Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Naik-naik


__ADS_3

"Jadi sekarang tepati janji kamu." Ray mengingatkan akan janji Rara sebelum mereka berangkat.


"Sayang tapi besok kita kan puasa." Rara ingin kabur dari janjinya, kali ini dia takut kalau khilaf mengingat


Ray tadi sungguh cemburu.


"Memangnya kenapa kalau besok puasa, kan puasanya besok tidak sekarang," sahut Ray


"Ya kan takute nanti kita khilaf sayang," timpal Rara


"Nggak, lagipula seminggu lagi kita sudah menikah," kata Ray yang membuat Rara kaget.


Bahkan dia belum ada persiapan sama sekali.


"Tapi aku belum bilang sama papa dan mama," protes Rara


"Nanti setelah ini kita bilang, sekalian aku minta berkas-berkas kamu seperti akte, KTP dan lain-lain. Besok biar Revan daftarkan ke KUA," kata Ray


"Tapi...." Rara menggantung kata-katanya


"Tapi apa? jangan-jangan kamu nggak mau ya menikah sama aku," terka Ray.


"Bukan begitu tapi kan kita belum beli baju dan lainnya sayang," sahut Rara


"Aku sudah menyuruh Revan untuk mencari desainer kondang, nanti kita tinggal atur waktu untuk bertemu dengan desainernya. Dan untuk prewed kita lakukan di US sekalian kita bulan madu," jelas Ray


"Masuk kan ide aku, sementara kita ijab Qabul dulu, yang penting sah," imbuh Ray


Benar juga apa yang dikatakan Ray, daripada mereka selalu berbuat dosa mending segera menikah walaupun hanya ijab dan Qabul saja. Nanti resepsinya menyusul.


Karena Ray memiliki hasrat yang besar untuk melakukan hal itu, sebelum khilaf mending mereka menikah.


"Baiklah setelah ini kita bicara dengan mama dan papa, nanti aku juga akan menyiapkan berkas-berkasnya," sahut Rara yang membuat Ray bahagia.


"Setelah kita menikah, kamu minum vitamin yang banyak ya, biar nggak lelah," ucap Ray yang membuat Rara membolakan matanya.


Dia sadar betul kalau pasti Ray akan mengajak bermain di tempat tidur sepanjang malam tanpa henti.


"Baiklah sayang, aku akan minum penambah stamina yang banyak biar nggak lelah," timpal Rara yang membuat Ray tersenyum puas.


"Good." Ray sangat senang, dia sungguh tidak sabar untuk segera menikah, dia juga akan bilang pada mama dan papanya supaya menunda dulu keberangkatannya ke US, karena dia akan menikah.


Mama dan papa Rara menunggu anaknya di depan teras pasalnya Ray dan Rara tadi tidak sholat dan pergi begitu saja, mereka cemas terjadi apa-apa.


Saat Ray dan Rara datang papa dan mama Rara segera menginterogasi anaknya


"Kalian dari mana?" tanya mama dan papa

__ADS_1


"Kami dari rumah Raka ma," jawab Rara


"Rara ada misi penting om dari papa Raka," sahut Ray


Rara yang kesal menginjak kaki Ray sehingga Ray memekik kesakitan.


"Kok diinjak sih," protesnya


"Nggak sengaja," sahut Rara


"Kamu ini gimana sih Ra, kenapa diinjak kakinya Ray?" tanya mama


"Lagian ma, ngomongnya ngawur," jawab Rara.


Tak ingin berdebat, Rara duduk lalu menjelaskan semua pada mama dan papanya.


"Begitulah ma, pa. Raka telah gila karena ditinggal Sheryl calon istrinya dan ternyata kini Sheryl juga gila dengan posisi hamil. Dia juga ditinggal kekasihnya begitu saja," jelas Rara


"Kasian sekali," timpal mama


"ngapain kasian, itu balasan yang setimpal untuk Raka, apa kamu tidak ingat tipu dayanya dulu," sahut papa


"Nah betul papa mertua, itu balasan untuknya." Ray setuju dengan papa mertuanya.


