
Hari berlalu dengan cepat, hubungan Ray dan Rara semakin dekat, mereka sungguh mengumbar keromantisan mereka, dimanapun tempatnya mereka selalu saja romantis. Rencananya Ray akan segera melamar Rara mengingat hatinya sudah yakin dan mantep.
"Revan," panggil Ray yang begitu saja masuk dalam ruangan Reva
Revan menghentikan aktivitasnya lalu memindahkan pandangannya.
"Iya pak, ada yang bisa dibantu?" tanya Revan
"Bagaimana cara melamar wanita?" Ray menjawab pertanyaan Revan dengan bertanya balik.
"Pak Ray, anda ada-ada saja, saya ini seorang jomblo abadi, mana tau saya melamar wanita," jawab Revan
"Cari tau," titah Ray lalu dia duduk menunggu di sofa sambil menunggu Revan menemukan jawabannya.
"Cari infonya sekarang apa nanti pak?" tanya Revan
"Nanti setelah kita dibangkitkan dari kubur," jawab Ray dengan melemparkan tatapan mautnya, kesal sekali dengan Revan yang selalu bertanya.
"Astaaga," sahut Revan dengan terkekeh.
Kini Revan sibuk dengan titah Ray, dia membuka Gugel untuk mencari cara melamar paling romantis plus kata-kata romantis yang harus diucapkan Ray.
"Ini pak Ray," teriak Revan
"Apa?" tanya Ray
"Menurut data yang saya temukan melamar romantis itu ada banyak sekali salah satunya melamar di saat pertama kali kalian bertemu," jawab Revan, "Bisa juga saat makan malam, saat ulang tahunnya dan lain-lain," imbuh Revan.
"Lain-lainnya apa?" tanya Ray
"Ya banyak pak, momen-momen saat bersama seperti masak bersama maupun berenang masih banyak lagi," jawab Revan.
Ray tersenyum, dia lebih tertarik melamar Rara di tempat saat dia pertama kali bertemu Rara dulu yaitu tempat dimana Rara dijebak oleh Raka.
Ray juga meminta Revan untuk mencari kata-kata romantis yang akan dia gunakan saat melamar Rara nanti.
"Apa tidak bisa merangkai kata-kata sendiri kenapa harus menyontek sih," batin Revan kesal.
"Malu-maluin, coba kalau Rara tau kata-kata yang diucapkan hasil mencontek," imbuh Revan dalam hati.
Revan segera melakukan pencarian mencari kata-kata romantis saat melamar.
"Ah aku jadi pengen melamar wanita," batinnya
Setelah mendapatkan banyak kata-kata romantis, Revan mengambil gambar dan mengirimkan semua kata-kata romantis yang dia dapat dari internet ke Ray. Mendapatkan kiriman screenshot dari Revan membuat Ray tersenyum puas.
"Sekarang tugas anda menghafalnya, jangan nyontek kalau ketahuan Rara dia bisa marah," pesan Revan dengan tertawa, "Eh nggak marah tapi anda malu karena ketahuan nyontek," imbuhnya.
__ADS_1
Ray kini beranjak namun baru beberapa langkah dia kembali dan duduk di sofa
"Oh ya Revan bagaimana keadaan Sheryl dan Raka?" tanya Ray
"Raka sedikit-sedikit mulai merespon psikiater, pengobatan yang selama sebulan ini dia jalani membuatnya sudah mau berkata-kata meski terkadang dia diam lagi, Papa Raka sangat keras menyembuhkan anaknya, kalau Sherly masih sama, dia selalu menyebut nama Riad dan Raka sambil menangis," jawab Revan
"Kasian juga," timpal Ray
"Benar tapi ini bisa jadi pelajaran buat mereka ataupun untuk kita, jika sudah memiliki pasangan cukuplah dengan pasangan kita, bingung cari yang baik tanpa disadari pasangan kita lah yang terbaik," ucap Revan.
Ray menatap Revan, asistennya sungguh bijak.
"Bagaimana gizi yang dia dapat selama di rumah sakit jiwa?" tanya Ray
"Sesuai standard makanan yang disiapkan rumah sakitnya pak," jawab Revan.
"Kamu bilang pada pengurus makanan di sana, supaya memberikan dia makanan yang cukup, susu serta vitamin," imbuh Ray yang membuat Revan membolakan matanya, heran dengan Ray yang malah mengkhawatirkan gizi Sheryl.
