Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Ingin segera mualaf


__ADS_3

"Wajah Ray di coret coret dengan lipstik ma," jawab Ray


Mama Ray menatap Rara, dan ini membuat Rara menunduk.


"Maafkan saya ma, dan untuk kamu sayang maaf," ucap Rara dengan menyesal.


"Maaf diterima," sahut Ray


"Tapi tunggu pembalasan aku," imbuhnya dalam hati.


"Seharusnya jangan pakai lipstik, di gudang banyak cat tembok," ucap mama dengan tertawa lalu meninggalkan anak dan calon mantunya tersebut.


Rara dan Ray menatap bingung mamanya, dan Rara cukup puas karena dia dibela calon mertuanya.


"Sayang ayo berangkat," ajak Rara


"Kamu nggak puasa kan? jadi kita sarapan dulu," titah Ray.


Ray dan Rara kini menuju ruang makan, para art sudah menyiapkan sarapan yang lumayan banyak untuk majikan mereka.


"Kamu mau makan apa?" tanya Rara


"Makan kamu," jawab Ray dengan tertawa


"Nggak usah mulai." Lirikan maut mata Rara membuat Ray terkekeh.


"Aku sarapan roti saja dengan selai kacang dan coklat, minumnya susu coklat dan pencuci mulutnya tiga anggur hijau itu," kata Ray


Rara mengambilkan makanan dan minuman yang diminta Ray. Kemudian dia mengambil sedikit nasi goreng dan juga telur.


Seusai sarapan mereka berdua pamit pada mama untuk pergi ke kantor.


"Kami pamit ma," kata Ray


"Rara juga ma," imbuh Rara


"Oh ya Ray, Rara. Kapan kalian akan menikah? terus apa Ray akan ikut keyakinan kamu atau kamu ikut keyakinan Ray?" tanya mama


"Ray ikut keyakinan saya ma," jawab Rara


"Ya sudah, lalu kapan dia mualaf? karena mama harus kembali ke US," kata Mama


"Secepatnya ma, nanti Ray akan meminta Revan untuk menyiapkan semua," sahut Ray


"Baiklah," ucap mama.


Mobil sudah melaju Rara dan Ray nampak diam, beberapa hari ini memang Ray tidak menggunakan sopirnya karena dia sendiri yang ingin jadi sopir kekasihnya.


Setibanya di kantor, Ray menuju ruangan Revan sedangkan Rara menuju ruangannya yang tak lain ruangan Ray juga.


"Revan segera urus jadwal mualaf aku. Aku ingin segera mualaf," titah Ray


"Dah yakin?" tanya Revan

__ADS_1


"Yakin lah," jawab Ray


"Alhamdulilah bertambah lagi saudara muslim aku," sahut Revan


"Ingat jangan hanya Islam KTP, sebagai muslim anda harus sholat, puasa dan lain-lain syukur-syukur kalau anda bisa pergi haji kan uang anda banyak." Revan berlagak menceramahi Ray.


Mendengar ceramah dari Revan membuat Ray mengerutkan alisnya.


"Tunggu," kata Ray


"Kamu mengingatkan aku kalau tidak boleh Islam di KTP saja, dan kini pertanyaannya apa kamu juga melakukan rukun-rukun Islam? aku tidak pernah melihat kamu sholat, puasa juga kadang kamu bolong-bolong, terus kamu juga mampu untuk hanya sekedar pergi ke Arab," ungkap Ray yang membuat Revan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehe, itu karena saya sibuk pak," sahut Revan dengan terkekeh.


"Alasan, bukan sibuk melainkan memang kamu malas. Tapi ini tidak terjadi pada kamu saja, di luar sana memang banyak yang tidak menjalankan rukun Islam padahal mereka mampu," kata Ray.


"Ya memang begitulah pak fenomenanya," timpal Revan


"Ya sama seperti hal nya dengan anda yang seorang Kristen, bukankan anda juga tidak pernah ke gereja?" tanya Revan yang kini gantian membuat Ray terkekeh.


"Kalau begitu kita sama," jawab Ray.


Karena sudah tidak ada yang dibahas Ray kembali ke ruangannya.


***********


Dua hari telah berlalu, Revan sudah mencarikan ustad yang akan memualafkan Ray, dan semua syarat administrasi dan lain-lain juga sudah disiapkan.


