
Satu bulan telah berlalu, Ray yang melihat sang istri naik turun tangga jadi khawatir dia takut kalau Rara kelelahan dan berakibat buruk untuk sang buah hati.
Ray akhirnya mengutus orang untuk membuat light khusus samping kamarnya.
"Buat lift khusus, di samping kamar," titah Ray
"Baik Tuan muda, nanti saya akan menghubungi pemborong," sahut kepala pelayan
"Bagus, usahakan secepatnya maksimal tiga hari jadi. Rekrut pekerja sebanyak mungkin," timpal Ray yang membuat kepala pelayan hanya bisa menggelengkan kepala, pemasangan lift dengan deadline tiga hari jadi.
"Baiklah Tuan," kata pelayan.
Keesokannya sudah banyak pekerja yang mulai berkerja, Rara yang tidak tau jadi heran kenapa bagian samping kamarnya dibongkar.
"Ada apa ini? kenapa dibongkar?" tanya Rara pada Kepala pelayan
"Karena akan dibuat lift Nyonya muda," jawab Kepala pelayan.
Ray yang baru keluar dari kamar memeluk istrinya
"Supaya kamu nggak cepek sayang naik turun tangga, kan kasian kamu dan anak kita," ucap Ray
Rara mendongakkan kepala, dia sungguh terharu pada sang suami.
Dia tidak menyangka kalau Ray memikirkan hal itu padahal bisa saja mereka pindah kamar sementara di bawah toh usia kandungan juga masih berjalan dua bulan.
"Kenapa repot-repot sih sayang," ucap Rara
"Repot apa sih, kan mereka yang mengerjakan bukan aku," sahut Ray
Rara tersenyum,
"Kamu ikut ke kantor apa di rumah saja?" tanya Ray
"Di rumah saja, jam sembilan aku ada meeting dengan Leo," jawab Rara
Mendengar jawaban sang istri membuat Ray memanas, tangannya reflek menggenggam dadanya bergemuruh.
"Bukankah di US sudah malam kenapa ada meeting?" tanya Ray
"Entahlah Leo, tadi meminta aku untuk meeting dengannya malam ini," jawab Rara
Rara yang tau kalau suaminya cemburu mencoba menenangkannya, dia mengusap dada sang suami.
"Sudah ya jangan cemburu," bujuk Rara
"Tapi masih ingin cemburu," sahut Ray
Rara akhirnya menarik suaminya masuk kamar, dia mencium bibir Ray dengan panas.
"Kamu menyogok aku," kata Ray seusai ciuman panas mereka
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu," ucap Rara dengan terkekeh.
"Tapi ini nggak ngaruh, aku masih tetap cemburu," sahut Ray
"Lantas kamu mau apa?" tanya Rara
"Jatah nanti malam ya?" Ray bernegosiasi dengan Rara
"Bukankah kemarin malam sudah," Protes Rara
"Ya sudah kalau nggak mau, aku tetap cemburu," ucap Ray
"Baiklah-baiklah," kata Rara pasrah
"Yes." Ray sungguh senang sekali
Dia kini Ray melahap bibir Rara kembali, ingin sekali main bilyard tapi mengingat waktu dia mengurungkan niatnya dan meminta sosisnya untuk tidur kembali.
************
"Bye sayang, hati-hati ya," kata Rara dengan melambaikan tangan
Ray membalas lambaian tangan sang istri dan perlahan sopir melajukan mobil.
Setelah mobil Ray tidak terlihat, Rara masuk ke dalam untuk bersiap meeting online dengan asistennya.
Rara sudah bersiap membuka laptopnya, nampak Leo sudah standby di sana.
"Halo Leo," sapa Rara
"Apa yang ingin kamu bahas?" tanya Rara
"Pertama mengenai kinerja para staf, yang kedua mengenai tawaran dari negara timur tengah. Mereka meminta kita untuk bergabung dengan Mega proyek mereka," jawab Leo
"Apa Mega proyek mereka?" tanya Rara
"Mereka ingin membuat pulau buatan yang nantinya mereka ingin membuat kota termegah di Dunia," jawab Leo
"Amazing Leo," sahut Rara
"Tapi dari pengamatan kamu, apa kedepannya mega proyek mereka menguntungkan kita?" tanya Rara
"Kalau hasil dari pengamatan saya, kelihatannya memang menguntungkan bos, negara-negara sana memang gencar melakukan pembangunan dan lihatlah hasilnya semua kota yang mereka bangun menjadi kota yang megah dan kota yang maju," jawab Leo
"Berapa dana yang harus dikucurkan?" tanya Rara
"Nanti saya akan bertanya lebih lanjut pada mereka bos, misal kalau iya kita make a deal bisakah anda datang ke US?" jawab dan Tanya Leo
"Saya usahakan Leo," jawab Rara
Ray dan Leo mengobrol panjang kali lebar mengenai mega proyek yang ditawarkan salah satu negara timur tengah, hingga tak terasa tiga jam berlalu.
