
Pikiran kacau kini menyelimuti Raka, Sheryl yang tak bisa dihubungi ditambah hilangnya semua warisan serta harta benda yang dimiliknya membuat Raka frustasi, dia berteriak sekeras-kerasnya, entah bagaimana nasib dirinya nanti. Apakah papanya berbaik hati dengan memberikan harta untuknya atau membiarkannya menjadi gembel? entahlah. Lalu bagaimana pernikahannya dengan Sheryl serta bulan madu ke Amerika yang telah dia janjikan? apakah Sheryl mau menerimanya setelah kini dia tidak memiliki apa-apa lagi? Tapi Raka percaya kalau Sherly mau menerimanya. Itulah kini satu-satunya keyakinan Raka.
Papa Raka yang berada di luar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, seandainya Raka menurut kata orang tua dan merasa cukup dan bersyukur dengan istrinya pasti ini semua tak akan terjadi, dia sendiri yang bermain api dan kini dirinya terbakar hingga semua hilang dari genggamannya. Alih-alih hidup bahagia dengan wanita yang selalu dipujanya kini Raka malah menderita atas perbuatannya sendiri, kelakuan masa lalunya bak bom waktu yang kini perlahan meledak dan menghancurkannya.
Besok Sheryl dan Riad akan pulang ke tanah air, Sheryl sudah tidak sabar untuk membatalkan pernikahannya dengan Raka karena dia ingin segera menjadi nyonya Riad, CEO dari perusahan yang terkenal. Seorang sultan dari Afrika Utara yang lebih tepatnya sultan Hoax atau sultan imitasi.
"Sayang, tentukan pilihan kamu sekarang. Kamu pilih Raka atau aku?" tanya Riad yang kesekian kalinya.
"Tentu aku pilih dirimu sayang. Kenapa kamu selalu bertanya? jawab dan tanya Sheryl.
"Aku takut kalau kamu lebih memilih Raka calon suami kamu itu," jawab Riad pura-pura bersedih.
"Jangan takut, aku janji sayang akan memilih kamu," hibur Sheryl.
"Baguslah, jadi kita akan segera menikah," sahut Riad dengan senyuman kemenangan. Dia tidak sabar untuk kembali ke negara asalnya, negara yang sudah beberapa tahun dia tinggalkan untuk mencari nafkah di negara orang. Bukannya pulang dengan sukses Riad malah tidak bisa pulang karena tidak memiliki uang.
Sheryl yang terbuai dengan Riad rela meninggalkan Raka yang selama ini berjuang demi dirinya, semua dilakukan Raka demi dirinya namun dengan teganya Sheryl menghianati cinta Raka dan lagi-lagi benar kata pepatah kalau terkadang cinta itu membuat orang menjadi kejam, sekejam begal maupun pelakor.
Berbeda dengan Raka kini Rara menikmati kebahagiannya bersama Ray. Rara menikmati setiap momen-momen indah bersama Ray di tepi sungai Chao Phraya, sungai yang terkenal di negara gajah putih. Cerita mereka bak cerita di film-film, peran utama yang disakiti kini menjadi peran kedua yang menang.
"Sayang, kamu bisa bahasa Thai?" tanya Rara
"Tidak," jawab Ray, "Memangnya kenapa?" tanya Ray balik.
"Gak ada apa-apa, menurutku bahasa Thailand itu bahasa terkocak, lihat saja film-film Thailand," jawab Rara
"Aku sangat sibuk dengan pekerjaan jadi nggak ada waktu lihat film," sahut Ray
"Iya juga ya," timpal Rara
Karena hari sudah larut Ray mengajak Rara untuk check in di sebuah hotel berbintang lima di sekitar sungai Chao Phraya.
Rara sungguh gugup saat Ray membawanya masuk ke dalam kamar, apa imannya akan roboh malam ini?
"Ya Tuhan, hamba tidak ingin melakukan hal itu, namun jika setan-setan terus saja berbisik dan menyesatkan, hamba tak tau lagi," batin Rara.
Rara meletakkan tasnya di meja, lalu dia melepas sepatu high heels miliknya kemudian duduk di tepi ranjang.
Begitu pula dengan Ray, dia melepas jas dan kemejanya, lagi-lagi perut roti sobek terekspos sempurna dan ini membuat Rara serba bingung, dilihat terus kok dosa nggak dilihat kok sayang.
__ADS_1
"Saat melihat perut roti sobek seperti itu, ingin rasanya aku menggigitnya," gumam Rara dengan otak yang traveling kemana-mana.
Ray hanya tersenyum melihat Rara, "Pasti pikirannya kemana-mana, ini baru lihat perut coba aku buka semua," batin Ray.
