Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Kenangan Rara


__ADS_3

Hari yang ditunggu pun tiba, semua telah bersiap untuk datang ke gedung RA Grup, Rara nampak gugup saat dia duduk di samping Ken Steven.


"Paman aku gugup sekali," bisik Rara


Ken hanya tersenyum memang Rara nampak gugup, namun itu wajar.


Ray yang juga berada di ruangan itu mensupport Rara dengan bahasa tubuhnya.


"Jangan gugup, ada paman di sini," hibur Ken Steven


Ken Steven memberi sambutan pada semua yang hadir dalam acara pelantikan Presdir baru Ra Grup, dia sebelumnya memperkenalkan Aurora kepada semua.


"Perkenalkan dia adalah Presdir baru kita, Aurora Rayan Richard dan sesuai nama perusahaan kita yaitu RA Grup yang merupakan singkatan dari Richard Aurora Grup.


Richard adalah nama keluarga dari Rayan papa Rara.


Kini semua telah tau singkatan RA Grup, yang dimana mereka selama ini belum tau sama sekali apa singkatan dari RA.


Seusai memberi sambutan kini gantian Rara yang memberi sambutan, meski nampak gugup dia mencoba menguasai rasa gugupnya dan alhasil dia bisa melumpuhkan rasa gugup yang sedari tadi menggerogoti dirinya.


Ray dari tempatnya memberikan supportnya pada sang istri.


Melihat Rara memberi sambutan, Ken Steven teringat akan Rena Richard cara berbicaranya sangat mirip.


"Lihatlah Rena, dia sangat mirip denganmu," batin Ken Steven.


Kini Rara telah resmi menjadi Presdir Ray Grup, menjadi Presdir tentu tidak mudah, apalagi status Rara yang kini adalah seorang istri oleh sebab itu Ken Steven mempekerjakan seorang untuk membantu Rara.


Seorang asisten yang memiliki skill yang lumayan dalam dunia bisnis, seorang lulusan terbaik universitas terkenal di Amerika membuat Ken Steven merangkul pemuda ini untuk membantu Rara dalam memikul tanggung jawabnya sebagai Presdir.


"Perkenalkan Ra, ini Leo asisten yang akan membantu kamu dalam memimpin perusahaan ini. Kamu bisa mengawasi RA Grup dari Indonesia, sedangkan dia dan paman akan menjalankan dari sini." Ken Steven memperkenalkan Leo pada Rara


Leo menjabat tangan Rara, dia juga tersenyum manis pada Rara.


"Saya akan berusaha supaya bisa diandalkan," kata Leo.


"Terima kasih Leo." Rara membalas senyuman manis Leo


"Kalau begitu saya pamit dulu." Leo pamit dengan membungkukkan diri.


Melihat senyum Leo pada Rara membuat Ray memanas bagaimana tidak, Leo seumuran dengan dirinya apalagi wajah dan tubuhnya juga sebelas dua belas dengannya.


"Paman, apa tidak ada orang lain yang seumuran dengan paman yang bisa membantu istri saya?" tanya Ray

__ADS_1


"Maaf Ray, kalau seumuran paman akan cepat pensiun," jawab Ken Steven dengan tersenyum dia cukup tau kalau Ray tengah cemburu.


"Tapi dia bisa...." Belum sempat melanjutkan kata-katanya Rara sudah menginjak kakinya sehingga Ray menatap istrinya dengan tatapan yang tidak biasa.


"Bisa apa Ray?" tanya Ken Steven


"Bisa membantu Rara paman." Rara mewakili Ray menjawab pertanyaan Ken Steven


"Jangan diragukan Ray, dia sangat berpengalaman sekali dalam bisnis, kamu bisa melihat data dirinya dan perolehannya selama ini," jelas Ken Steven.


Awalnya Ken Steven telah merundingkan semua dengan Ray, dia meminta Ray untuk ikut andil dalam memegang perusahaan Rara namun Ray yang harus mengurusi perusahaannya tentu tidak bisa jika harus menetap di Amerika.