__ADS_1
Ray yang kebetulan baru pulang dari meeting memutuskan untuk mampir rumah, setibanya di kamar dia melihat sang istri bercanda dengan sang asistennya.
Lagi-lagi dada Ray bergemuruh, dia terbakar api cemburu. Apalagi tawa Rara serenyah krupuk.
"Hem, enak ya bercanda ria dengan bule US," sindir Ray yang membuat Rara pamit pada Leo, langsung saja Rara menutup laptop miliknya.
Rara mendekati Ray yang merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Sayang kamu kok tumben pulang, mau makan ya?" tanya Rara
"Iya ingin makan kamu," jawab Ray dengan memejamkan matanya.
"Aku siapkan dulu makannya," sahut Rara
"Nggak usah, aku sudah makan," timpal Ray
"Lalu kenapa pulang?" tanya Rara
"Maksud kamu, aku nggak boleh pulang? supaya kamu bisa bercanda ria dengan bule itu gitu!" Jawab Ray dengan nada yang sedikit meninggi
"Kamu kok gitu sih sayang," protes Ray
"La aku harus gimana?" sahut Rara tak terima.
"Haduh Leo, kamu hebat sekali nggak rugi aku mempunyai asisten seperti kamu. Lihatlah wajah mereka, hahaha." Ray menirukan gaya Rara saat bercanda dengan Leo.
"Is fuuuuucccking Leo," imbuh Ray mengumpat Leo.
Rara hanya diam dengan menatap Ray, dia sungguh kesal sekali dengan sang suami yang lagi-lagi mempermasalahkan hubungan kerjanya dengan Leo.
"Udah gini aja, mau kamu apa?" tanya Rara
"Aku ingin kamu tau kodrat kamu sebagai seorang istri," jawab Ray
"Aku udah melakukan tanggung jawab aku sebagai seorang istri, aku sudah melayani kamu dengan sepenuh hati, menyayangi dan mencintai kamu, aku juga sudah mengandung anak kamu, lantas apa lagi yang belum aku lakukan sebagai seorang istri?" tanya Rara dengan nada tinggi.
"Cemburu kamu itu tidak beralasan, padahal kamu tau sendiri aku dan Leo hanya rekan kerja," imbuh Rara
"Apa! cemburuku tak beralasan? ngaco kamu," sahut Ray
"Memang tak beralasan, udahlah cepek ngomong sama orang kolot seperti kamu. Terserah kamu anggap aku ini seperti apa?" timpal Rara
Lagi-lagi debat terjadi, antara Ray dan Rara tidak ada yang mau mengalah sehingga membuat debat ini semakin memanas dan Ray memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Rara dengan debat yang tak berujung.
"Kita belum selesai bicara, jangan pergi dulu," teriak Rara dari balkon atas.
Ray tidak memperdulikan teriakan sang istri dia meminta Revan untuk secepatnya kembali ke kantor.
Ray yang melihat sikap Ray pun menangis, dia sungguh kesal dengan Ray yang selalu cemburuan, padahal sudah jelas kalau Leo adalah asistennya.
Rara kembali ke kamar dengan tangis yang pecah, mood ibu hamil ditambah sakit atas sikap Ray membuat Rara terus menangis hingga Rara pingsan.
__ADS_1
Kebetulan sekali kepala pelayan ingin meminta konfirmasi Rara mengenai pembangunan lift sehingga beliau mengetuk pintu kamar Rara namun tidak ada jawaban sehingga kepala pelayan langsung saja masuk nampak Rara tengah berada di tempat tidurnya.
Awalnya kepala pelayan mengira Rara tidur namun kok perasaannya tidak enak sehingga beliau memberanikan diri untuk membangunkan Rara dan yang benar saja Rara tidak bergeming sedikit pun sehingga kelapa pelayan meminta pelayan yang lain untuk membawa Rara ke rumah sakit.