
Ray merasa tidak nyaman saat Rara dipeluk Ken Steven, meskipun Ken Steven adalah paman Rara namun itu hanya status karena kenyataan yang ada Ken Steven bukanlah paman Rara.
"Paman, sudah dong," kata Ray yang membuat Ken Steven melepas pelukannya
Dia tertawa dengan perkataan Ray.
"Suami kamu cemburu," bisik Ken Steven yang membuat Rara tersenyum ketir.
"Iya iya Ray, paman kan sudah menganggap Rara itu sebagai anak paman sendiri jadi jangan cemburu," ucap Ken Steven
Ray tertawa, entah mengapa dia selalu merasa iri pada siapa pun yang mendekati istrinya meski itu keluarga dekat dari sang istri.
"Dia itu posesif sekali paman, saat Rara makan udang masak iya dia juga cemburu sama udangnya," sahut Rara
Ken Steven menggelengkan kepala, tak disangka Raymond posesif sekali.
Ken Steven menjelaskan maksud dan tujuannya, dia menjelaskan hal penting pada Rara terkait perusahaan.
Sebagai Ratu, Rara tentu harus mengetahui seluk beluk perusahaan yang dia pimpin, oleh sebab itu Ken Steven meminta Leo untuk mengantar Rara berkeliling untuk itu lihat perusahaan.
"Leo lagi Leo lagi," batin Ray saat mendengar Ken Steven meminta Leo mengantar Rara berkeliling
"Baiklah paman," sahut Rara
"Biar Ray saja paman yang mengantar Rara berkeliling perusahaan." Ray menawarkan dirinya untuk menemani istrinya berkeliling.
"Bisa tapi kan kamu tidak mengerti seluk beluk perusahaan ini Ray," kata Ken Steven
"Ya sudah gini aja, nanti kalian berkeliling ditemani Leo." Ken Steven memberikan saran
"Ya gitu aja paman, daripada ada yang cemburu." Rara menyetujui saran pamannya.
Ken Steven yang harus bersiap untuk rapat memutuskan untuk pamit.
"Ya sudah Ra, tiga puluh menit lagi rapat dimulai jadi paman harus bersiap," pamit Ken Steven
"Baiklah paman, Rara juga mau bersiap," sahut Rara
Selepas kepergian Ken Steven, Rara menyiapkan semua. Dia membuka berkas yang diberikan Ken Steven.
"Serius sekali istri aku," goda Ray
"Iya sayang, kamu kan tau kerjaan aku saat ini," ucap Ray
"Iya, banyak sekali. Sekarang jadi seorang istri, seorang Presdir, seorang sekertaris dan mungkin sebentar lagi jadi seorang ibu," timpal Ray yang membuat Rara menatapnya.
Dia baru sadar, kenapa dia belum merasakan tanda-tanda kehamilan.
"Sayang aku kok belum hamil ya," kata Rara
"Kan kita nikah baru jalan dua bulan sayang, mungkin belum jadi," sahut Ray
__ADS_1
"Mungkin sayang," timpal Rara
Rara kembali lagi ke berkasnya, Ray yang melihat istrinya sangat serius tidak berani mengganggu, dia memilih memainkan ponselnya dan mengecek apa yang bisa dicek.
"Sayang aku pergi meeting dulu ya," pamit Rara
"Kan masih ada waktu lima belas menit kenapa buru-buru sekali," protes Ray
"Biar nggak telat sayang," sahut Rara
"Rajin sekali, memangnya kalau telat ada yang ingin menghukum Presdir," sindir Ray yang membuat Rara menghela nafas.
Rara mendekati suaminya yang duduk di sofa, dia mengambil ponsel suaminya dan meletakkannya di meja.
Rara duduk di samping suaminya, tanpa aba-aba Rara melahap bibir Ray.
Pautan kini terjadi, saking nafsongnya suara decakan pun terdengar sangat keras.
"Ini hukuman aku sayang, aku sudah membayarnya," kata Rara saat dia melepas pautannya
"Aku minta lebih," sahut Ray
"Apa lagi," protes Rara
Ray menunjuk bagian dada sang istri, dan ini cukup membuat Rara menghela nafas, namun mau nggak mau dia melakukannya.