"Sayang, kamu mau bantu aku nggak?" tanya Ray kemudian.
"Bantu apa?" Rara bertanya balik
"Bantu menggosokkan punggung aku," jawab Ray
Rara mendengus kesal, kirain mau meminta bantuan apa.
"Nggak, maaf sayang tanganku sakit jadi tidak bisa menggosok punggung kamu," sahut Rara alasan.
Ray kini berjalan mendekati Rara yang duduk di tepi ranjang, "Sayang sekali," bisik Ray dengan menggigit kecil telinga Ray.
Rara yang tidak ingin terbawa suasana mendorong tubuh Ray, "Cepatlah mandi, bau kamu seperti cuka," kata Rara
"Baiklah, tunggu aku," sahut Ray dengan tersenyum licik. Ray mandi dengan cepat karena dia ingin menghabiskan malam dengan kekasih tercintanya. Setelah Ray masuk kamar mandi Rara merebahkan dirinya di tempat tidur, tanpa terasa kini dia sudah sampai ke alam mimpinya. Dalam hitungan detik Rara berpindah alam.
"Cepat sekali tidurnya," gumam Ray saat dia keluar dari kamar mandi. "Padahal aku mandi secepat kilat," imbuh Ray kemudian.
"Dasar Putri tidur, padahal tadi dia memintaku untuk menghukumnya namun kini dia malah tidur," gerutu Ray lalu menaikkan sedikit tubuh Rara.
Kini mereka berdua saling berhadapan, Ray yang tidak tega membangunkan Rara memilih untuk menyusul Rara tidur.
"Selamat malam nyonya Raymond, have nice dream. I love you," kata Ray lalu dia mengecup kening Rara.
Rara tersenyum seolah dia dapat mendengar ucapan Ray.
Tak terasa pagi sudah menyapa, malam gelap kini sudah berganti dengan pagi yang cerah.
Perlahan Rara membuka matanya, "Ah ternyata sudah pagi," kata Rara lalu menguap.
Rara kini memutar bola matanya ke samping dan dia melihat pemandangan indah tiada duanya, siapa lagi kalau bukan Ray.
"Pagi my beloved husband," kata Rara sambil memainkan bulu-bulu di sekitar wajah Ray.
"Aku tu seperti mimpi bisa menjadi wanita seorang Raymond Toretto." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lihatlah Do Raymond. Mata, hidung, mulut, bulu mata semua perfect. Semua gen terbaik diberikan pada kamu, aku jadi kasian dengan orang yang mendapatkan gen jelek." Rara terus saja ngomong dan tanpa dia sadari Raymond bangun tapi dia pura-pura tidur.
Puas berbicara sendiri, Rara lalu beranjak dari tempat tidur, namun secepat kilat Ray menarik tangan Rara, "Semalam kamu telah tidur terlebih dahulu dan meninggalkan aku yang masih mandi," kata Rara.
"Maaf sayang, aku sangat lelah," sahut Rara
"Jadi terimalah hukuman dobel kamu," timpal Ray
"Kok double?" protes Rara
"Oh iya triple, kemarin saat di pengadilan, semalam dan juga tadi karena kamu memainkan wajah aku,"
Rara membolakan matanya, kenapa Ray selicik ini.
Ray kini melahap bibir Rara, Rara berusaha meronta karena dia belum minum ataupun sikat gigi jadi mulutnya masih bau, namun kelihatannya Ray tdiak peduli akan hal itu.
Lama-lama pautan mereka semakin ganas, Ray terus saja *****4* bibir Rara, begitu pula dengan Rara, kini mereka berdua saling memburu, hasrat sudah di ubun-ubun.
""Pak tunggu pak, jangan melakukannya," kata Rara
"Aku sudah tidak tahan sayang, please?"
Halo kak, Gimana kabarnya?
Baik kan?
maaf ya kak, balas komennya agak telat2.
Harap dimaklumi ya kak,🤗
Mau buat kuis ni kak, komennya dong.
Nanti akan aku pilih satu komen yang membuat aku terbuai, terpesona dan pastinya senyum-senyum sendiri. Maaf kak lebay bangt🤣🤣 dan yang terpilih aku bagi pulsa sebesar sepuluh ribu, maaf ya kak bagi-baginya dikit, maklum tanggal tua🤣🤣🤣
Eh tanggal tua ataupun tanggal muda sebenarnya sama 🤧🤧🤧🤧🤧😂
Makasih kak😘😘😘😘
oh ya jangan lupa like, hadiah dan vote nya ya kak biar semakin semangat nulisnya😘😘😘
__ADS_1
lope lope kak🤗🤗🤗❤️