Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Hamil


__ADS_3

Sheryl terus saja menghubungi Riad tapi tetap saja nggak bisa, dia sungguh galau. Karena tidak bisa dihubungi Sheryl mencoba menerobos masuk dalam apartemen dan tentu orang suruhan Revan segera mengusir Sheryl keluar apartemen.


"Hey brengsek kalian, ini adalah apartemen calon suami aku jadi kalian nggak berhak mengusir aku," kata Sheryl dengan berteriak.


Orang suruhan Revan tentu bingung, apa mungkin wanita yang mereka usir adalah calon istri pemilik apartemen ini? atau hanya ngaku-ngaku saja? tak ingin larut dalam rasa bingung, salah satu dari mereka akhirnya menghubungi Revan dan bertanya terkait Sheryl namun Revan menyuruh mereka untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka dan langsung pergi dari sana tanpa menghiraukan Sheryl.


"Mohon maaf, pemilik apartemen ini tidak mengenali anda, Nona," kata salah satu orang suruhan Revan.


"Mana mungkin!" teriak Sheryl tak percaya


"Riad Ben Brahim mana mungkin tidak mengenali aku," imbuh Sheryl


"Mohon maaf tapi pemilik apartemen ini bukan Riad Ben Brahim," ucap salah satu orang suruhan Revan.


Deg....


Seketika tubuh Sheryl membatu, tadi Riad juga bukan CEO di perusahaan yang katanya miliknya sekarang apartemen yang biasa ditempati juga bukan apartemen miliknya. Lantas siapa sebenarnya Riad? dan sekarang dia ada dimana?


Sheryl sungguh bingung dan juga shock, kini kepalanya pun berputar-putar dan beberapa saat kemudian Sherly merasa gelap semua dan


Bugggg


Tubuh Sherly terjatuh ke lantai sehingga membuat panik orang suruhan Revan.


"Dia pingsan bagaimana ini?" tanya salah satu orang suruhan Revan.


Mereka yang bingung mencoba menghubungi Revan namun tidak dijawab oleh Revan.


"Coba lihat ponselnya, siapa tau ada keluarga yang bisa dihubungi," saran salah satu dari mereka.


Sementara satu di antara mereka melihat ponsel Sherly yang lainnya membawa tubuh Sheryl ke rumah sakit.


"Bagaimana?" tanya temanya.


"Kita hubungi Raka saja, dia sering menghubungi wanita ini," jawab teman satunya.


Mereka mencoba mengubungi Raka, namun tidak diangkat. Mereka mencoba lagi hingga ketiga kali baru diangkat oleh Raka.


Mendapatkan berita dari orang suruhan Revan membuat Raka panik. Raka meminta mereka untuk membagi lokasi mereka dengannya.


Setibanya di rumah sakit orang suruhan Revan membagi lokasi dengan Raka.


Mereka membawa Sheryl masuk dan meminta pertolongan.


Di kamarnya Raka terlihat panik karena Sheryl pingsan.


"Kenapa?" tanya Papa

__ADS_1


"Sheryl pingsan pa, jadi Raka harus menyusulnya ke rumah sakit," jawab Raka.


Papa hanya diam dengan menggelengkan kepala, tanpa berkata apa-apa beliau membiarkan Raka pergi. Beliau berharap semoga Raka sadar akan sikapnya dan mau melepaskan Sheryl.


Raka mengendari mobilnya cukup kencang sehingga sebentar saja Raka telah tiba di rumah sakit. Seusia memarkirkan mobilnya Raka berlari masuk, dia menuju ruang UGD sesuai pesan yang dikirimkan orang suruhan Revan.


Raka menghampiri orang berbaju hitam-hitam, "Apa kalian yang menghubungi saya?" tanya Raka


"Benar dan ini ponsel wanita itu," jawab orang suruhan Revan dengan menyodorkan ponsel Sheryl.


"Kami tinggal dulu," kata orang suruhan Revan lalu mereka semua pergi, sebenarnya mereka ingin pergi dari tadi namun dokter melarang mereka karena bagaimanapun juga mereka yang membawa sheryl ke rumah sakit.


Raka kini masuk dan bertanya pada dokter,


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Raka


"Selamat ya pak, istri anda hamil," jawab dokter dengan tersenyum.