"Tapi untuk apa?" tanya Revan
"Untuk bayi yang dikandungnya," jawab Ray
"Aku tidak iba pada ibunya namun iba pada bayi yang dikandungnya, bagaimana pun juga dia adalah anak Riad, orang suruhan kita," imbuh Ray
"Tak kusangka pak, jiwa anda mulia juga," batin Revan.
"Sayang aku pergi sebentar ya?" tanya Ray yang sudah berada di ruangannya.
"Memangnya mau kemana?" tanya Rara
"Sudahlah sayang jangan banyak tanya, yang pasti bukan menemui wanita lain," jawab Ray dengan tersenyum licik.
Rara hanya bisa menghela nafas, biasanya kalau dia tidak bertanya kemana Ray pergi, pasti Ray akan menghukumnya namun saat ini gantian dirinya bertanya pergi kemana? Ray malah menjawab jangan banyak tanya.
"Apa sih maunya," ucap Rara yang kesal sekali dengan Ray
"Mau aku adalah ciuman kamu," sahut Ray lalu dia mencium bibir Rara dengan rakus.
"Kenapa dia selalu punya seribu modus," batin Rara.
Mereka berdua menikmati ciuman panas mereka dan beberapa saat kemudian Ray melepaskannya lalu pergi.
"Tanpa bilang apa langsung pergi, kamu pikir aku penjual bibir," umpat Rara.
********
Ray dan Revan melihat Sheryl dari kaca, nampak rasa iba melihat keadaannya namun bagaimana lagi semua ini adalah buah yang Sheryl tanam.
__ADS_1
Karena ulahnya Rara saat itu juga menderita bahkan lebih darinya.
"Lihatlah keadaan kamu saat ini, apa yang akan kamu sombongkan, mulut kamu dengan mudahnya menghina Rara yang jauh lebih dari kamu," kata Ray
Sheryl yang tidak sengaja melihat Revan dan Ray mengira itu adalah Riad dan Raka sehingga dia menggedor-gedor kaca, karena ingin keluar.
"Ada apa dia?" tanya Ray heran
"Mungkin mengira kalau kita ini Riad dan Raka," jawab Revan.
Dokter segera datang untuk memberinya obat penenang.
Ray meminta Revan untuk membawa dokter yang mengurusi Sheryl menghadapnya.
Tak berselang lama Revan kembali dengan dokter.
"Bagaimana keadaan pasien dan janin yang dikandungnya?" tanya Ray
"Dengan kondisi si ibu yang seperti ini tentu sangat mengganggu perkembangan anak yang dikandungnya, namun kamu akan selalu memantau keadaan pasien dan bayi yang dikandungnya," jawab Dokter.
"Jaga baik-baik anak dalam kandungannya Dok, jika perlu datangkan dokter kandungan untuk selalu memantau keadaanya," titah Ray
"Siap pak," sahut dokter
Ray sungguh bertanggung jawab dengan anak yang dikandung Sheryl, bahkan selama Sheryl dalam rumah sakit jiwa, Ray yang membiayai semuanya.
Bukan ingin menyembuhkan ibunya namun tidak tega dengan jabang bayi yang ada di kandungan Sheryl.
Tak ingin berlama-lama Ray dan Revan memutuskan untuk kembali ke kantor.
Sepanjang perjalanan Ray terlihat melamun, seperti ada yang dipikirkannya.
"Apa yang anda pikirkan Pak?" tanya Revan
"Aku memikirkan anak Riad, apa nanti kita sebaiknya mengirim anaknya ke Algeria setelah dia lahir?" jawab Ray lalu dia melemparkan pertanyaan balik.
"Sebaliknya jangan pak, tapi entahlah jika Riad setuju ya nggak apa-apa," timpal Revan.
"Jikalau Sheryl sembuh biar dia yang merawatnya, bagaimana pun juga dia adalah ibunya," imbuh Revan
"Ah sudahlah, pikir nanti, lebih baik aku fokus melamar Rara," ucap Ray.
***********
Di negara Paman Sam, seorang wanita nampak tersenyum sinis melihat foto-foto yang baru dia dapatkan.
Dia lalu menyuruh asistennya untuk datang ke ruangan besar miliknya.
__ADS_1
"Apa mereka berniat untuk menikah?"