"Kalau Rara pribadi itu kasian ma papa Raka, dia sangat sedih," ucap Rara.


"Jadi kamu membantu Raka sampai sembuh?" tanya mama


Ray yang kesal ingin mengubah topik pembicaraan mereka.


"Sudah, sudah kita ganti topik. Oh ya pa ma, kami akan menikah paling lama seminggu lagi. Nikahnya sederhana saja, nanti baru resepsinya kamu buat mewah dan megah." kata Ray


"Kenapa buru-buru sekali?" tanya mama


"Kami takut khilaf ma, apalagi Ray bawaannya pengen khilaf melulu," jawab Rara


Mama dan papa tertawa, namun apa yang dipikirkan Ray ada benarnya, mending nikah dulu yang penting sah, kalau resepsinya pikir nanti.


"Baiklah Ray, mama dan papa setuju saja, dan bagaimana dengan orang tua kamu?" tanya papa Rara


"Nanti Ray akan segera bilang pa, semoga mereka setuju," jawab Ray.


Ray yang masih ingat akan janji Rara tadi mengajak Rara untuk menginap di apartemennya, dan mau nggak mau, Rara mengikuti kemauan Ray.


"Oh ya ma, pa Rara menginap dia apartemen ya, karena berkas Rara ada di sana, besok pagi sekali Rara juga harus sampai kantor," alasan Rara


"Oo begitu, ya sudah, hati-hati ya," pesan mama

__ADS_1


"Ingat Ray, belum halal jangan melakukan hal yang membuat khilaf." Pesan papa pada Ray


"Nggak kok pa, paling cium saja," sahut Ray dengan terkekeh.


Karena larut Rara masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil berkas yang dibutuhkan.


"Kami pamit ma,pa," pamit Rara dan Ray.


"Hati-hati," pesan mama dan papa.


************


Ray yang tidak ingin lama-lama segera mengangkat tubuh Rara ala bridal, setalah di kamar Ray meletakkan tubuh calon istrinya di tempat tidur.


"Tunggu, aku mau ke kamar mandi dulu." Rara mencoba mengulur waktu.


"Nggak boleh, kalau mau pipis, pipis saja di sini. Kamu selalu membodohi aku," kata Ray.


Ray membuka satu persatu kancing jasnya lalu dia melempar jas nya sembarang.


Kini dia mengendorkan dasi dan membuangnya juga, setelah itu dia membuka satu persatu kancing bajunya.


Rara yang melihat roti sobek milik Ray pun menelan saliva dan ini cukup membuat Ray tersenyum.


"Baru melihat ini saja, kamu sudah menelan saliva, bagaimana kalau melihat lainnya," ucap Ray


Seusai melepas kemeja miliknya kini dia melepas kancing baju Rara.


Tangan Ray kini menyusup ke belakang untuk melepas pengait penutup gunung kembar kekasihnya.


Pemandangan indah kini berada tepat di depan mata, Ray tidak mau menyia-nyiakan waktu, dia kini ingin main main di puncak gunung.


Seperti lagu anak-anak jaman dulu, naik-naik ke puncak gunung, nikmat-nikmat sekali.


Sang pemilik gunung hanya bisa menikmati setiap sentuhan nikmat pendakinya.


Matanya hanya bisa menutup dan membuka, tangannya terus saja meremas rambut pendakinya serta giginya menggigit bawah bibirnya.


Kini yang terdengar hanya suara-suara gaib, yang mampu membuat siapa saja yang mendengarnya pasti merinding bukan merinding takut namun merinding karena tidak bisa menahan hasrat.


"Nikmat?" tanya Ray


"Iya, pake banget," jawab Rara


"Ingin khilaf apa nggak?" tanya Ray lagi


"Nggak, khilaf nya saat sudah halal saja," jawab Rara.

__ADS_1


"Baiklah, tapi ijinkan aku mendaki gunung lagi ya," pinta Ray


Rara hanya mengangguk, dia tidak sanggup menolak jika Ray yang mendaki gunungnya.


__ADS_2