Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Modus Ray tanpa henti


__ADS_3

"Sudah jangan heran, dia memang raja modus," kata Revan


"Baru tau aku, orang dingin seperti dia bisa juga jadi raja modus," timpal Rehan.


Tak ingin mengganggu, Rehan dan Revan pamit keluar, Revan melakukan penjagaan ketat di depan kamar perawatan Ray, karena takut jika sewaktu-waktu terjadi apa-apa dengan Ray.


"Pak Ray makan rotinya dulu," kata Rara lalu menyodorkan roti ke mulut Ray.


"Kenapa pakai tangan?" protes Ray


"Lebih sehat pakai tangan," sahut Rara.


"Aku nggak mau roti, taruh saja," timpal Ray


Rara sungguh kesal, tadi minta roti sekarang malah nggak mau.


Tak berselang lama ada perawat yang bertugas untuk menyeka tubuh Ray, karena perawatnya perempuan Ray meminta Rara yang menggantikan pekerjaannya.


"Keluarlah biar sekretaris aku yang membersihkan tubuhku," titah Ray


Rara membolakan matanya, bagaimana bisa Ray memintanya menggantikan tugas dari perawat.


"Sudah jangan bengong, lakukan saja," ucap Ray.


Rara kini mulai melepas satu persatu kancing baju Ray, melihat tubuh Ray membuat Rara menelan salivanya.


Dia memencet bagian tubuh yang berbentuk kotak-kotak tersebut.


"Keras sekali," gumamnya dengan tertawa.


"Celananya juga lepas," kata Ray yang membuat Rara membola.


"Pak saya ini sedang membersihkan tubuh anda bukan yang lainnya," sahut Rara


"Kakiku juga butuh dibersihkan," timpal Ray.


"Apa anda tidak bisa membuka celana anda sendiri pak?" tanya Rara


"Nggak bisa," jawab Ray


Dengan hati-hati Rara membuka ikat pinggang Ray,


"Jangan sampai aku menyentuhnya," gumam Rara


Kini dia mulai membuka pengait celana dan mulai membuka resletingnya.


Rara yang gugup menghentikan kegiatannya, dia membalikkan badan dan memegangi dadanya yang sedari tadi dag dig dug tak karu-karuan.


"Kenapa berhenti?" tanya Ray


Rara membalikkan badannya dan terkekeh, "Iya pak, ini mulai lagi tadi ada gangguan dengan jantung saya," jawab Rara lalu membuka celana Ray.

__ADS_1


"OMG, besar sekali," kata Rara yang melihat sesuatu yang menonjol dalam celana pendek ketat yang dipakai Ray.


"Anda tidak menyuruh saya untuk melepas celana pendek anda kan pak?" tanya Rara


"Kalau kamu mau silahkan," jawab Ray.


"Nggak nggak pak," sahut Rara


Kini Rara mulai mengambil washlap dan mulai menggosok tubuh Ray, karena gugup Rara menggodok sekilas dan langsung menyudahi aksinya.


"Apa-apaan, kenapa cepat sekali selesainya," protes Ray


"Pak, ya memang seperti itu, jangan lama-lama nanti bisa masuk angin," alasan Rara.


Kini Rara memakaikan baju yang rumah sakit sediakan, setelah membersihkan tubuh Ray dia yang membersihkan tubuhnya.


"Kamu nggak ganti baju?" tanya Ray


"Ini saya mau pulang pak, untuk ambil baju ganti. Pak Ray nggak apa-apa kan saya tinggal sebentar?" jawab dan tanya Rara.


"Ya apa-apa," jawab Ray


"Biar Revan yang membelikan baju buat kamu," imbuh Ray


"Nggak usah pak, kan cuma sebentar." Rara mencoba bernegosiasi, namun Ray tetap bersikeras untuk menyuruh Revan. Dimana-mana tetap bos yang menang, sekeras apapun kita menolaknya tetap bos yang menang.


"Baiklah pak," kata Rara pasrah.


"Biar anda nggak bisa tidur pak, panas panas tu lihat Rara berpakaian seperti ini," kata Revan dengan tertawa.


Seusai memberikan baju pada Rara, Revan pamit untuk pulang, kalau ada apa-apa Rara disuruh menghubungi Rehan.


"Baiklah pak Revan," kata Rara


Rara kini melihat baju yang dibelikan Revan dan betapa kagetnya dia kalau baju yang dibeli Revan adalah baju tidur tipis dengan lengan sebahu.