"Sayang nanti kamu pulang sendiri ya, karena aku harus menemui ustad dengan Revan," kata Ray


"Iya," sahut Ray.


Saat sore tiba, Rara bersiap untuk pulang begitu pula dengan Ray dan Revan.


Memang Ray sengaja untuk mengajak ustad buka bersama dengannya sebelum mereka membahas terkait mualaf.


Sebelum pulang ke rumahnya, Rara mampir ke restoran terlebih dahulu untuk membelikan makanan untuk mama dan papanya karena kebetulan tadi mama bilang kalau beliau tidak enak badan.


Saat di restoran Rara tak sengaja bertemu dengan Papa Raka yang juga membeli makanan di sana.


"Papa," panggil Rara


"Rara," sahut papa


"Papa kenapa beli makanan sendiri kenapa tidak menyuruh art atau mas Raka?" tanya Rara


Mendengar pertanyaan Rara membuat papa Raka mendung, nampak banyak beban di wajah tuanya.


"Ada apa pa?" tanya Rara


"Tidak ada apa-apa," jawab Papa Raka


"Syukurlah kalau papa baik, Rara lega," sahut Rara meski dalam hati dia tidak percaya kalau papa Raka dalam keadaan baik.

__ADS_1


"Gimana kabar mas Raka dan Sheryl? pasti baik juga kan pa?" tanya Rara


Papa nampak sedih matanya juga basah dan ini semakin membuat Rara yakin kalau Papa Raka tidak baik-baik saja.


"Papa kenapa? katanya baik-baik saja?" tanya Rara


"Bisakah kamu ikut papa?" tanya Papa Raka


"Tapi ini kan mau berbuka pa," tolak Rara


"Kamu bisa berbuka puasa di rumah papa." Papa Raka mencoba membujuk Rara untuk ikut dengannya.


Akhirnya Rara memesan ojek online untuk mengantar makanan untuk kedua orang tuanya, dan kini dia ikut papa Raka pulang.


Sepanjang perjalan Rara bertanya-tanya, ada apa dengan mantan papa mertuanya? kenapa dia ingin Rara ikut bersamanya? apa yang terjadi? beberapa pertanyaan muncul di kepala Rara.


Dan tak lama kemudian, sampailah mereka di rumah papa Raka.


Sebelum Rara diajak menemui Raka, papa mengajak Rara untuk berbuka terlebih dahulu.


"Mas Raka dan Sheryl tidak tinggal di sini?" tanya Rara


"Raka tinggal di sini sedangkan Sheryl tinggal di tempat yang layak untuknya," jawab Papa yang semakin membuat Rara bingung.


Seusai makan, Papa mengajak Rara untuk naik ke kamar Raka, saat pintu dibuka nampak Rara duduk dengan diam di sofa.


"La itu mas Raka, dia nggak buka puasa?" tanya Rara


"Dia sakit Ra," jawab Papa dengan menangis.


Sesak rasanya mendengar mantan papa mertuanya menangis, apalagi papa Raka sampai terisak dalam tangisnya.


"Papa kenapa?" tanya Rara yang semakin bingung.


Papa hanya diam dengan menunjuk Raka, Rara yang bingung mendatangi Raka dan mengomel.


"Lihatlah papa kamu menangis, apa yang telah kamu lakukan, tidak cukup kah kamu menyakiti aku dan sekarang menyakiti papa kamu?" omel Rara dengan menepuk bahu Raka


Tentu Raka hanya terdiam, dan ini membuat Rara semakin bingung.


"Ada apa sebenarnya pa?" tanya Rara yang kini mendekati papa Raka lagi.


"Raka gila Ra," jawab papa yang membuat Rara membatu.


"Gila?" satu kata keluar dari Mulut Rara, entah kini dia harus senang atau sedih saat mendengar Raka gila, orang yang telah menyakitinya begitu dalam kini telah gila, namun entah mengapa justru respon sedih yang dia tunjukkan?


"Iya Ra, Raka gila semenjak Sheryl meninggalkannya dia jadi depresi dan gila, lihatlah dia hanya diam saja seperti patung," kata Papa


"Sudah mencari dokter?" tanya Rara


"Sudah, namun hasilnya nihil Raka masih tetap sama.


"Coba bawa Sherly kemari pa?" ide Rara

__ADS_1


"Papa sudah mencari Sheryl dan ternyata Sheryl juga gila.


"Astaga, kenapa mereka berdua sama-sama gila?"


__ADS_2