
"Apa yang akan kamu lakukan pak? mengapa meminta aku memantau aktivitas Riad di sana?" gumam Revan dengan bingung.
Revan menghubungi orang untuk mencari informasi dan memantau kegiatan Riad.
Beberapa saat kemudian Revan mendapatkan informasi tentang Riad terlebih dahulu.
Riad di negaranya membuka sebuah cafe di kota yang bernama Batna. Kafenya lumayan ramai, dan ini cukup membuat ekonomi Riad membaik.
Tak hanya informasi foto-foto Riad juga dia dapat, nampak Riad lebih baik dan cukup bahagia di sana.
"Orang sudah bahagia di sana kenapa harus dipantau," gumam Revan.
"Lagipula lebaran-lebaran kenapa masih saja ada kerjakan untuk aku, ga tau apa kalau aku ini lagi mempersiapkan diri untuk melamar Raya." Revan bermonolog dengan dirinya sendiri.
Seusai mendapatkan informasi, Revan pergi ke rumah Ray untuk melaporkan informasi mengenai Riad sekalian silaturahmi halal bihalal.
"Jadi bagaimana?" tanya Ray
"Aman nggak nih kalau saya bicara di sini," kata Revan mencoba mengingatkan Ray dia takut kalau Rara tau dengan apa yang mereka bicarakan.
"Tenang nanti kalau dia masuk kita segera alihkan," sahut Ray
"OOO begitu. Oh ya pak Riad sudah bahagia di sana kenapa masih diusik? tanya Revan dengan heran.
"Ya karena Sheryl hamil, aku hanya kasihan saja dengan anaknya," jawab Ray
"Kita carikan orang lain saja, bagaimanapun juga inikan misi kita bagaimana bisa kita meminta Riad untuk bertanggung jawab, bagaimana kalau dia di sana sudah memiliki kekasih." Revan kurang setuju dengan ide Ray untuk mempertemukan Riad dan Sheryl.
Yang membuat Riad dekat dengan Sheryl adalah Ray, lantas mengapa kini Riad harus disuruh tanggung jawab?
"Saran saya mending jangan, ini juga bisa buat pelajaran sheryl bukankah dia sendiri yang menyerahkan tubuhnya kepada Riad," imbuh Revan.
"Lantas setelah ini bagiamana? apa kamu mau aku terus membiayai hidupnya, kalau Rara tau bagaimana? bisa-bisa aku dikirim ke neraka olehnya," sahut Ray.
"Astaga pak, semenjak kapan anda jadi takut sama wanita. Cie cie sekarang jadi STI," goda Revan
Ray mengerutkan alisnya, bingung dengan kata Revan.
"Apa itu STI?" tanya Ray.
"Suami takut istri," jawab Revan
"Brengsek, bukannya takut tapi nggak mau saja ada pertikaian diantara kita mengingat kan aku baru saja menikah," kata Ray
Suasana hening menyelimuti Ray dan Revan, mereka berdua nampak berfikir bagaimana solusi untuk masalah Sheryl.
"Kita undang saja Riad kesini, kita tanya lebih dulu apa dia bersedia tanggung jawab apa tidak." Revan mengemukakan idenya.
"Begitu juga nggak papa," sahut Ray dengan tersenyum.
"Ya sudah pak, setelah urusan saya dengan Raya...." Revan belum menyelesaikan kata-katanya Ray sudah memintanya untuk diam karena Rara datang dengan membawa camilan serta minuman untuk mereka.
__ADS_1
"Teman Raya pak cantik-cantik apa anda menginginkan satu buat selingan? tenang aku jamin rahasia anda," kata Revan yang membuat Ray membolakan mata.
Bisa-bisanya Revan berbicara seperti itu saat Rara masuk.
"Cari mati kamu Revan," gumam Ray dengan melirik Revan.
Revan hanya terkekeh karena kali ini pasti ada drama kecil di hadapannya.
Lumayan buat hiburan di hari raya.
"O.... Mau cari yang bening-bening. Memangnya aku kurang bening ya," kata Rara dengan kesal
"Kata pak Ray dia ingin mencari selingan Ra," sahut Revan.
"Revan sekarang di Ukraina ada perang, bagaimana kalau aku kirim kamu ke sana kan sekalian kamu bantu tentara kita di sana syukur-syukur pulang tinggal nama," ucap Ray dengan dingin.
Revan hanya tertawa.
"Perasaan kita baru saja menikah tapi kamu sudah seperti ini, awas saja kalau ketahuan yang macam-macam siap-siap aku kebiri," omel Rara yang membuat Ray tersenyum kecut.
