Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Menjenguk Raka bersama


__ADS_3

"Lalu makanan ini untuk siapa?" tanya Rara


"Ya buat kamu lah sayang," jawab Ray


"Kamu pikir aku ini kuli yang makannya banyak, ini makan nasi sedikit saja sudah kenyang banget karena kebanyakan minum," sahut Rara.


"Ya sudah biarin saja," timpal Ray


"Kan sayang makanannya," kata Rara


"Lalu bagaimana?" tanya Ray


"Entahlah, mangkanya kalau pesan makanan jangan banyak-banyak akhirnya kan gini mubazir," jawab Raya dengan kesal.


"Astaga sayang, lagian makanan ini cuma enam juta kenapa sih harus sewot," omel Ray lalu beranjak dari tempat duduknya untuk memanggil pelayan


"Mbak makanan ini nggak tersentuh sama sekali, daripada dibuang mending bungkus dan buat mbak nya saja, kan lumayan buat sahur besok," kata Ray


"Beneran pak, ini banyak sekali." Pelayan tersebut shock karena dia harus membawa pulang banyak makanan.


"Iya, daripada dibuang dan mubazir mending buat mbaknya saja," ucap Ray.


"Makasih pak." Pelayan tersebut sangat senang, meskipun dia pelayan namun dia belum pernah makan makanan mewah di restoran tersebut.


Kemudian pelayan tersebut mengambil kotak makanan untuk membungkus makanan di meja Ray.


"Sudah ayo kita pulang," ajak Ray


"Iya," sahut Rara.


Mereka berdua pulang ke rumah Rara, Ray yang masih kesal ingin langsung pulang namun Rara melarangnya.


"Kita sholat dulu," ucap Rara


"Iya," sahut Ray


Rara dan Ray nampak terdiam, dan ini membuat Mama dan papa Rara saling pandang.


"Ada apa dengan mereka," kata mama Rara


"Entahlah, mungkin lagi bertengkar," sahut papa


Adzan sholat isya telah berkumandang, Rara meminta papanya untuk meminjami Ray sarung dan peci.


Namun setelah dia dan Ray siap untuk berangkat papa Raka tiba-tiba menelpon, dia meminta Rara untuk datang karena Raka mengamuk tak jelas, dokter sampai kewalahan menenangkan Raka.


"Mama dan papa berangkat dulu ya," pamit Mama dan papa Rara


"Iya ma, pa. Kami menyusul karena Rara masih menerima telpon," ucap Ray.


"Sayang kita pergi ke rumah Raka ya, dia mengamuk dan dokter kebingungan," kata Rara


"Kenapa tidak dikasih sianida sekalian biar wasalam," gerutu Ray


"Sayang nggak boleh gitu," sahut Rara

__ADS_1


"Bela terus," ucap Ray dengan kesal


Rara yang bingung akhirnya mau nggak mau dia mencium bibir Ray, karena hanya dengan ini Ray mau mengikuti kata-katanya.


Tak hanya bibir Ray, Rara juga menjelajah leher Ray dengan lidahnya sehingga Ray semakin melayang.


"Kamu curang sayang, kenapa menggunakan cara seperti ini untuk merayu aku," ucap Ray


"Aku nggak merayu kamu sayang, aku ingin saja," sahut Rara.


Setelah Puas, Rara kini mengajak Ray untuk pergi ke rumah Raka namun Ray tentu meminta hal lebih.


"Sayang, buruan please. Nanti aku tambah lagi hukumannya, kalau sudah selesai." bujuk Rara


"Janji ya," ucap Ray


"Janji sayang," sahut Ray.


Kini Ray dan Rara segera menuju rumah Raka, Ray sebenarnya enggan sekali mengantar tapi jika bukan karena janjinya kemarin dia tidak mungkin mau.


"Awas ya nanti jaga jarak, jangan dekat-dekat," ancam Ray


"Iya iya," ucap Rara


Beberapa waktu berlalu kini mobil Ray sudah sampai di halaman rumah Raka, Rara dan Ray segera masuk dan menuju kamar Raka.


"hafal sekali letak kamarnya," kata Ray dengan kesal.


"Dulu kan aku pernah hidup di sini sayang," sahut Rara


"Sayang, please deh jangan mulai," sahut Rara dengan kesal.


