Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Cinta jangan buru-buru


__ADS_3

Mendengar kata cinta dari Ray membuat Rara mendorong tubuh Ray, dia menatap Ray sesaat.


"Yakin cinta pak? kalau cinta tadi kenapa pak Ray mendorong saya hingga jatuh, tunggu-tunggu pasti ada udang dibalik rempeyek," kata Rara sambil mengusap air matanya.


Ray melongo, dia yang salah atau gimana sih. Ray yang tidak pernah menyatakan cinta pada wanita agak bingung. "Menurut kamu aku cinta apa nggak sama kamu?" tanya Ray balik yang membuat Rara tersenyum.


"Mungkin, tapi saya butuh pembuktian. Lagipula saya juga mau resign dari sini," jawab Rara.


Ray tersenyum miring saat mendengar Rara yang ingin resign dari perusahaannya.


"Memangnya kamu sanggup membayar denda saat kamu resign dari sini?" tanya Ray


"Sanggup, tiga puluh milyar kan?" jawab dan tanya Rara balik.


Ray tertawa keras, untung tadi dia sudah menyuruh Revan mengganti nominal denda Rara, meski terlihat licik namun sah sah saja.


"Kamu yakin 30 milyar?" tanya Ray dengan mengangkat dagu Rara


"Memangnya berapa?" tanya Rara balik yang sudah mencium bau-bau kelicikan Ray.


"300 milyar," jawab Ray


Rara tentu shock mendengar jawaban Ray, mana ada denda sebanyak itu.


"Pak anda keterlaluan!" maki Rara


"Kamu selamanya tidak akan lepas dari aku," ucap Ray


Dia kini ancang-ancang untuk mencium Rara namun secepat kilat Rara menghindar.


"Maaf pak Ray, hukumannya libur dulu," kata Rara yang membuat Ray kesal.


"Tadi minta dihukum sekarang nggak mau," protes Ray


"Itu tadi pak Ray, sekarang beda lagi, saya mau lihat keseriusan pak Ray demi mendapat hukuman dan cinta dari saya," sahut Rara


"Brengsek kamu Ra," timpal Ray kesal


"Eh masa bicara dengan orang yang dicintai brengsek-brengsek gitu" ucap Rara lalu mendorong tubuh Ray menjauh dari mejanya.


Pusing memang melihat sikap mereka yang bulet nggak jelas, namun Ray kini akan berjuang demi cintanya dia tidak ingin kehilangan wanita yang membuatnya terbuai, wanita yang membuatnya gila dan wanita yang membuatnya rela melakukan apapun.


"Baiklah aku pastikan seminggu kemudian kamu sendiri yang datang padaku meminta hukuman," kata Ray lalu kembali ke mejanya.


Di kota lain Raka yang sibuk mengurusi bisnis barunya hampir melupakan Sheryl, dia sangat puas dengan melejitnya bisnis baru yang dia geluti.


"Tunggulah Raymond Toretto sebentar lagi aku akan bisa menyaingi kamu," kata Raka.


Saat asik senyum sendiri pengacara Raka datang menemui Raka.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Raka


"Kebetulan saya berada di kota ini jadi sekalian mencari anda karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan pak," jawab Pengacara Raka


"Apa?" tanya Raka balik


"Dua hari lagi anda harus datang ke pengadilan pak," jawab pengacaranya.

__ADS_1


Raka membolakan matanya, heran kenapa dia harus ke pengadilan perasaan dia tidak tersandung kasus apa-apa.


"Ada masalah apa memangnya?" tanya Raka


"Mantan istri anda mengajukan gugatan untuk mengambil warisan yang jatuh ke tangan anda pak," jawab pengacara Raka


Brak


Raka menggebrak meja dengan keras, dia sungguh tidak percaya kalau Rara melakukan itu.


"Bagaimana dia bisa menggugat aku, bukannya perjanjian pra nikah dia yang melanggar," teriak Raka tidak terima.


Raka yang tidak ingin memberikan harta pada pemiliknya memutuskan untuk kembali ke kotanya saat itu juga.


"Ayo ikut aku." Raka mengajak pengacaranya.


"Iya pak, kebetulan saya tidak membawa kendaraan," sahut pengacara Raka.


Sepanjang perjalanan Raka terus memukul-mukul setir mobilnya dan pengacara Raka yang kebetulan turut menemani Raka ikut khawatir.


"Jika mantan istri anda berhasil mendapatkan warisannya kembali itu artinya anda juga harus memberikan sebagian harga anda kepadanya dan sebagiannya lagi untuk kegiatan sosial," kata Pengacara Raka.


"Diam! mana mungkin itu terjadi," teriak Raka tak terima.


Raka sungguh was-was, dia heran bagaimana semua bisa terbongkar, padahal Raka sudah melenyapkan semua barang bukti.


