Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Curiga


__ADS_3

"Astagfirullah non Rara," kata art


Dengan segera Rara mendorong tubuh Ray, kini dia seperti maling yang sedang ketahuan mencuri.


"Bibi," ucap Rara


"Maaf Non, anggap saja bibi nggak lihat. Silahkan dilanjut," kata bibi lalu kembali ke kamarnya.


"Tuh kan ketahuan, kalo bibi bilang pada mama mau ditaruh kemana muka aku," kata Rara dengan cemberut.


"Panik sekali santai lah sayang, ya tinggal bilang ma mama kalau kita kan sudah dewasa jadi ciuman itu wajar apalagi kita kan mau menikah," sahut Ray dengan santai.


"Lebih baik kamu pulang sayang, aku mau istirahat dulu," kata Rara


"Padahal aku masih ingin bersama kamu, aku boleh nggak menginap di sini?" tanya Ray


"Sayang, kita kan belum menikah jadi nggak enak sama mama dan papa," jawab Rara


"Baiklah, ya sudah sampai ketemu besok pagi ya," kata Ray lalu mencium bibir calon istrinya lagi.


Rara segera menuju ke tempat tidur untuk istirahat dan keesokannya sebelum ke kantor dia menyempatkan diri untuk menjenguk Raka.


Seperti kemarin Rara mengajak Raka mengobrol meski masih diam namun setidaknya Raka menoleh dan mendengarkan dirinya berbicara.


Tiga puluh menit berlalu, Rara pamit untuk bekerja.


Karena harus mengajak Raka mengobrol akhirnya Rara telah datang ke kantor.


"Darimana saja? kenapa datang telat?" tanya Ray


"Maaf sayang, aku tadi bangun kesiangan," jawab Rara berbohong.


Ray mengerutkan alisnya, karena tadi Ray datang untuk menjemput Rara dan mama bilang kalau Rara pagi sudah berangkat.


"Yakin bangun siang?" tanya Ray dengan penuh penekanan


"Iya sayang," jawab Rara


Ray tau kalau dibohongi hanya bisa tersenyum kecut. "Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dia membohongi aku," batin Ray lalu dia kembali ke kursi kebesarannya.


Ray tidak bisa fokus, dia kepikiran tentang Rara yang membohonginya.


"Apa dia memiliki pria lain?" batin Ray


"Aarrggg nggak mungkin, dia kan setia tapi kalau iya aku juga tidak tau apalagi dia sekarang kan kaya." Ray berasumsi dengan pikirannya sendiri.


Dia yang nggak fokus memutuskan untuk keluar ruangannya.


Rara cukup tau kalau Ray curiga maka dari itu Rara tidak menemui Raka dulu.


"Lusa saja aku menemui mas Raka," batin Rara lalu dia kembali ke pekerjannya.


Jam pulang kantor telah tiba, Rara menghampiri meja Ray, dia ingin mengajak Ray untuk pulang.


"Sayang pulang yuk," ajak Rara


"Maaf sayang kamu pulang dulu ya, karena aku masih banyak pekerjaan," tolak Ray


"Aku tungguin ya," ucap Rara

__ADS_1


"Nggak usah sayang, kamu puasa kan? lebih baik kamu pulang dulu karena setelah ini aku juga ada kerjaan," tolak Ray


"Baiklah, aku pulang ya," pamit Rara


"Iya hati-hati, langsung pulang jangan mampir-mampir," pesan Ray lalu dia mengecup kening Rara.


Setelah Rara keluar dari ruangannya, Ray segera menutup laptopnya dan mengikuti Rara.


Dia sungguh penasaran kemana Rara pergi.


Ray mengikuti Rara dari belakang, Rara kini berhenti di sebuah restoran, dia membelikan mama dan papanya makanan terlebih dahulu.


"Dia membeli makanan," gumam Ray


Seusai membeli makanan, Rara langsung pulang dan ini membuat Ray tersenyum kecut.


"Apa yang terjadi kepadaku, aku telah mencurigainya," gumam Ray lalu dia memutar mobilnya dan pulang.


Sepanjang perjalanan Ray sungguh bingung dengan sikapnya, apa dia keterlaluan sehingga mengikuti Rara?