Dia membuka kancing bajunya dan mengeluarkan isinya.
"Udah cepet jangan dilihat saja." Rara menenggelamkan kelapa Ray ke dadanya.
Dan Ray langsung saja melahapnya seperti bayi yang sedang menyusu.
"Udah dong sayang," pinta Rara
Ray segera melepas apa yang dimainkannya, dan Rara segera memasukkan kembali mainan Ray ke tempatnya.
"Aku pamit ya sayang," pamit Rara lalu mengecup bibir suaminya sekilas.
Ray kini tersiksa sendiri karena aksinya Ray jadi berhasrat
"Ah Shiiit," umpatnya
Kini bagian bawahnya tengah berdiri tegak lurus, namun sarangnya malah meeting.
"Andaikan sarangnya bisa dibongkar pasang," gumam Ray dengan terkekeh.
************
"Paman, maaf Rara telat," ucap Rara
"Nggak papa," sahut Rara
__ADS_1
Memang benar kata Ray, meskipun Rara telat namun tidak akan ada yang berani menghukumnya, pasti semua akan bilang tidak apa-apa meskipun apa-apa sekali.
Rara segera membuka meeting, pertama meeting sudah telat sungguh tidak baik sekali.
Amerika berbeda dengan negara +62, di sana telat waktu sekali, biasanya para peserta meeting datang lebih awal daripada telat.
Sepanjang Rara memandang, nampak para stafnya yang masih muda, bule-bule tampan.
Rara memberikan sambutannya, kemudian disusul Leo yang memaparkan produk RA Grup yang kini tengah naik daun.
Pendapatan RA Grup sungguh luar biasa, dan Rara dibuat melongo.
"Pendapatan sebulan, tidak akan habis dimakan tujuh turunan," batin Rara.
Setelah Leo, Ken Steven menambahkan. Dan tepuk tangan riuh saat Ken steven mengemukakan idenya terkait produk baru perusahaan.
"Pantas perusahan ini berkembang dan menduduki peringkat pertama, la Presdirnya jenius gini, aku nggak ada apa-apanya," batin Rara yang minder.
"Apa aku harus sekolah lagi ya, Sekolah S2 jurusan bisnis." Rara melamun, dia malah bermonolog dengan dirinya sendiri.
Dua jam berlalu, kini meeting sudah selesai.
"Paman sungguh hebat, pantas perusahaan ini maju pesat," puji Rara
"Kamu terlalu memuji Ra," sahut Ken Steven
"Memang anda sangat hebat pak," puji Leo
"Jangan mau kalah Madam Rara," imbuh Leo
"Iya kamu benar Leo," sahut Rara
Ken Steven mendekati Rara dan duduk di sampingnya.
"Perusahan ini adalah peninggalan papa kamu Ra, penyelamat paman. Pesan paman jadilah Presdir yang hebat, yang bisa membawa perusahaan ini di puncak kejayaan. Jangan sia siakan apa yang paman bangun, jangan hancurkan cita-cita papa dan kakek kamu," pesan Ken Steven
Mendengar pesan Ken Steven membuat Rara terdiam, memang benar apa yang dikatakan Ken Steven, tentu dia tidak ingin menghancurkan cita-cita papanya terdahulu.
Namun ada yang mengganjal di pikirannya yaitu Ray, suaminya selalu cemburu padanya. Belum apa-apa Ray sudah posesif.
Melihat Rara terdiam membuat Ken Steven paham akan posisi keponakannya.
"Sudah jangan dipikirkan ada Leo dan paman untuk saat ini, sambil berjalannya waktu kamu bisa belajar pada Leo maupun belajar pada suami kamu," kata Ken Steven
"Tapi ingat kalau paman ini sudah tua, jadi tidak mungkin bisa selalu di belakang kamu," Imbuh Ken Steven
"Iya paman," ucap Rara
"Kamu yang lebih tau apa yang harus kamu kerjakan Ra, bagilah waktu dengan bijak supaya tidak ada masalah di kemudian hari mengingat suami kamu yang posesif," timpal Ken Steven
Rara menatap pamannya sambil mengangguk, dan Ini membuat Ken Steven tersenyum lalu mengusap rambut Rara.
__ADS_1