
"Astaga, kenapa mereka berdua sama-sama gila?" batin Rara.
Saat asik mengobrol dengan Rara tiba-tiba ponsel papa Raka berbunyi dan ini membuat papa Raka izin keluar untuk mengangkat telpon.
Rara yang hanya melihat Raka terdiam jadi iba bagiamana pun juga Raka pernah mengisi hatinya.
Rara mendekati Raka yang duduk terdiam di sofa,
"Mas Raka, aku akan menikah lo. Kamu nggak ingin gitu sembuh dan hadir di acara pernikahan aku, memang sih aku tu benci banget sama kamu karena kamu telah menyakiti aku tapi kini aku akan berusaha menghapus dendam aku, aku ingin berdamai dengan diriku sendiri supaya semua kebencian dalam diri aku hilang," kata Rara.
"Lihatlah papa kamu, sudah tua. Kita sebagai anak seharunya bisa membahagiakan orang tua kita bukannya malah menyusahkan mereka," imbuh Rara dengan menatap Raka.
Tiba-tiba Raka menangis, air matanya jatuh dan ini membuat Rara heran. Dia pun pergi keluar untuk memanggil papa Raka, dan kebetulan papa Raka telah selesai menerima telpon
"Pa, mas Raka menangis," kata Rara
Papa Raka segera masuk ke dalam kamar anaknya, dan benar saja Raka menatapnya dengan menangis.
"Kenapa dia bisa menangis Ra?" tanya Papa
"Rara hanya berbicara sedikit pa, dan mas Raka langsung menangis," jawab Rara
"Dia merespon kamu Ra," ucap papa Raka dengan bahagia.
Papa Raka segera menghubungi Dokter dan memintanya untuk memeriksa anaknya.
Dan dokter bilang kalau ini awal yang bagus karena dia sudah bisa merespon kata orang sekitarnya.
"Terima kasih Ra," kata papa Raka dengan bahagia.
Dia berharap Raka akan sembuh dan beraktivitas seperti sedia kala.
"Sama-sama pa," sahut Rara
"Boleh nggak papa minta sesuatu Ra?" tanya papa
"Apa pa?" tanya Rara balik
"Bisa nggak kamu datang kemari untuk mengajak Raka mengobrol siapa tau dengan kamu ajak komunikasi dia akan sembuh Ra," jawab Papa dengan menangis.
"Tapi pa, Rara sudah memiliki calon suami, pasti calon suami Rara tidak mengijinkan Rara bertemu dengan mas Raka," sahut Rara dengan tak enak.
Mendapatkan penolakan dari Rara membuat papa Raka berlutut di hadapan Rara, "Kasihanilah papa Ra, Raka bersikap kurang ajar itu karena papa salah mendidiknya, papa terlalu menyayangi Raka dari kecil sehingga membuat Raka menjadi anak yang susah diatur saat dewasa dan meski papa keras padanya itu tidak mengubah apapun. Semua papa lakukan karena dari kecil dia sudah ditinggal mamanya, jadi papa berusaha mungkin memenuhi apa yang dia inginkan. Maafkan lah dia Ra, biarkan dia sembuh, hanya kamu yang bisa menyembuhkannya," pinta papa dengan menangis.
Mata Rara ikut basah, kini dia serba bingung. Jika dia bilang pada Ray tentu Ray tidak akan mengijinkan Rara, tapi jika dia menolak kasian papa Raka, meski anaknya dulu menyakitinya namun papa Raka sangat sayang padanya. Semua dilakukan untuk membahagiakannya. Bahkan pemberian harta warisan itu dibuat juga untuk melindunginya yang justru itu disalahgunakan Raka untuk menjebaknya.
__ADS_1
"Baiklah pa, namun Rara tidak bisa setiap hari kesini," kata papa
"Tidak apa-apa Ra," sahut papa
"Sebisa Rara lah pa, setiap pagi saja Rara kemari," timpal Rara
"Terima kasih Ra," ucap Papa.
Tak selang berapa lama dokter datang untuk memeriksa Raka dan dokter bilang ini awal yang bagus karena Raka bisa merespon, dan ini tidak semua orang yang bisa direspon Raka.
Dokter meminta Rara untuk melakukan komunikasi terus supaya Raka bisa cepat sembuh.
