
"Sayang, aku hamil," teriak Rara dari kamar mandi.
Ray yang masih berada dalam alam mimpinya tentu tidak mendengar teriakan Rara.
Rara keluar dengan hati yang berbunga-bunga, karena sudah hampir satu tahun menanti kehadiran sang buah hati akhirnya kini dia telah hamil.
Rara membangunkan Ray yang masih tidur dengan menggoyang tubuh suaminya.
"Sayang, ayo bangun," ucap Rara
"Apa sih sayang, aku masih ngantuk banget," sahut Ray yang malah memeluk gulingnya dengan erat.
"Aku hamil sayang," timpal Rara
"Apa! kamu hamil?" teriak Ray dan langsung beranjak dari tidurnya.
Rara menunjukkan testpack yang dibawanya nampak dua gadis merah.
"Dua gadis merah?" tanya Ray yang bingung.
"Iya sayang, itu tandanya aku hamil sayang," kata Rara
Ray langsung memeluk istrinya, entah mimpi apa dia semalam sehingga pagi hari saat bangun dia mendapatkan kabar yang begitu bagus.
"Akhirnya Tuhan mengabulkan doa-doa kita sayang, dan usaha menyodok aku nggak sia-sia," ucap Ray dengan terharu.
"Iya sayang," sahut Rara yang semakin mengerutkan pelukannya pada sang suami.
Ray menghubungi Rehan untuk merekomendasikan dokter kandungan terbaik di Indonesia bila perlu dokter terbaik di dunia. Karena Ray tidak ingin coba-coba dengan menggunakan dokter yang tidak direkomendasikan, takutnya anak dan istrinya jadi maal praktek.
"Bersiaplah sayang, sebelum ke kantor kita akan periksa dulu," kata Ray dengan mengecup kening Rara
"Iya sayang," sahut Rara.
**************
"Dokter kandungan terbaiknya mana?" tanya Ray saat tiba di ruangan Rehan.
"To the poin sekali, duduk dulu kek, basa basi kek, dasar bos nggak ada ahklak." Rehan menggerutu.
"Ya karena habis ini aku harus ke kantor," sahut Ray
"Ya sudah, ayo aku antar," ucap Rehan
"Dulu yang menangani baby Rere dokter vera, dia dokter terbaik di sini," kata Rahan.
Bayi Rere adalah anak Rehan dan Rea, kini usia bayi Rere menginjak empat bulan.
Kini Rara, Ray dan Rehan menuju ruang praktek Dokter Vera. Setibanya di ruang praktek dokter Vera banyak sekali ibu-ibu yang mengantri untuk memeriksakan kandungannya.
"Antri sekali, bisa-bisa aku telat hari ini," kata Ray dengan melihat jam tangannya.
"Sekarang juga sudah telat sayang," ucap Rara
"Langsung masuk aja nggak udah antri," sahut Dokter Rehan.
__ADS_1
Dokter Rehan menyela satu pasien yang hendak masuk.
"Mohon maaf Bu, pemilik rumah sakit ada kunjungan, jadi mohon bersabar." Rehan mencoba menyela ibu-ibu dengan sedikit membual.
Mau nggak mau ibu-ibu tersebut kembali ke tempat duduknya.
"Dokter Vera," sapa dokter Rehan
"Ada yang bisa dibantu pak?" tanya Dokter Vera
"Istri pak Ray ingin memeriksakan kandungannya, tolong dilayani dulu," jawab Dokter Rehan.
"Baik pak," sahut Dokter Vera.
Rehan keluar dan meminta Ray dan Rara untuk masuk, tentu perlakuan Ray dan Rara berbeda dengan ibu-ibu lainnya. Jika Rara diperlakukan sama dengan ibu-ibu lainnya bisa-bisa rumah sakit tidak beroperasi kembali.
"Halo Tuan dan Nyonya Ray," sapa dokter dengan sopan
"Halo dok," balas Rara
Rara menceritakan kalau dia kini tengah hamil dan dia ingin memeriksakan kandungannya.
Dokter segera membawa Rara untuk berbaring di bed, dia meminta suster untuk mengoles gel pada perut Rara.
