Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Berdebat


__ADS_3

"Setelah dia datang, tamatlah kamu Ra," ucap mama Ray lalu dia dan asistennya pulang.


Di rumahnya mama Ray membuang tas miliknya, tak hanya itu dia juga membuang semua benda yang ada di ruang kerjanya.


"Wanita brengsek, memangnya siapa dia berani menantang aku," umpat mama Ray lalu duduk di kursi kebesarannya.


Melihat atasannya kesal membuat, Ryan asistennya menunduk.


Mama Ray memijat pelipisnya lalu dia menatap Ryan dengan tatapan yang tak biasa.


"Hey Ryan, daripada kamu berdiri di situ lebih sana lakukan apa yang bisa kamu lakukan, percepat kedatangan Rea," maki Mama Ray.


"Baik nyonya," kata Ryan lalu dia keluar.


Ryan menghubungi manager Rea, dia menyuruh Rea untuk segera datang.


Dan manager Rea bilang kalau Rea akan berangkat hari ini.


Rara kini menatap langit-langit rumahnya, kedua matanya kini meneteskan air mata kembali.


"Nasib cinta aku kenapa tidak mulus seperti orang-orang. Bertemu jatuh cinta dan menikah. Oh God," kata Rara.


Rara memejamkan matanya, berusaha melupakan apa yang baru saja menimpanya dan tanpa terasa dia malah terlelap.


Ray seusai rapat dia datang ke apartemen Rara,


"Apa ada tamu?" batin Ray saat melihat dua air mineral kemasan di meja.


Ray memanggil-manggil kekasihnya lalu dia berjalan menuju kamar, saat membuka pintu Ray melihat Rara tidur dengan kaki menggantung, tangannya juga dia letakkan di dahi yang tandanya ada yang Rara pikirkan.


Ray mendekat dan duduk di samping tubuh Rara, dengan pelan dia menurunkan tangan Rara.


Terlihat ujung mata yang basah.


"Kamu kenapa sayang? apa yang kamu pikirkan? aku sudah membuat Raka dan Sherly menderita, apa mereka masih mengganggu kamu?" Ray bertanya-tanya, dia sungguh tidak rela jika Rara bersedih apalagi menangis.


Ray segera menghubungi Revan dan bertanya terkait keadaan Sherly dan Raka, dan Revan menjawab jika Raka dan Sheryl dalam masa pengobatan. Jadi sudah dipastikan kalau bukan Raka dan Sheryl yang datang dan mengganggu Rara.


Ray keluar untuk mengecek CCTV, dan betapa kagetnya dia kalau yang datang adalah mamanya sendiri.


"Apa maksud mama?" Ray bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ray mengepalkan tangannya saat mendengar percakapan mama dan kekasihnya tersebut.


"Apa maksud mama menyuruh Rara menjauh dari Ray," kata Ray kesal.


Namun setelah mendengar jawaban Rara, Ray nampak tersenyum lalu dia kembali ke kamar.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, semoga sampai nanti sikap kamu akan tegas begini, dan tidak terpengaruh oleh mama," kata Ray lalu dia mengecup kening wanitanya tersebut.


Ray yang tidak ingin mengganggu tidur Rara memutuskan untuk pulang karena dia ingin bertanya pada Mamanya terkait Rara.


"Kita pulang," titah Ray pada sopirnya.


"Baik Tuan," sahut sopir lalu melajukan mobilnya untuk pulang.


Setibanya di rumah Ray masuk dan langsung pergi ke ruang kerja mamanya.


Mamanya kebetulan berada di sana.


"Mam," panggil Ray


Mama Ray menoleh lalu tersenyum sinis, "Ada apa?" tanya Mama


Ray duduk di hadapan mamanya dengan meja sebagai pembatasnya.


"Apa maksud mama datang menemui Rara?" Ray menjawab pertanyaan mamanya dengan bertanya balik.


"Dia mengadu padamu? cih, tukang adu. Dia sengaja membuat kita berselisih Ray," kata mama.


"Bukan Rara melainkan mama yang ingin


membuat Ray dan Rara berselisih," sahut Ray dengan kesal.


