
Rara menuju kamarnya lalu merebahkan diri di tempat tidur, tangannya dia letakkan di atas dahi dan tanpa dia sadari kini dia menuju alam mimpi.
Cukup lama dia tidur, Rara menggeliat dan kini dia memeluk guling.
"Gulingnya kenapa agak aneh ya," batin Rara yang mulai keluar dari alam mimpinya.
Tangan Rara menepuk-nepuk guling miliknya, tangannya berjalan-jalan dan kini tangannya berhenti, "Ini apa, seperti tidak asing dengan benda ini," batin Rara yang masih memejamkan matanya.
Dia menepuk dan mencengkeramnya.
"Aaaaaaaa sakit," teriak seseorang yang tak lain adalah Ray.
Rara segera membuka matanya dan betapa kagetnya dia saat melihat Ray sudah berapa di sampingnya dengan memegangi bagian bawahnya yang tadi dicengkeram oleh Rara.
"Pak Ray ngapain di kamar saya," teriak Rara
Ray yang kesakitan tidak menggubris teriakan Rara.
Rara mendekat dan melihat keadaan Ray.
"Sakit Ra," ucapnya
"Sakit banget ya pak?" tanya Rara
"Lagian pak Ray kenapa bisa ada di sini, siapa yang mengijinkan pak Ray masuk," imbuh Rara kesal.
"Ini kan apartemen aku, jadi wajar kalau aku masuk," sahut Ray
"Tapi kan ini untuk saya," timpal Rara
"Sekarang kamu tangung jawab Ra, sakit banget ini," kata Ray
"Bagaimana saya bertanggung jawab pak?" tanya Rara
"Dielus kek, atau diobati," jawab Ray
Rara membolakan matanya lalu menggeleng.
"Nggak mau," sahut Rara
"Lagian kamu tidur kenapa tangan berjalan-jalan ke bagian itu, jangan-jangan kamu merindukannya," goda Ray yang membuat Rara memerah. Dia sungguh malu pada Ray kenapa tangannya jahil sekali menyentuh area terlarang.
"Salah pak Ray sendiri masuk kamar saya," sahut Rara
"Kan ini kamar kita berdua, sebentar lagi kita kan akan menikah," timpal Ray
"Pak Ray yakin ingin menikah dengan saya?" tanya Rara
"Yakin, kan aku harus bertanggung jawab atas malam panas itu," jawab Ray yang lagi-lagi membuat Rara memerah.
"Apa kamu tidak ingin mengulangnya lagi?" tanya Ray
"Ingin," jawab Rara
"Benarkah," sahut Ray antusias
"Tapi nanti, setelah halal dan untuk menuju halal ada banyak yang harus pak Ray buktikan," kata Rara
"Baiklah-baiklah," ucap Ray pasrah.
************
Keesokan harinya Raya meminta bertemu, karena ada hal penting yang harus dibicarakan untuk itu dia meminta Rara untuk ijin sebentar sekitar satu jam.
__ADS_1
"Tapi masalahnya pak Ray mengijinkan aku apa nggak." Rara mengirim pesan pada Raya
"Buruan Ra, ini penting soal Raka." Raya membalas pesan dari Rara.
Rara segera mengambil tas miliknya dan berdiri di depan Ray.
"Pak Ray," panggil Rara
"Apa," sahut Ray lalu menatap Rara
"Saya ijin sebentar ya pak, ada urusan penting," ijin Rara
"Bagaimana kalau aku tidak mengijinkan," ucap Ray yang membuat Rara kesal.
"Pak Ray, saya mohon ini penting sekali," kata Rara
"Baiklah tapi aku minta kamu memohon dan merayu aku dengan cara yang baik dan benar," timpal Ray.
Rara yang kesal mengepalkan tangannya, ingin rasanya menabok Ray.
"Lebih baik aku kabur saja," batin Rara dengan tersenyum licik.
Rara kini keluar dan beberapa saat kemudian dia kembali lagi.
"Pak Raaaaayyyyy anda menyebalkan sekali," teriak Rara
Ray tertawa, "Mau kabur lagi?" tanya Ray
Ternyata tadi Rara dihadang oleh anak buah Ray yang berjaga di depan lift dan tangga.
"Baiklah-baiklah saya akan merayu anda dengan cara yang baik dan benar," kata Rara pasrah.
Kini Rara duduk di pangkuan Ray, dia memohon pada Ray untuk mengijinkannya keluar.