"Apa itu yang kalian oleh di perut istri saya?" protes Ray
"Ini gel pak, membantu saat proses USG," jawab dokter
Dokter kini melanjutkan pekerjaannya kembali, nampak sebuah titik terlihat di monitor.
"Lihatlah titik ini, ini nantinya yang akan berkembang menjadi bayi," kata Dokter dengan menyusuri perut Rara dengan alat.
"Kira-kira empat minggu," jawab Dokter
Sesuai USG dokter meminta Rara duduk kembali sambil beliau menuliskan resep.
"Di jaga ya kandungannya, usia sebulan masih rawan-rawannya gugur tolong diperhatikan semua apa yang dimakan, asupan gizinya, dan jangan lupa kurangi berhubungan badannya dan lagi kalaupun berhubungan jangan melakukan penetrasi terlalu dalam," saran dokter dengan memberikan resepnya.
"Tuh dengerin sayang," sahut Rara dengan menatap Ray
"Lantas gaya apa dok yang direkomendasikan?" tanya Ray
"Kalau bisa gaya pada umumnya Tuan Ray, jangan banyak gaya dulu," jawab Dokter
"Astaga, mati aku. Udah nggak boleh lama, nggak boleh penetrasi yang dalam, gak boleh sering kini ga boleh kebanyakan gaya," oceh Ray yang membuat dokter menggelengkan kepala.
"Gampang kalau mati ya tinggal kubur, gitu aja repot," sahut Rara yang membuat Ray melemparkan tatapan mautnya pada Rara.
"Gitu, mentang-mentang punya serepan main kubur saja," sindir Ray
"Maksudnya apa punya serepan, kalau ngomong tu dijaga," maki Rara
"La kamu, kenapa bilang tinggal kubur kan suka banget gitu aku mati," sahut Ray
"La kamu ya gitu," timpal Rara
__ADS_1
Dokter dan suster hanya melongo melihat Ray dan Rara yang malah bertengkar di depannya.
Dalam sejarah baru kali ini ada pasien yang bertengkar saat periksa.
"Maaf nyonya Tuan, lebih baik pertengkaran kalian lanjut di rumah saja, kasian para ibu-ibu yang mengantri," kata Dokter
"Diam dok," sahut Rara dan Ray barengan
Dokter tersentak kaget, jika bukan pemilik rumah sakit, dia pasti akan mengusir dari ruangannya.
Puas berdebat kini mereka meminta resep dan pamit pulang.
"Maaf dok," kata Rara lalu keluar.
Ray segera mengejar istrinya,
"Sayang, baiklah baiklah," kata Ray mencoba membujuk Rara
"Males," sahut Rara
"Aarrrggggg." Ray mengusap rambutnya dengan kasar.
Ray langsung saja mendekap istrinya, dia mengelus rambut Rara dan meminta maaf
"Maafkan aku," ucap Ray
"Nggak," sahut Rara
Ray terus membujuk istrinya dan apa yang mereka lakukan menjadi pusat perhatian orang yang ada di sana.
Bujukan maut Ray membuat Rara mencair juga lalu mereka berdua ke ruangan Rehan untuk meminta Rehan supaya menentukan obat mereka.
Seusai mendapatkan obatnya, Ray dan Rara pamit untuk pulang.
"Nggak usah pulang, aku ikut kamu ke kantor," kata Rara
"Baiklah," sahut Ray
"Tapi sebelumnya aku ingin makan bubur," pinta Rara
"Bubur apa?" tanya Ray
"Bubur sumsum," jawab Rara
"Ya sudah kita ke kantor dulu, nanti biar OB yang membelikannya untuk kamu," ucap Ray
"Nggak mau, aku maunya kita makan buburnya di tempat. Trus kamu yang menyuapi aku." Rara bersikeras untuk makan bubur di tempat.
Ray menghela nafas, padahal satu jam lagi dia ada meeting dengan klien.
"Aku ada meeting sayang." Ray mencoba mengiba
"Siapa peduli," sahut Rara
Ray yang kesal mencoba menyabarkan dirinya, dia menghubungi Revan untuk mengundur meeting dua jam ke depan
__ADS_1
"Nah gitu dong," ucap Rara dengan tertawa
"Gitu dong gitu dong, apa sih maunya wanita ini," batin Ray dengan kesal.