"Kenapa mama minta Rara untuk menjauhi Ray, mama kan tau kalau Ray sungguh mencintai Rara," imbuh Ray dengan suara yang meninggi


Brak


Mama Ray menggebrak meja, dia marah akan sikap Ray.


"Apa begini cara kamu berbicara dengan orang tua yang melahirkan kamu?" teriak mama tak terima.


"Ray akan respect jika mama tidak buat ulah," sahut Ray


"Mama bersikap begini karena mama tidak ingin kamu salah memilih pasangan, Rara itu tidak mencintai kamu, dia hanya ingin mencari keuntungan dari kamu," timpal Mama tak terima.


"Tau apa mama tentang cinta, yang mama sendiri tidak memilikinya," kata Ray.


"Ray!" hardik mama


Ray menatap mamanya dengan lekat, dia sungguh kesal sekali dengan mamanya yang ikut campur bahkan bisa dibilang sebagai perusak.


"Mam, Ray ingatkan mama jangan rusak hubungan Ray dan Rara atau Ray tidak akan menganggap Mama orang tua Ray lagi.


Plak....

__ADS_1


Mama Ray menampar anaknya


"Dasar anak tak tau balas Budi, dari kecil siapa yang membesarkan kamu, hah!" teriak mama Ray.


"Baby sitter, memangnya mama yang merawat Ray. Saat Ray sakit apa mama yang menunggui dan mengompres Ray? saat Ray menjadi juara kelas apa mama yang datang ke sekolah untuk melihat Ray di atas panggung dengan memegang piala? Saat Ray tumbuh dewasa apa mama yang berada di samping Ray? nggak kan? jadi kenapa baru saat ini mama mengklaim kalau mama yang membesarkan Ray?" Ray memberondong mamanya dengan banyak pertanyaan sehingga mama Ray terkena mental dengan banyaknya pertanyaan Ray yang terlontar.


Mama Ray terduduk tanpa bisa berkata-kata, dia menatap Ray dengan tatapan tak biasa.


"Mama sudah memilihkan jodoh untuk kamu, dia lah yang terbaik untuk kamu," kata Mama.


"Bukan terbaik untuk Ray melainkan terbaik untuk kerja sama bisnis mama dan papa," sahut Ray.


"Maaf ma, Ray tidak berminat dengan jodoh mama, kalau mama tetap bersikeras, lebih baik jodohkan saja dia dengan papa," imbuh Ray lalu dia keluar.


"Anak brengsek kamu Ray, dengar! mama belum selesai bicara," teriak mama Ray yang tidak digubris oleh Ray.


Mama yang kesal lagi-lagi membuang benda yang ada di atas meja, dan lagi-lagi art harus membersihkannya lagi.


Mama Ray yang kesal pergi ke kamarnya, dia menghubungi suaminya dan mengadu atas sikap Ray.


"Let him do anything what he want to do, don't force him, let him choose his wife," kata Papa Ray dan lagi-lagi mama memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.


(Biarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan, jangan paksa dia. Biarkan dia memilih istrinya).


"Apa yang kamu berikan pada Ray sehingga dia begitu cinta padamu," kata Mama Ray.


Di kamarnya Ray merebahkan dirinya di tempat tidur, dia kesal sekali dengan mamanya yang ingin memisahkan dirinya dan Rara.


"Jadi ini tujuan mama datang kemari, hanya ingin jadi perusak," gumam Ray.


Kemudian Ray beranjak lalu menuju kamar mandi, dia ingin merendam tubuhnya di bak mandi, supaya lelah tubuhnya hilang.


Seusai mandi, Ray mengganti pakaiannya lalu dia keluar, dia pergi ke apartemen Rara lagi.


"Aku akan selalu di samping kamu sayang, tak akan aku biarkan nenek sihir itu mengganggu kamu," kata Ray.


Setibanya di apartemen Rara, Ray langsung masuk dan lagi-lagi dia melihat Rara polos tanpa penutup.


Tanpa membuang waktu Ray memeluk Rara yang polos dari belakang.


"Sayang," teriak Rara kaget.


Dia berusaha menghindar namun Ray dengan kuat memeluknya.


"Kita bisa khilaf sayang," kata Rara.


"Itulah yang aku tunggu-tunggu, khilaf dan mengerjai kamu,"

__ADS_1


__ADS_2