Begitu pula dengan Rara yang kini telah menjadi istri Ray tentu tidak bisa menetap di Amerika, bisanya mereka berdua setiap sebulan sekali datang ke Amerika untuk mengecek perusahaan.


Ken Steven cukup paham akan hal itu, oleh sebab itu dia juga akan tetap ikut andil dalam mengawasi perusahaan yang selama ini dibesarkannya.


Selepas pulang dari gedung RA Grup, Ken Steven mengajak Rara untuk mengunjungi rumah mendiang orang tuanya dulu, dimana Rara selama kurang lebih setahun tumbuh di sana.


"Ini rumah siapa paman?" Rara bertanya saat mobilnya memasuki halaman rumah mendiang orang tua Rara.


"Ini adalah rumah orang tua kamu dulu," jawab Ken Steven


Rara nampak terkejut, dia memandangi setiap sudut rumah mendiang orang tuanya.


"Ini orang tua aku paman?" tanya Rara


"Iya Ra, mereka adalah orang tua kamu," jawab Ken Steven.


Rara mengambil sebuah pigura yang terpajang di atas meja, matanya membasah dan air matanya mulai menetes.


Dalam foto itu orang tuanya memangku bayi perempuan yang tak lain adalah dirinya.


"Ini pasti aku kan paman?" tanya Rara


"Iya, itu kamu. Kamu lucu dan cantik sekali," jawab Ken Steven


Ray yang tau istrinya tengah bersedih pun memeluknya, "Sudah jangan menangis." Ray menghibur istrinya yang terlihat terisak.


"Lihatlah sayang, mama dan papa aku mereka cantik dan tampan," katanya dalam isak tangis.


Ray memeluk istrinya dengan erat, dia menghapus air mata yang terus jatuh.


"Iya mereka cantik dan tampan sehingga melahirkan anak yang perfect seperti kamu." Ray menghibur Rara

__ADS_1


Ken Steven mengajak Rara untuk masuk ke dalam kamar mendiang kamar orang tua Rara, di sana nampak box bayi yang terbuat dari kayu, itu adalah box bayi milik Rara dulu, Ken Steven selalu merawatnya. Meski sudah puluhan tahun keadaannya tetap sama.


"Ini box kamu dulu, di sinilah Mama kamu menidurkan kamu Ra," kata Ken Steven


Lagi-lagi Rara menangis, nampak bantal kecil di sana dan beberapa mainan yang menggantung di atas box bayi miliknya.


Mainan itu terdiri dari beberapa huruf jika digabungkan menjadi sebuah nama yaitu Aurora.


Puas dengan box bayinya dia melihat foto di atas meja nampak mamanya saling rangkul dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Raina mama Ray.


"Keliahatannya mama dan mama kamu dekat sekali sayang," ucap Rara


"Benar sekali, di rumah mama banyak koleksi fotonya bersama Tante Rena mama kamu," sahut Ray


Di sampingnya nampak anak kecil lucu tampan bersebelahan dengan foto bayi Rara.


"Anak ini kamu kan sayang?" tanya Rara


"Kalau dilihat dari gantengnya sih iya," jawab Ray dengan terkekeh.


"Foto itu dikirimkan oleh mama kamu Ray," sahut Ken Steven.


"Kita telah berjodoh dari kecil ya sayang, aku nggak menyangka," kata Ray dengan mengambil pigura fotonya.


Ray tersenyum melihat foto waktu kecilnya dulu,


"Dari kecil aku sudah tampan," ucapnya.


"Iya beruntungnya aku menjadi tulang rusuk kamu," sahut Rara


"Aku juga beruntung memiliki istri cantik seperti kamu sayang," timpal Ray


Ray dan Rara terbawa suasana, mereka kini saling peluk. Puas berpelukan Ray memegangi dagu istrinya saat hendak mencium istinya Ken Steven berdehem.


"Hem Hem, ciumnya nanti dulu," kata Ken Steven.


Sontak Rara mendorong tubuh Ray,


"Malu pada paman sayang," ucapnya dengan tersenyum malu


Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan berucap


"Maaf paman, lupa kalau ada paman,"

__ADS_1


__ADS_2