"Astaaga pak Revan," kata Rara dengan kesal.


"Kenapa?" tanya Ray


"Pak Revan membalikan baju saya seperti ini pak," jawab Rara dengan memperlihatkan baju tidurnya pada Ray.


Ray yang sejatinya lelaki normal tentu suka dengan baju yang dipilihkan oleh Revan, dia mengerti sekali kalau Ray juga butuh cuci mata.


"Pakai saja," kata Ray


"Nggak pak, nanti bapak nafsong lihat saya," sahut Rara


"Nggak," timpal Ray


Ray terus memaksa Rara sehingga mau nggak mau Rara memakai baju tidurnya tesebut.

__ADS_1


Saat dia keluar dari kamar mandi, bola mata Ray sedikit melebar, namun dia berusaha tenang meski bagian bawahnya tidur nyut nyutan sedari tadi.


"Ya sudah pak, saya tidur dulu," pamit Rara


"Tunggu, tiba-tiba kaki aku pegal sekali, bisa kamu memijatnya?" tanya Ray


"Panggil dokter Rehan saja pak, siapa tau itu efek dari alergi pak Ray," jawab Rara


"Aku maunya kamu yang memijat aku," titah Ray


Rara sungguh kesal sekali dengan Ray, bagaimana bisa dia bersikap seenaknya sendiri.


Rara yang kesal mendekat lalu memijat kaki Ray, dia memijat dengan keras bahkan kuku-kuku Rara membuat Ray kesakitan.


"Sakit Ra," kata Ray


"Saya bukan tukang pijat pak Ray jadi nggak bisa memijat dengan baik dan benar," sahut Rara.


"Ya sudah, mendekat lah," titah Ray


Rara pun mendekat, dan tanpa aba-aba Ray langsung saja melahap bibir Rara, kali ini Rara juga menikmati pautan bibir Ray, tangan Ray yang berkelana juga dibiarkan, apa ini tandanya dia sudah menerima Ray?


Raka kini sungguh pusing dengan permasalahan yang kini di deritanya, wanita yang dia cintai dicurigainya telah berselingkuh.


"Sulit aku percaya Sheryl, tapi aku tetap berharap kecurigaan aku ini hanya rasa cemburu berlebih," gumam Raka.


Raka kini menyuruh anak buahnya untuk mencari tau siapa Riad itu, beberapa waktu kemudian banyak sekali nama Riad beserta foto yang dia terima.


"Siapa dia sebenarnya," ucap Raka


Saat menerima foto dan biodata terakhir, Raka sungguh kaget karena Riad adalah seorang pesepak bola yang harus bertahan di Indonesia karena tidak memiliki uang untuk kembali ke negaranya.


"Aneh," batin Raka.


Raka meminta anak buahnya untuk mencari tahu dimana Riad ini tinggal dan pekerjaannya selain menjadi pesepak bola namun semua akses Riad seperti ada yang menutup.


"Apa yang terjadi sebenarnya," gumam Raka


Saat galau memikirkan Riad, tiba-tiba ada pesan dari anak buahnya yang mengatakan kalau bisnis barunya melambung tinggi, sahamnya naik pesat dan ini membuat Raka senang dan melupakan permasalahannya dengan Sheryl.


"Tunggulah Raymond, aku yakin bisa menyaingi kamu," batin Raka dengan tertawa.


Permainan Ray sungguh membuat Raka terbang ke awan dan permainan lainnya membuatnya jatuh ke dalam jurang yang dalam.


Di Korea Sheryl dan Riad bersenang-senang bak pasangan pengantin baru, dia dan Raid berpanas-panasan di tempat tidur, suara-suara nikmat Sheryl menggema di seluruh kamar.


Sungguh bagian bawah Riad yang berukuran XXL mampu mengobrak abrik bagian bawah Sheryl, cara main Riad nak pemain film biru yang mampu mempraktekkan berbagai gaya berbeda dengan Raka.


"Aku sungguh puas sayang, puas sekali," kata Sheryl


"Kalau kamu puas denganku tinggalkan calon suami kamu, jadi kita nggak usah bersembunyi-sembunyi seperti ini." Riad mencoba memprovokasi.

__ADS_1


"Sebatas harapanku, aku hanya mohon pengertian kamu, bahwa aku ingin memilikimu seutuhnya," imbuh Riad.


__ADS_2