"Apa imbalan yang aku dapat jika mengijinkan kamu keluar?" tanya Ray
"Pak Ray pasti minta hukuman kan?" tanya Rara balik
"Nggak, tapi kalau kamu yang memberinya aku nggak bisa menolak," jawab Ray yang membuat Rara kesal setengah mati.
"Baiklah pak Ray saya akan memberi hukuman anda," sahut Rara
Ray nampak tersenyum, nggak sampai seminggu Raka sudah memohon memberinya hukuman meski dia menggunakan cara yang licik.
Rara langsung saja mencium bibir Ray, dia yang sebenarnya rindu juga melahap bibir Ray dengan rakus.
Mereka saling berpaut,
Ray memindahkan bibirnya ke leher Rara, dia menyesap dan meninggalkan lukisan senja di sana.
"Pak Ray," ucap Rara yang semakin menenggelamkan wajah Ray di bibirnya.
Sensasi nikmat yang Ray berikan membuat Rara tak kuasa menahan keinginan untuk meminta hal lebih.
Perlahan tangan Ray melepas satu persatu kancing baju Rara, lalu dia menenggelamkan wajahnya dia antara belahan dada Rara yang masih terbungkus.
"Buka boleh?" tanya Ray dengan suara yang berat.
Lagi-lagi bagian bawahnya sudah nyut-nyutan begitu pula dengan Rara.
"Jangan pak," kata Rara lalu mengancing kembali bajunya.
Rara turun dari pangkuan Ray lalu membenahi dirinya yang kacau.
__ADS_1
"Sudah pak," kata Rara
Ray kini mengijinkan Rara pergi, baik Rara dan Ray sama-sama menahan hasrat yang sudah di ubun-ubun.
Rara kini segera melajukan motornya menuju kafe tempat Raya mengajaknya ketemuan.
Tak berselang lama Rara sampai.
"Maaf Raya aku telat," kata Rara lalu duduk
Raya menatap Rara dan dia melihat bekas kecupan merah-merah di leher temannya tersebut.
"Apa kamu bergulat dulu sebelum kesini?" tanya Raya
"Kamu kok tau, eh maksud aku kamu tu ngaco mana ada aku bergulat dulu," elak Rara
"Udah nggak usah mengelak, tu bekas kecupannya masih baru," sahut Raya
Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil terkekeh.
"Iya iya, ini tuh biar aku diberi ijin tau nggak, dia itu bos paling licik," timpal Rara
"Tapi kamu juga menikmatinya kan?" goda Raya.
"Ya iyalah," sahut Rara lagi-lagi keceplosan.
Raya hanya tertawa melihat sikap munafik temannya, lagian dia itu janda jadi sah sah saja jika dirinya dan Ray saling suka.
Kini Raya menjelaskan pada Rara, bahwa Raka juga menggugat dirinya. Raka menunjukkan bukti-bukti saat Rara masih polos, dia juga mendapatkan video Ray masuk dan keluar dari kamar Rara.
"Tak ku sangka dia licik juga," gumam Rara dengan tertawa.
"Tapi bukti tidak akan memberatkan aku, karena bukti aku lebih lengkap dari buktinya," imbuh Rara.
Di sisi lain Revan juga melaporkan gugatan Raka pada Rara hari ini.
Ray tertawa, "Bodoh, bukti itu nantinya akan memberatkannya sendiri," kata Ray
"Benar pak, dia masih tidak tau kalau kita memiliki bukti yang lengkap," sahut Revan
"Pantau terus Revan, aku takut kalau dia nekat mencelakai Rara," titah Ray dengan khawatir.
"Selalu pak, jangan khawatirkan hal itu," sahut Revan
"Bagus," timpal Revan
"Raka kelihatnya sangat takut jatuh miskin," kata Ray
"Benar, apa perlu kita memberitahu papanya, karena bagiamana pun juga kita butuh tanda tangan papa Raka atas pengalihan warisan Raka ke Rara,"
"Lakukan Revan, kamu kabari papa Raka sekarang," titah Ray.
Halo kak, gimana kabarnya?
Pasti baik ya.
Maaf nih Kak, komen-komen kemarin nggak terbalaskan, tapi aku baca kok. Dan aku senyum-senyum sendiri.
Kemarin badan kurang fit jadi setelah nulis aku tinggal.😁
Jangan lupa like, vote, hadiah dan komen ya kak.
Maksih😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1