"Karena sudah tidak ada yang dibicarakan saya pamit dulu, kalian lanjut bertengkarnya," ucap Revan lalu dia meminum minuman yang disajikan Rara dan segera pergi.
Revan sungguh puas karena bisa mengerjai atasannya tersebut.
"Sayang jangan percaya Revan, mana mungkin aku bermain-main dengan wanita lainnya bukankah kamu lebih cantik," bujuk Ray
"Ya siapa tau, kan aku nggak tau apa yang kamu lakukan di belakang aku," sahut Rara
"Astaga sayang, cinta dan kasihku hanya untukmu," ucap Ray lalu dia berdiri dan mendekati Rara yang duduk di sofa.
Ray menidurkan tubuh istrinya dan segera menindihnya.
"Aku akan membuktikannya dengan cara seperti ini," ucap Ray dengan tersenyum licik.
"Nggak, aku tidak mau," sahut Rara mencoba memberontak.
"Aku tidak peduli," timpal Ray
Mau nggak mau Rara pasrah, memberontak sekuat tenaga pasti tetap kalah dengan Ray.
Ray mulai melucuti atasan istrinya, dan di sisi lain Revan harus kembali lagi karena kontak mobilnya ketinggalan.
Saat hendak masuk dia lagi-lagi harus menyaksikan adegan dewasa atasannya.
"Astagfirullah, kalian baru aku tinggal lima menit yang lalu kini sudah buka bukaan," kata Revan.
Mau nggak mau Revan turun dan meminjam mobil pada supir Ray karena terlalu lama kalau menunggu Rara dan Ray bercinta.
**********
Hari berlalu dengan cepat, kini Raka dan papanya telah pergi ke luar negri.
__ADS_1
Dia bertekad untuk lembar baru di negara orang, dia ingin memulai bisnisnya di sana.
Rea dan Rehan juga datang mengunjungi orang tua Rehan.
Mereka sangat senang terlebih ibu dan saudara Rehan karena mereka tau kalau Rea adalah anak orang kaya.
"Rehan kamu pintar sekali memilih calon istri," puji mama tiri Rehan
"Terima kasih," sahut Rehan.
"Oh ya pa, Rehan akan menikah beberapa hari ke depan, setelahnya kami akan bulan madu di Amerika." Rehan memberitahu orang tuanya terkait hari pernikahannya.
Awalnya mereka ingin menikah sekalian resepsi namun kelihatannya ide Ray menikah dulu menjadi inspirasi Rea dan rehan.
Untuk itu mereka memutuskan menikah dulu sebelum pergi ke Amerika.
"Pestanya bagaimana Rehan?" tanya mama tiri Rehan
"Nggak ada pesta karena kami hanya Ijab-Qabul saja, resepsinya nanti setelah siap semua," jawab Rehan.
"Oh begitu, nanti biar mama yang menyiapkan semua Rehan," sahut mama Rehan
"Nggak perlu repot-repot karena Rehan udah meminta orang menyiapkan semuanya," timpal Rehan.
Rehan yang tidak ingin berdebat dengan mamanya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Selain itu nanti sore dia ada jadwal operasi.
"Pa, Rehan pamit." Rehan pamit pada papanya. Dia juga menyalami mama dan saudara tirinya.
"Kita ini pulang atau ke rumah sakit?" tanya Rea
"Aku ngantar kamu ke rumah nanti aku pergi ke rumah sakit sendiri," jawab Rehan
"Pasti tu si Refa dekat-dekat sama kamu," sahut Rea dengan cemberut.
"Cie yang cemburu. Nggak nggak aku akan jauh-jauh darinya," timpal Rehan
Mau nggak mau Rea menuruti keinginan Rehan lagipula juga nggak mungkin dia mengekor Rehan bekerja.
*********
"Pak ini bagaimana kondisi pasien semakin drop," kata Refa.
"Segera operasi sekarang," titah Rehan lalu dia menyiapkan semuanya.
Kini Rehan memakai seragam lengkap dengan masker kepala dan wajah.
Semua sudah disiapkan dan pasien segera dipindahkan ke ruang operasi.
Refa setia di samping Rehan yang mengoperasi pasien, dia selalu mengusap setiap tetes keringat Rehan yang keluar.
Tak berselang lama operasi telah selesai, karena senangnya rehan.memeluk Rafa. Dia sungguh senang karena operasinya berhasil.
__ADS_1
"Pak terima kasih telah memeluk saya," kata Refa.
"Maaf Refa, tolong jangan baper. Tadi aku hanya senang saja dan tanpa sengaja memeluk kamu yang ada di samping aku," sahut Rehan.