
Rara dan Ray masih dalam mode merajuk, entah apa yang terjadi dengan mereka, umumnya orang akan merasa bahagia akan mendapatkan momongan tapi ini malah saling bertengkar nggak jelas.
Ray yang lelah didiamkan oleh Rara mencoba bertanya pada sang istri.
"Sayang," panggil Ray
"Hem," sahut Rara
"Tidurnya jangan membelakangi aku dong," protes Ray karena Rara telah membelakanginya.
"Sudah lah jangan cerewet, tinggal tutup mata komplain saja. Aku masih merajuk sama kamu," ucap Rara yang membuat Ray kesal namun sebisa mungkin Ray menahannya.
"Iya-iya aku minta maaf, janji akan selalu menuruti keinginan kamu," bujuk Ray
"Tetep nggak mau memberi maaf," sahut Rara
"Terus kalau aku pengen gimana?" tanya Ray
"Bukan urusan aku, lagipula bisa tu main ma Tante sabun di kamar mandi," jawab Rara
"Tega sekali sih sayang," ucap Ray
"Biarin," sahut Rara.
Ray hanya bisa diam, menahan keinginannya yang tidak tersalurkan. Dia sungguh frustasi dengan perubahan sikap sang istri.
Keesokannya di kantor Ray melamun sambil memainkan pulpen miliknya, dia memikirkan Rara yang semakin menjengkelkan.
Apa memang semua orang hamil bersikap begitu? Ray sendiri juga tidak tau jawabannya.
"Bos," panggil Revan
Ray segera keluar dari lamunannya dan menatap Revan yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Ray
"Ada kendala di kantor cabang kita," jawab Revan
"Terus?" tanya Ray
"Saya melaporkan pak, langkah apa yang harus kita buat supaya ruginya bisa ditekan," jawab Revan
"Kamu pikir saja sendiri, aku pusing memikirkan Rara," sahut Ray dengan enteng.
Revan yang kesal ingin rasanya menghajar teman yang berstatus bos nya tersebut namun itu semua hanya tinggal keinginan Revan tentu tidak berani mengajar bosnya.
"Baiklah biar kali ini aku yang jadi bos nya," sahut Revan dengan kesal.
Revan membalikkan badannya namun baru sampai di pintu Ray memanggilnya.
"Revan tunggu," cegah Ray
"Ada apa?" tanya Revan
__ADS_1
"Nggak ikhlas kalau aku kini yang jadi bosnya," imbuh Revan dengan tatapan yang tertuju pada Ray
"Ada yang ingin aku tanyakan," kata Ray
"Ada apa?" tanya Revan lalu duduk dihadapan Ray
Ray sedikit memajukan kursi kebesarannya, dia juga mencondongkan badannya ke depan.
"Raya kan hamil, jadi aku minta tipsnya," kata Ray
Revan tersenyum mendengar kata Ray, meskipun ahli dalam bisnis tapi Ray tidak ahli dalam memahami wanita apalagi wanita yang tengah hamil.
Revan menghela nafas,
"Begini wanita hamil itu mengalami perubahan hormon yang menyebabkan dia gamang marah dan tersinggung jadi kita kaum hawa harus mulai mengupgrade kesabaran kita sedini mungkin karena kalau nggak kita tidak akan mendapatkan jatah kita selama sembilan bulan," jelas Revan yang sedikit melebihkan.
Ray membolakan matanya, sehari tidak bercinta sudah membuat badannya pegal dan linu apalagi selama sembilan bulan, bisa-bisa dia loyo seloyo-loyonya.
"Apa memang seperti itu," sahut Ray dengan tatapan mengintimidasi
"Iya betul, buat apa saya berbohong. Karena saat wanita hamil keinginan bercintanya itu berkurang," timpal Revan.