Meski berat namun Rara mengiyakan titah dokter.
Karana sudah larut Rara pamit pulang, dan saat dia hendak menghubungi taxi online banyak panggilan tak terjawab dari Ray.
"Astaga ada apa dia menghubungi aku," guman Rara
Kini Rara segera pulang dan setibanya di rumah betapa kagetnya dia ternyata Ray berada di rumah orang tuanya.
Saat dia turun dari taxi online, Ray telah berdiri di ambang pintu dengan pandangan yang tak biasa.
"Pandangannya seperti harimau yang mengintai mangsanya," batin Rara.
"Sayang kamu di sini?" tanya Rara.
"Aku tadi ketemu temen, jadi kamu mengobrol dan lupa waktu," jawab Rara berbohong.
"Teman siapa? tanya Ray
"Raya? atau yang lain?" tanya Ray lagi
Rara nampak bingung ingin menjawab apa sehingga membuat Ray semakin marah.
Ray masuk ke dalam untuk pamit orang tua Rara karena dia ada urusan sama Rara dan mungkin Rara akan tidur di apartemen.
"Kita ke apartemen," ajak Ray lalu dia menarik tangan Rara dan memasukkannya ke dalam mobil.
Ray nampak marah,
"Kamu kenapa sih sayang, kan aku sudah bilang aku mengobrol dengan teman aku," kata Rara
"Kata Raya dia nggak bertamu kamu, kamu juga mengirim makanan untuk mama dan papa. Memangnya teman siapa yang membuat kamu lebih memilih mengirim makanan untuk orang tua kamu daripada kamu pulang sendiri," ucap Ray
"Teman aku kan nggak hanya Raya," kata Rara dengan menatap Ray.
__ADS_1
"Ah terpaksa harus mengeluarkan jurus itu," batin Rara
"Tepi kan mobilnya," ucap Rara kemudian.
Ray langsung saja menepikan mobilnya, dan diam.
Rara langsung beranjak dari tempat duduknya dan naik di atas pangkuan Ray.
"Maafkan aku, tadi sungguh aku bertemu dengan teman lama aku, dia bercerita tantang masalahnya hingga aku lupa waktu," bujuk Rara.
Rara membuka kancing baju Ray dan bajunya, dia juga mencium bibir Ray.
Seketika amarah Ray musnah, kini yang ada hasrat untuk bercinta.
"Kamu telah membangunkan singa yang sedang tertidur sayang," bisik Ray dengan menggigit kecil telinga Rara
"Kita bermain kecil sayang," bisik Rara balik
Rara kini melepas kemejanya, dan tentu bagian atasnya terekspos sempurna.
"Wao" ucap Ray dengan menelan salivanya.
Bibir Ray yang tidak kuat langsung saja menyambarnya, dan apa yang mereka lakukan selanjutnya hanya mereka yang tau.
Karena tidak ingin berhenti terlalu lama di jalan, Rara meminta Ray untuk mengantarnya pulang kembali, mood Ray yang kembali baik tentu mengabulkan keinginan Rara untuk kembali ke rumah orang tuanya.
"Lo Ray, Rara kalian kenapa kembali lagi?" tanya mama
"Maaf ma, Rara meninggalkan kunci apartemen di kamar, daripada bolak balik Rara tidur sini saja," jawab Rara dengan berbohong.
"Oalah begitu, ya udah tidur sini saja lagian kan kalau di apartemen tidur sendiri," sahut mama Rara.
Rara pamit sebentar untuk membersihkan diri, dia segera mandi lalu ganti baju dan kembali ke ruang tamu, mama dan papa yang tidak ingin mengganggu memilih masuk ke dalam.
"Sayang kita ulang yuk," ajak Ray
"Nggak nanti ketahuan mama dan papa," tolak Ray
"Nggak nggak sayang, sebentar saja," bujuk Ray
"Cium saja, nggak lebih." Rara melakukan negosiasi dan Ray langsung menyetujuinya.
"Baiklah," ucap Ray
Ray dan Rara pindah ke ruang tengah, Meraka berciuman dengan panas dan sialnya art melihat adegan panas mereka.
__ADS_1
"Astagfirullah non Rara,"