"Untuk lebih jelasnya anda bisa memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan, untuk usianya sendiri perkiraan saya baru sekitar tiga minggu sampai satu bulan," imbuh dokter


Tubuh Raka bagai tersambar petir, dia tak menyangka Sheryl hamil anak Riad, dia memang tidur dengan Sheryl namun Raka masih suntik hormon sehingga Sheryl tidak akan hamil.


Raka keluar ruang UGD, dia mengusap matanya yang basah, lagi-lagi hatinya dibuat hancur Sheryl.


"Kalau sudah begini, aku benar-benar akan melepaskan kamu, semoga kamu bahagia dengan lelaki pilihan kamu," gumam Raka lalu dia kembali masuk dan meletakkan ponsel Sheryl di samping tubuh Sheryl yang masih memejamkan matanya.


Dengan langkah gontai Raka berjalan meninggalkan Sheryl di ruang UGD. Raka kini mengemudikan mobilnya sembarang. Entah mengapa mengetahui Sheryl hamil membuatnya ambyar, tidak ada lagi keinginan untuk mengemis cinta dan memperjuangkan Sheryl. Dia kini benar-benar mati rasa.


"Sadarkan aku Tuhan, dia bukan milikku," gumam Raka.


Saat Raka dan Sheryl tengah menderita karena cinta buta mereka berbeda dengan Rara dan Ray yang selalu dibuai asmara.


Ray kini berada di apartemen Rara, malam ini dia ingin sekali dihukum Rara, Rara yang sudah hafal dengan modus Ray memintanya untuk masak.


"Mana bisa aku masak," kata Ray


"Ya sudah kalau nggak mau, kan katanya jadi minta dihukum?" protes Rara penuh penekanan.


Ray hanya diam, dia enggan sekali untuk masak, dari kecil menyalakan kompor saja tidak pernah.


"Kalau nggak mau ya sudah, jangan pernah minta hukuman lagi padaku," ucap Rara berpura-pura marah.


Ray akhirnya pasrah, dan pergi ke dapur untuk masak.


"Cuma masak telur kan, kecil," kata Ray kemudian dia melihat tutorial merebus telur, "Oo begitu caranya," ucap Ray lalu dia menyalakan kompor.


Ray kini mengambil panci dan mengisinya dengan air kemudian memasukkan telurnya.

__ADS_1


"Astaga mudah sekali," ucapnya lalu duduk di kursi.


Rara yang belum mandi pergi mandi dulu dan membiarkan Ray yang sedang memasak seorang diri di dapur.


Tak berselang lama Ray sudah mengangkat telurnya, dan meletakkannya di meja makan.


"Kamu masak apa sayang?" tanya Rara


Ray menunjuk telur yang sudah dia sajikan di meja makan.


"Kamu rebus telur!" kata Rara


"Iya, aku masak telur itu," sahut Ray


Rara hanya menggelengkan kepalanya, semua telur miliknya direbus habis oleh Ray.


"Ya sudah ini semua kamu yang habiskan," ucap Rara


"Mana mungkin habis," protes Ray


"Kan tadi hukumannya masak? kenapa malah rebus telur?" tanya Rara


"Kan ini juga masak," protes Ray


"Tapi kan aku menyuruhnya memasak telur," sahut Rara


Ray yang kesal melempar lap yang dibawanya.


"Kenapa sih ribet, kalau ingin makan kita tinggal beli tanpa harus repot-repot masak. Kan dari awal aku bilang kalau aku tidak bisa masak tapi kamu maksa aku," maki Ray


"Kan kamu sendiri yang minta dihukum?" tanya Rara


"Tapi bukan hukuman masak, maksud aku hukuman yang lain," jawab Ray


"Hukuman apa?" tanya Rara


Aarrgggg


"Kamu memang nggak peka jadi wanita," kata Ray


"Kamu yang terlalu berbelit-belit," sahut Rara.


Ray yang kesal pergi meninggalkan Rara, dia berjalan menuju ruang tamu lalu dia merebahkan dirinya di sofa.


Dan saat asik rebahan ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk.


Saat membacanya Ray tersenyum puas.

__ADS_1


"Bagus, dia kini hamil tanpa lelaki di sampingnya, aku sungguh puas sekali," gumam Ray


"Kamu menghamili wanita?"


__ADS_2