*************


Keesokannya, pagi sekali Ray datang ke rumah Rara bukan untuk menjemput Rara melainkan untuk mengikuti Rara lagi,


"Maafkan aku, kali ini aku akan mengikuti kamu lagi, jika kamu benar-benar ke kantor bearti feeling aku yang salah," gumam Ray


Dan benar, Rara menuju kantor bukan ke rumah Raka dan ini membuat Ray merasa bersalah karena mencurigai Rara.


"Maafkan aku sayang," gumamnya lalu dia bergegas keluar dari mobil dan segera menyusul Rara.


Setibanya di ruangannya Ray langsung mendatangi Rara dan memeluknya.


"Kangen saja," jawab Ray


"Cium boleh?" tanya Ray


"Aku puasa," jawab Rara


"Sudah selesai?" tanya Ray lagi


"Sudah," jawab Rara


"Kenapa cepat sekali?" tanya Ray lagi


"Kan sudah seminggu. Oh ya kamu tanya lagi gratis gelas cantik," jawab Rara


Ray tertawa,


"Aku tidak butuh gelas cantik, yang aku butuhkan wanita cantik di depanku ini," sahut Ray


"Bukankah aku sudah menjadi milik kamu?" tanya Rara


"Iya, dan terima kasih," jawab Ray lalu mereka berpelukan lagi.


Ray kini tidak mencurigai Rara lagi, dan dia menyesal karena telah mencurigai tunangannya tersebut.


Seperti dua hari yang lalu, Rara datang kembali ke rumah Raka.


"Dengan intensitas dua hari datang apa bisa cepat sembuh? sedangkan aku sebentar lagi akan segera menikah," Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Raka, Rara menemui Raka di kamarnya.


"Raka, mau sampai kapan kamu menyusahkan orang lain?" Rara bermonolog dengan Raka yang diam.


"Cepatlah sembuh, jangan buat papa sedih karena kamu," imbuh Rara dengan menepuk Raka.


Raka menatap Rara dengan tatapan yang sedih, dia lagi-lagi menangis.


"Menangis lah, namun setelahnya aku harap kamu mulai sembuh," kata Rara.


Rara terus saja mengoceh dia juga beberapa kali menepuk bahu Raka.


Dan tak terasa sudah satu jam Rara menemani Raka, dan kini dia harus pergi ke kantor.


Lagi-lagi Rara datang terlambat dan ini membuat Ray kembali galau.


"Apa sih yang sebenarnya terjadi?" batin Ray sambil melihat Rara yang baru datang.


"Telat satu jam, kamu darimana?" tanya Ray


"Maaf sayang, tadi mobilnya mogok," jawab Rara berbohong.


"Ya sudah, bekerjalah," kata Ray


"Iya sayang," sahut Rara.


Ray yang tidak tenang kini memerintahkan orang untuk membuntuti Rara, dia ingin tahu sebenarnya Rara pergi kemana.


***********


"Sayang hari jumat besok, hari dimana aku akan memeluk Islam, kamu datang ya," kata Ray


"Iya sayang, aku pasti datang," sahut Rara


"Makasih ya sayang kamu telah mau masuk Islam, aku bahagia sekali," timpal Rara


"Biar kita bisa langsung menikah," sahut Ray


"Udah nggak sabar ya," goda Rara


"Iya dong, aku merindukannya," seloroh Ray yang membuat Rara mencubit perut Ray.


"Sakit sayang," kata Ray berpura-pura


Rara tertawa melihat kekasihnya pura-pura kesakitan,


"Sayang aku pulang dulu ya," pamit Rara


"Iya, aku juga mau bertemu dengan ustad," sahut Ray


"Ok sayang," timpal Rara


Ray selalu memantau laporan anak buahnya dan mereka bilang kalau Rara langsung pulang.


"Ini yang salah aku atau siapa sih, kenapa dia mempermainkan aku seperti ini," ucap Ray dengan kesal.


Ray segera menyambar jas nya dan pulang, dia dan Revan rencananya akan bertemu dengan pak ustad lagi.


Sepulangnya dari ketemu pak ustad tak sengaja Revan melihat Rara sedang membeli sesuatu di panggil jalan.

__ADS_1


"Bukankah itu Rara?"


__ADS_2