
Rara sungguh bingung dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi?
Dia menatap kedua lelaki di depannya secara bergantian.
"Jadi kalian mempermainkan aku?" tanya Rara dengan amarah yang meletup-letup.
Leo dan Ray saling pandang mereka sudah merasakan hawa amarah dari Rara.
"Mati saja sana!" teriaknya dengan menangis
"Dan untuk kamu Leo, jangan mengharapkan gaji untuk enam bulan ke depan," kata Rara dengan menatap Leo.
Dari luar nampak Rehan dan Revan tertawa ngakak karena mereka berhasil membuat Rara mengungkapkan isi hatinya.
"Jangan gitu Ra, tadi kamu bilang kalau dia mati siapa yang mencumbu kamu, siapa yang peluk dan cium kamu, siapa yang menyodok kamu la sekarang kok disuruh mati lagi," kata Revan
"Nanti malaikat balik arah dan mencabut nyawanya beneran gimana?" sahut Rehan
"Ga ada yang nyodok dia lagi dong," timpal Revan
"Gila dia pikir main bilyard sodok menyodok," ucap Rehan dengan tertawa.
Mendengar ejekan dari Rehan dan Revan membuat Rara malu dan berjalan menuju pintu.
"Jangan pergi sayang!" teriak Ray lalu turun dari bed.
Karena otot-ototnya masih kaku membuat Ray tersungkur.
"Aaaahhhh," teriaknya
Ray yang menoleh dan segera berlari untuk membantu Ray.
__ADS_1
"Mau apa? tua kalau masih sakit sok sok an turun segala," omel Rara yang berusaha mengangkat tubuh sang suami.
"Jangan pergi, please!" pinta Ray dengan mata yang basah.
Rara menggelengkan kepala dengan mata yang basah juga.
Tak tahan menahan kerinduannya pada sang istri Ray pun memeluk tubuh Rara.
"Aku sangat merindukan kamu," bisik Ray
"Aku juga," sahut Rara dengan menangis.
Prahara rumah tangga mereka membuat mereka menekan rasa rindu yang setiap hari menggerogoti hati mereka.
Keegoisan dari masing-masing membuat mereka seakan jauh.
Ray yang melahap bibir mungil sang istri yang sudah sangat lama tidak dia nikmati, bibir yang menjadi candu buatnya hampir saja terlupakan.
"Brengsek!" umpat Revan
"Ayo kita keluar sebelum kita melihat hal yang lebih jauh," ucap Revan
"Ayo Leo," teriak Rehan
"Mungkin dia mau menunggui bos nya enak-enak," sahut Revan.
Leo yang tidak ingin melihat adegan dewasa atasannya Leo memilih ikut Revan dan Rehan keluar.
Di luar ternyata ada Ken Steven yang ingin menjenguk Ray, dia mendapatkan berita dari bodyguard Rara.
"Papa," sapa Rehan
__ADS_1
"Kamu ada di sini Re," ucap Ken Steven heran karena menantunya berada di Amerika.
Mereka mengobrol sambil duduk, sedangkan Ken steven berada di depan pintu ruang rawat perawatan Ray.
"Iya ada urusan yang harus Rehan selesaikan pa," ucap Rehan.
"Ya sudah papa masuk dulu," kata Ken Steven lalu membuka pintu
"Jangan!" teriak mereka bertiga barengan.
Ken Steven terlanjur membuka pintu dan dia juga harus menyaksikan Ray melahap habis bibir istrinya.
"Dasar! masih sakit juga sudah aneh-aneh," kata Ken lalu menutup pintu kembali.
"Maklum paman mereka lama tidak bersua," sahut Revan
Mereka semua akhirnya menunggui Ray dan Rara yang asik melepas rindu mereka.
"Sudah sayang," kata Rara dengan mendorong tubuh Ray.
"Tapi aku masih belum puas," sahut Ray yang enggan melepas pautannya.
"Tapi nggak enak ma mereka," timpal Rara
"Di enak-enakkin aja, nggak usah nggak enak ma mereka lagian mereka juga pasti maklum," kata Ray
"Kita lanjut di rumah ya, sekalian kita main," imbuh Ray
"Main apa!" tanya Rara
"Main itu lama kan aku nggak bekerja," jawab Ray
__ADS_1
"Nggak, selama sebulan ke depan ga ada main-mainan. Ini hukuman buat kamu yang telah membohongi aku," ucap Rara yang membuat Ray melemas.
"Astaga bisa mati aku!"