba muncul padahal sebelumnya dia tidak takut pada apapun.


Kini pelayan datang dengan membawa makanan mereka, Rara tadi sengaja memesan makanan sejenis somay yang berisi sayur yang dicampur dengan udang dan daging kepiting.


"Hem enak sekali," kata Rara sambil memakan makanannya.


"Suapi aku," titah Ray


"Ih pak Ray, tinggal makan saja kenapa minta di suapi segala," protes Rara


"Jangan membantah, suapi saja," sahut Ray


Rara mencibirkan bibir, kesal sekali dengan Ray yang memaksa untuk disuapi.


Ray dia tidak tau kalau isi dari makanan yang Rara makan adalah udang dan daging kepiting sehingga beberapa saat setelah makan makanan itu dia sesak nafas.


"Ra, tolong," kata Ray sambil memegangi dadanya.


Rara panik melihat Ray yang tiba-tiba sesak nafas.


"Anda kenapa pak? tanya Rara dengan takut


"Alergiku kambuh," jawab Ray


"Saya harus bagaimana pak?" tanya Rara


Ray yang sesak nafas bercampur pusing kini akhirnya tak sadarkan diri.


"Pak Ray, pak Ray!" teriak Rara sambil menepuk-nepuk pipi Ray


Rara kini mengambil ponselnya dan menghubungi Revan.


Revan yang diberi tau kalau Ray pingsan karena alerginya kambuh jadi sangat panik, dia segera menyusul Rara tak tak lupa dia menghubungi Rehan dokter pribadi Ray. Dia meminta Rehan menyiapkan segala sesuatunya.


Tak berselang lama, Rehan dan Revan datang ke ruang VIP dimana Rara dan Ray berada.

__ADS_1


Rehan segera memberikan pertolongan pada Ray dengan menyuntikkan beberapa obat, dia juga membawa keperluan lainnya seperti tabung oksigen kecil dan lain-lain. Menjadi dokter pribadi Ray, Rehan harus siap sedia, setiap saat dia juga memantau kesehatan Ray.


"Kenapa bisa kambuh alerginya?" tanya Revan


"Makanan apa yang kamu berikan Ra?" tanya Revan lagi.


"Itu," Rara menunjuk makanan seperti somay


"Pak Ray itu alergi seafood," kata Revan


"Mana saya tau pak," sahut Rara dengan menyesal.


Seusai melakukan pertolongan, mereka semua memindahkan Ray ke rumah sakit, terpaksa meeting dengan klien dibatalkan mengingat semua harus mengurusi Ray terlebih dahulu.


Rara nampak takut, pastilah dia yang akan jadi tersangka utama jika terjadi apa-apa dengan Ray.


"Ya Tuhan selamatkan pak Ray," gumam Rara


Sesampainya di rumah sakit, Ray mendapatkan perawatan eksklusif dan Rara yang merasa bersalah menunggui Ray hingga sadar.


Entah mengapa melihat Ray memejamkan mata seperti ini membuat Rara takut, selain takut dijadikan tersangka utama dia juga takut kehilangan Ray.


"Pak Ray maafkan saya, sadarkah please," kata Rara


"Saya rela dihukum apapun oleh pak Ray, asal pak Ray bangun," imbuh Rara


"Kamu janji?" tanya Ray


"Pak Ray," panggil Rara lalu memeluk Ray, dia sungguh takut kalau terjadi apa-apa dengan Ray.


"Jangan buat saya takut pak, jika sampai terjadi apa-apa dengan anda, saya cari anda kemana?" jawab Rara dengan memeluk Ray.


Ray tersenyum mendengar kata-kata Rara, apakah ini tanda kalau Rara sudah mulai mencemaskan dirinya? entahlah.


Revan dan Rehan yang datang untuk melihat keadaan Ray jadi terkejut.


"Pelukannya lanjut nanti lagi, karena aku harus saya harus memeriksa keadaan anda pak," kata Rehan


Rara dan Ray segera melepaskan pelukan mereka, seusai diperiksa Rehan tidak menemukan adanya tanda-tanda yang membahayakan sehingga kemungkinan besok Ray sudah boleh pulang.


"Ra kamu di sini ya temani aku," pinta Ray


"Iya pak, saya akan menunggu pak Ray," sahut Rara


"Lebih baik kita keluar, daripada mengganggu mereka," timpal Revan


"Ya sudah pak, kami keluar dulu, lanjut yang sempat terjeda nggak usah sungkan anggap saja rumah sakit sendiri," goda Rehan


"Memang rumah sakit aku," ucap Ray dengan kesal.


Di sisi lain Raka mencoba melarang Sheryl pergi ke luar negeri, namun Sheryl tetap memaksa.


"Kalau kamu nggak mengijinkan aku mas, lebih baik kita batal nikah," ancam Sheryl


"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan Sheryl?" tanya Raka


"Sadar seratus persen," jawab Sheryl


Karena tidak ingin ribut Raka mencoba mengalah dan berpikiran positif, mungkin Sheryl memang butuh waktu bersama teman-temannya.


"Ok fine, pergilah. Hati-hati," pesan Raka lalu dia ke membuka brankas miliknya dan mengambil uang untuk Sheryl.


"Ini uang kamu tukarkan sendiri, lumayan buat pegangan kamu di sana," kata Raka dengan menyodorkan uang.


Sheryl segera mengambil uang dari Raka, "Gitu dong, ya sudah aku berangkat dulu," kata Sheryl lalu mengecup pipi Raka dan keluar kamar.

__ADS_1


Namun Raka secara diam-diam membuntuti Sheryl, dia ingin tau dengan siapa Sheryl pergi ke luar negeri.


__ADS_2