
Saat mengambil bayinya tiba-tiba......
Tangan Raya memegangi tangan Revan, sontak semua yang ada di sana membolakan matanya, mereka tidak percaya kalau Raya bangun dari tidurnya. Rehan sungguh senang karena dia bisa menyelamatkan istri temannya.
"Alhamdulillah ya Allah," ucap Rehan dengan syukur.
Revan yang senang juga langsung memeluk sang istri, dia sungguh bahagia karena Raya kembali lagi.
Akhirnya Revan tidak jadi duren alias duda keren.
Dengan menangis Raya memeluk bayinya, sedari tadi tangis bayinya lah yang menuntun Raya untuk kembali.
Dia yang ingin pergi tiba-tiba mendengar tangis bayinya sehingga dia memutuskan untuk kembali lagi dan menenangkan bayinya.
Rara dan Ray juga nampak senang, Rara pun segera mendekat dan mencubit Raya.
"Beraninya kamu membuat aku jantungan, kalau kamu beneran pergi kemana aku harus mencari teman yang menyebalkan seperti kamu," kata Rara dengan menangis haru.
Dia pun memeluk Raya dengan tangis yang pecah.
"Jangan lakukan ini lagi Raya," bisik Rara
"Maaf," ucap Raya dengan lirih.
Karena kondisi Raya yang masih lemah, Rehan mengambil si bayi yang masih berada di atas dada Raya.
"Biar dia minum susu formula dulu, mengingat kondisi kamu yang masih lemah tentu belum bisa memberikan asi eksklusif," kata Rehan
Revan segera menutup dada Raya dengan selimut dia tidak ikhlas kalau kedua temannya menikmati dada indah milih istrinya.
"Telat, daritadi aku sudah melihatnya," sahut Ray
__ADS_1
Revan melirik Ray dengan kesal,
"Mending telat daripada kamu keenakan lihat dada Raya terus," omel Revan
Rehan hanya bisa menggelengkan kepala, saat geting begini masih saja mikir hal itu.
"Sudahlah Revan, lagian kami ini bernafffffsssssu dengan istri kami sendiri mana mungkin kami bernaffffssssu melihat istri orang," timpal Rehan
"Mana mungkin selimut tetangga bisa menghangatkan kami," imbuh Rehan
"Lagian dada seperti papa selancar siapa juga yang nafsssssssuuuu," kata Ray yang membuat Revan emosi.
"Sembarangan, meskipun nggak besar tapi nggak datar-datar amat," omel Revan tak terima.
Mereka bertiga malah berdebat soal dada yang nggak penting sehingga Rara mengambil bayi Revan dari tangan Rehan.
"Sini biar aku yang membawa bayinya ke ruang bayi, saat seperti ini kok sempat-sempatnya debat soal dada," omel Rara
Dia menggendong bayi mungil tersebut menuju ruang perawatan bayi, Rara meminta perawat untuk memberikan bayi Raya susu formula.
Dia memberikan bayi Raya kepada perawat, karena bayi mungil tersebut keliahatannya sangat lapar.
Rara kembali ke ruang operasi, di sana nampak ketiga lelaki somplak ini masih berdebat,
"Astaga," gumam Rara
Rara menggelengkan kepala sambil berjalan menuju bed dimana Raya berbaring. Dia mengelus bahu Raya mencoba menenangkan sahabatnya tersebut.
"Biarkan ketiga lelaki somplak ini berdebat, bentar lagi dokter kesini untuk memindahkan kamu ke ruang perawatan," kata Rara
Raya hanya mengangguk lemah.
__ADS_1
Tak berselang lama dokter datang dengan bidan dan perawat, para dokter nampak shock bagaimana bisa orang yang sudah meninggal hidup kembali.
"Its miracle dokter Rehan," kata para dokter.
"Iya, seharusnya tadi kalian melakukan kontak fisik antara bayi dan ibunya bukannya pasrah. Kita ini dokter, seharusnya kita melakukan apapun untuk menyelamatkan pasien bukannya pasrah seperti tadi," ucap Rehan
"Iya Dok, maafkan kami," timpal dokter dengan menundukkan kepala.
Rehan memerintahkan Dokter untuk segera memindahkan Raya ke ruang perawatan, dia juga meminta supaya Raya dirawat secara eksklusif agar cepat pulih.
"Ingat debat kita belum selesai, kalian kan tau diantara para istri kita bertiga tetap Rea lah yang aduhai," ucap rehan
"Mana boleh seperti itu, Rea itu ga seger. Ibarat tanaman dia itu layu," ejek Ray
"Halo, apa kabar dengan Rara. Apa kamu buta kalau istri kamu itu kecil, pendek seperti kurcaci," ejek balik Rehan
"Kalian ini, sudahlah nggak ada yang seperti istriku. Tinggi semampai, cantik, seorang pengacara terkenal, top pokoknya." Revan membanggakan istrinya
"Alah, dada rata aja bangga," sahut Ray
Lagi-lagi mereka bertiga berdebat, sungguh keterlaluan memang tapi ya beginilah trio R yang somplak.
Revan yang kesal lebih memilih ke kamar perawatan sang istri, gara-gara debat unfaedah dia melupakan istrinya yang baru pulang dari alam barzah.
"Maafkan aku sayang, gara-gara Rehan dan Ray aku sampai lupa padamu," kata Revan dengan memeluk istrinya yang berbaring.
"Kalian ini trio ngak ngak yang somplak, saat geting seperti ini bisa-bisanya malah debat. Hey ingat setiap orang punya kelebihannya masing-masing. Nggak aku, Raya maupun Rea, kami memiliki kelebihan masing-masing," omel Rara
"Iya Bu Presdir, ini semua Ray yang memulai," sahut Revan tak terima.
"Kamu juga," sahut Ray dan Rehan yang baru datang.
__ADS_1
Rara hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dasar,"