Setibanya di kamar Raka, Rara langsung masuk. Betapa kagetnya dia melihat kamar Raka yang berantakan.


"Kenapa bisa mengamuk pa?" tanya Rara


"Entahlah Ra, papa juga nggak tau," jawab papa Raka


Rara segera mendekat, namun Ray menariknya.


"Jangan dekat-dekat," ucap Ray


Rara menghela nafas, dia menarik tangan Ray balik dan mengajaknya untuk mendekat.


Rara duduk di tempat tidur Raka, dia melihat Raka yang kini ditali tangan dan kakinya.


"Kamu kenapa mengamuk? kenapa selalu buat masalah lagi sih mas, kamu nggak kasian dengan papa kamu," kata Rara dengan menatap Raka.


Pandangan Raka dan Rara saling bertemu sehingga membuat Ray kesal.


"Jaga pandangan kamu," ucap Ray


"Iya udah, kan ada kamu," sahut Rara.


"Lagi-lagi Raka menangis saat melihat Rara, matanya memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan.

__ADS_1


"Maafkan aku," kata Raka yang membuat Rara kaget.


"Pa, mas Raka bisa bicara," teriak Rara


Papa Rara segera mendekat, beliau segera memeluk anaknya.


"Kamu sembuh Raka, kamu sembuh," ucapnya.


"Kasihanilah papa kamu ini, papa sudah tua. Please jangan menjadi beban papa Raka, sembuh lah demi papa," kata Papa.


Mendengar perkataan papa membuat Rara menangis dan Ray juga ikut iba, kini dia merasa bersalah pada papa Raka karena bagiamana pun juga Ray lah yang membuat Raka gila.


Ray segera mengambil ponselnya, dia menelpon Revan untuk mencarikan Psikiater terbaik, jika perlu panggil Dokter dari luar negeri.


Rara dan papa Raka tak menyangka, kalau Ray bisa memiliki pikiran untuk mencarikan dokter terbaik.


"Terima kasih Ray, saya tak menyangka anda baik sekali," ucap papa Raka


"Supaya Raka cepat sembuh dan tidak mengganggu calon istri saya lagi," sahut Ray


Papa Ray nampak tersenyum, memang benar apa yang dikatakannya. Namun papa Raka tetap bersyukur karena Ray mau membantu Raka. Dengan banyaknya dokter yang menangani Raka tentu kesempatan Raka sembuh semakin besar, apalagi orang seperti Ray pasti tidak kaleng-kaleng dalam memilih dokter.


Rara mengajak Raka mengobrol lagi dan lagi-lagi Ray merasa cemburu.


Rara hanya bisa menghela nafas menghadapi Ray.


"Kalau lain kali kamu begini, lebih baik kamu nggak usah ikut sayang," ancam Rara


Ray kini mengontrol dirinya dan mencoba diam,


"Nanti jangan mengamuk lagi, awas saja kalau kamu masih mengamuk," ancam Rara.


Rara melepas tali yang mengikat Raka, dia tidak tega jika Raka diikat seperti ini.


"Janji ya nggak akan buat masalah lagi," ucap Rara


"Janji," sahut Raka.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Awas kalau kamu sampai mengamuk lagi, nggak hanya aku ikat tapi aku akan memukul kamu juga," ancam Rara


"Iya," ucap Raka.


Papa Raka sungguh bahagia, dia yakin kalau Raka akan sembuh, setelah Raka sembuh rencananya Papa Raka ingin membawa Raka ke luar negri, mungkin dengan suasana baru dia bisa melupakan segalanya yang membuatnya hancur dan gila seperti ini.


Setelah Raka tenang dan minum obat, Rara pamit pulang pada papa Raka, begitu pula dengan Ray.


"Kamu tadi berani mengancam aku, apa kamu lupa kalau aku yang mengijinkan kamu untuk menemui Raka," omel Ray


"Maaf sayang, la kamu terlalu posesif," sahut Rara


"Ini karena aku cinta sama kamu," timpal Ray


"Iya iya sayang, maaf," ucap Rara


Rara mencoba mendinginkan suasana yang panas, dia juga nggak tau apa sikapnya kali ini keterlaluan apa tidak, karena yang Rara ingin Raka segera sembuh dan tidak membuat papanya sedih itu saja.

__ADS_1


"Jadi sekarang tepati janji kamu,"


__ADS_2