"Intinya pak, kalau anda ingin mendapatkan jatah, anda harus menjalankan moto anda sendiri," ucap Revan yang membuat Ray gagal paham
"Maksudnya?" tanya Ray
"Semua benar untuk istri hamil, dia salah dia tetap benar jadi suami yang salah, seperti moto anda kan? semua benar untuk bos, bos salah dia tatap benar jadi asisten yang salah," jawab Revan
"Kalau Raya biasanya minta rujak setiap saya pulang kantor," jawab Revan
"Ya sudah nanti kamu yang beli," titah Ray
"Nggak boleh, harus dari tangan suami." Revan mencoba membodohi Ray.
"Memangnya sama rasanya," protes Ray
"Bagi kita sama tapi bagi istri kita beda," sahut Revan
Ray tidak memiliki pilihan selain melakukan saran Revan, sepulang dari kantor dia meminta supirnya untuk berhenti di tukang rujak, kali ini dia sendiri yang membelinya.
Rujak yang Ray beli adalah rujak terenak di kotanya sehingga banyak yang antri untuk mendapatkannya.
"Ya Allah Gusti ganteng tenan to bule Iki," kata Ibu-ibu yang berlogat Jawa
Ray hanya tersenyum tipis, dia agak risih dengan ibu-ibu yang menggodanya.
"Mas bule tolong dong, elus elus perut ibu supaya anak ibu ganteng seperti kamu," pinta salah satu ibu-ibu di sana.
"Maaf, kalau bapaknya nggak bule ya jangan berharap anaknya seperti saya," sahut Ray
"Jadi saya nggak mau ngelus perut ibu," imbuhnya
Ibu tersebut agak kesal dengan Ray, sang suami yang tau kalau istrinya kesal mencoba memarahi Ray namun sang supir Ray segera turun dan melindungi tuannya.
__ADS_1
"Mohon maaf bos saya hanya ingin membeli rujak untuk sang istri jadi saya mohon jangan diganggu," kata Supir.
"Dia dulu yang mulai," sahutnya tak terima
"Ya sudah kalau nggak terima mari kita selesaikan di kantor polisi," timpal pak sopir
Bapak bapak tersebut nyalinya menciut, sopir juga meminta abang rujaknya untuk memberikan rujak yang sudah jadi pada Ray.
Awalnya enggan karena kasian yang antri namun sopir membiarkan uang lebih sehingga Abang rujaknya memberikan rujaknya pada Ray.
"Akhirnya ayo, pulang," ajak Ray saat dia sudah mendapatkan rujaknya.
"Lain kali biar saja yang membelikan tuan," kata sopir
"Ini spesial untuk Rara, jadi biar aku sendiri yang membelinya," sahut Ray
*************
"Sayang ini rujak untuk kamu," kata Ray sambil menunjukkan rujak yang dia bawa.
Rara awalnya nampak biasa tapi lama-lama dia tergoda juga dengan tampilan rujak yang Ray bawa.
"Aku mau," kata Rara
"Tapi kita baikan dulu ya," pinta Ray
"Baiklah, tapi jangan diulangi ya," sahut Rara
"Ok my queen," timpal Ray
"Horeeee nanti malam dapat jatah," batinnya dengan suka cita.
Rara membuka bungkusan rujak yang Ray bawa, dalam sekejap rujak ludes tak bersisa dan ini membuat Rara bersendawa dengan keras.
"Ups," katanya dengan menutup mulut
Ray hanya tersenyum melihat tingkah sang istri, memang orang hamil itu menggemaskan sekali.
Malam hari pun tiba, Ray bersiap untuk bertempur dengan sang istri namun lagi-lagi Rara menolak Ray.
Ingin sekali marah namun dia segera ingat apa kata Revan.
"Sayang, kamu tau kan kalau seorang wanita yang telah bersuami itu surganya itu di suami bukan di ibu lagi." Ray mulai merayu sang istri
"Iya tau," sahut Rara
"Lantas kenapa kamu menolak keinginan suami kamu? apa kamu tidak paham dengan ajaran agama?" tanya Ray
Rara menatap sang suami yang tengah menceramahi dirinya.
Rara enggan untuk berhubungan dengan Ray namun ceramah Ray membuat Rara mau nggak mau melayani suaminya.
"Kamu itu sayang, sungguh pandai sekali bermodus,"
__ADS_1