"Mungkin saja, bukankah dia adalah kekasih Raymond Toretto?" kata Pengacara yang semakin membuat Raka galau.


Dia menghubungi anak buahnya untuk mencari tau dimana Rara tinggal dan beberapa saat kemudian mereka mengirimkan alamat Rara.


Raka membaca pesan yang dikirim anak buahnya dan betapa kagetnya dia saat tau Rara tinggal di sebuah apartemen yang cukup mewah.


Raka dan pengacaranya akan mendatangi apartemen Rara, dia ingin menanyakan perihal gugatan Rara padanya.


Setelah kurang lebih tiga jam, kini Raka telah sampai di apartemen Rara, dia langsung naik dan setibanya di depan unit apartemen Rara, Raka memencet bel namun tidak ada yang membukakan pintu, berkali-kali Raka memencet bel namun tidak ada yang membukakan pintu.


"Kemana dia," kata Raka


Saat hendak pergi Rara baru datang, Rara tersenyum sinis melihat Raka, ingin sekali mencakar wajah mantan suaminya tersebut.


"Rara," panggil Raka


"Mas Raka," balas Rara


"Kamu kok ada di sini?" tanya Rara


"Aku ingin bicara," jawab Raka


Rara sudah menduga kalau Raka ingin bicara mengenai gugatannya.


Pengacara Raka yang tiba-tiba ada urusan mendadak pamit terlebih dahulu.


Rara membuka pintu dan mempersilahkan Raka masuk.


"Duduk mas," titah Rara


Raka memutar bola matanya, dia melihat setiap sudut apartemen Rara.

__ADS_1


"Hebat kamu Ra, punya apartemen sendiri," puji Raka


"Ini masih nyicil mas," ucap Rara


"Mana mungkin nyicil, Raymond itu kaya," sahut Raka


"Dia yang kaya mas bukan aku," timpal Rara.


"Kamu kok tau aku tinggal di sini?" tanya Rara kemudian.


"Aku mencari tau dimana kamu tinggal," jawab Raka


"Oh ya ada urusan apa, hingga kamu repot-repot mencari aku?" tanya Rara yang sebenarnya dia sudah tau maksud dan tujuan Raka menemuinya.


"Apa maksud kamu menggugat aku Ra?" tanya Raka balik.


"Mas mas, kenapa kamu masih pura-pura," jawab Rara dengan tertawa.


"Pura-pura gimana maksud kamu Ra?" tanya Raka pura-pura bodoh.


"Bukankah malam itu kamu yang menjebak aku," jawab Rara


Raka tertawa, dia tidak tau kalau Rara sudah memiliki bukti lengkap sekaligus bukti perselingkuhan dirinya dengan Sheryl.


"Mana mungkin aku menjebak kamu Ra," kilah Raka


"Mas mas, kenapa masih saja mengelak," sahut Rara


"Mengelak? apa maksud kamu Ra?" tanya Raka yang membuat Rara semakin muak.


"Kamu tau siapa yang tidur denganku malam itu?" tanya Rara


"Mana aku tau, dia kan selingkuhan kamu," jawab Raka.


"Raymond Toretto," ucap Rara yang membuat Raka membola.


"Sekarang dipikir pakai nalar aja lah mas, Raymond itu siapa dan aku siapa, menurut kamu apa mungkin dia mencintai istri orang, kenal saja aku nggak.


Dan kamu pikir pakai otak kalau aku niat selingkuh nggak mungkin aku membawa selingkuhan aku di kamar yang kamu pesan, karena berbahaya jika sewaktu-waktu kamu datang dan masuk," jelas Rara


"Kan siapa tau Ra, apa ini akal-akalan kamu menjebak aku Ra," kata Raka


"Mas mas kamu pintar sekali memutar balikkan fakta, kita lihat besok saja di pengadilan, biar hakim yang menentukan semua," ucap Rara.


Rara yang ingin istirahat meminta Raka untuk pulang, "Pulanglah mas," pinta Rara


Raka berdiri lalu memeluk Rara, "Aku mencintai kamu Ra dengan segenap jiwa dan ragaku," kata Raka


Spontan Rara mendorong tubuh Raka, "Jangan bicara cinta, justru aku lah yang mencintai kamu dengan tulus dan segenap jiwa ragaku.


Aku rela menjadi boneka kamu mas, kamu bilang apa aku nuruti semuanya tapi apa balasan kamu, kamu yang selingkuh tapi malah menuduh aku," teriak Rara


"Kamu salah Ra," kilah Raka


Rara yang tidak ingin mendengar kata-kata Raka mendorong tubuh Raka keluar lalu dengan keras menutup pintu.


"Aku menyesal mencintai lelaki bejad seperti kamu mas," kata Rara kemudian mengusap air matanya.

__ADS_1


"Air mataku ini bukan buat laki-laki seperti kamu,"


__ADS_2